
Matteo memeluk tubuh istrinya dari belakang, sambil menatap Zayn putra mereka yang sudah terlelap tidur di dalam box bayi.
"Zayn sekarang semakin menggemaskan. Lihat lah pipinya semakin berisi", ucap Renata tersenyum.
"Hem...sama seperti mu. Semakin menggemaskan", bisik Matteo sambil mencium leher istrinya.
"Sayang..."
"Hem. Apa kita sudah boleh bercin*a? Sudah lama sekali aku menahannya. Aku tidak puas jika kau hanya menyentuh milik ku dengan tangan dan mulut mu, sayang", ucap Matteo dengan suara serak menyapukan lidahnya pada leher Renata.
Renata memejamkan kedua matanya merasakan gelenyar dalam tubuhnya akibat godaan Matteo. Hari ini usia Zayn genap dua bulan. Sebenarnya Enam minggu setelah operasi caesar, dokter Regina sudah mengizinkan Renata berhubungan in*im, namun Renata merasa ketakutan dan perasaan cemas melanda dirinya.
Meskipun Matteo melakukan foreplay di zona e*otis tubuhnya namun saat Matteo siap memasuki pusat tubuh Renata, Renata langsung dihinggapi perasaan takut yang teramat sangat. Akhirnya Renata membantu Matteo mengeluarkan miliknya dengan permainan jemari tangan dan mulutnya. Mau tidak mau, puas tidak puas Matteo harus menerimanya. Matteo mengerti kondisi istrinya yang baru saja melahirkan pasti mengalami traumatis.
Renata menutup tirai berwarna putih box bayi Zayn. Kemudian ia menarik tangan suaminya kekamar mereka yang letaknya tepat di sebelah kamar Zayn.
Matteo menghembuskan nafas dan mengikuti langkah kaki Renata menuju kamar mereka.
Saat pintu tertutup rapat, Renata melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Sedangkan Matteo memeluk erat pinggang Renata. Keduanya berciuman mesra sambil melangkah kearah tempat tidur.
Perlahan Matteo merebahkan tubuh Renata. Tentu saja ia ingin malam ini berhasil memasuki istrinya. Hampir tiga bulan miliknya puasa menahan gairah.
Matteo membuka blouse longgar dan short pant yang dipakai Renata, ia juga menarik karet rambut istrinya, hingga rambut bergelombang Renata terurai di atas bantal berwarna putih bersih itu. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan membuat Matteo berdecak kagum menatap istrinya.
Matteo menyusuri setiap jengkal tubuh Renata. Meremas dan mencubit puncak gundukan kenyal wanita yang sangat dicintainya itu.
"Akh sayang...Matte"
"Oh Rena... tubuh mu semakin seksi, aku semakin menyukainya sayang. Apalagi di bagian ini", ujar Matteo sambil menghisap kuat dada istrinya. Sementara jemari tangannya mengusap lembut inti Renata.
"Akh...sayang". Suara yang terdengar indah lolos dari mulut Renata.
Tindakan Matteo sontak membuat tubuh Renata menggeliat bergerak ke kiri dan ke kanan. Gusar, dengan mulut terbuka mengeluarkan suara tertahan. Sementara jemari-jemari tangannya meremas rambut Matteo.
__ADS_1
"Akh—"
Matteo menatap istrinya. Menatap lembut penuh cinta. "Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku ingin segera memiliki anak lagi", bisik Matteo sambil me*umat bibir Istrinya yang terbuka dan melototkan mata indahnya saat merasakan benda berukuran besar hendak menerobos masuk ke inti nya.
"S-ayang lakukan pelan-pelan. Kita sudah lama tidak melakukan nya. A-ku..."
Renata tidak bisa melanjutkan ucapannya, mulut Matteo melahap dengan rakus bibirnya.
Menit berikutnya,
Kedua mata Renata terpejam menahan rasa sakit teramat sangat. "Ahh sayang. Ah", rintih Renata saat merasakan milik Matteo perlahan menerobos masuk pusat tubuhnya.
Sampai-sampai tubuh Renata terangkat bangun. Namun dengan cepat Matteo mendorong tubuh istrinya terlentang kembali di bawah kungkungan tubuh atletisnya.
Berhubungan in*im adalah hal rutin yang di lakukan pasangan suami-istri itu. Malahan semakin intens sebelum Renata melahirkan. Pasca melahirkan Zayn, malam ini yang pertama kalinya Matteo dan Renata bercinta lagi. Rasanya seperti malam pertama saja. Banyak drama jeritan yang lolos dari mulut Renata.
Sebelum persalinan urusan ranjang pasangan itu selalu bergairah. Malahan keduanya bisa bertempur berjam-jam lamanya dimana pun tempatnya, Layaknya seperti pengantin baru yang sedang dimabuk cinta. Namun setelah Renata melahirkan, Matteo harus bersabar menunggu istrinya siap.
Jemari tangan kokoh Matteo menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tangannya lagi-lagi terhenti di dada kenyal Renata. Meremas dan memutar-mutar puncaknya. Membuat Renata mengeluarkan suara mendesis nikmat dari bibirnya.
Sementara pinggul Matteo bergerak pelan di inti Renata. Maju-mundur hingga menekan lebih dalam lagi. Membuat Renata menjerit tak karuan.
"Ahh...Ahh M-MATE"
Tubuh Renata bergidik merasakan sensasi buaian Matteo di setiap jengkal tubuh nya. Sesaat men*esah detik berikutnya berganti dengan erangan. Begitu terus selanjutnya.
Nafas Matteo semakin menderu semakin cepat, menuntut lebih jauh. Bibirnya menjelajahi leher istrinya. Tangan kirinya meremas dada, sementara tangan kanan ikut bermain di inti Renata berbarengan dengan benda pusaka miliknya menyodok dengan keras inti Renata. Membuat wanita itu terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menggeliat dan mengelijang sambil me*esah tak karuan.
"A-ku mohon Matteo..," suara Renata terdengar tercekat dengan nafas tersengal-sengal tangannya menarik tangan suaminya dari intinya yang membuat miliknya berkedut dan menghisap kuat milik Matteo.
"Akh–"
Kembali terdengar suara bergetar Renata dengan hasrat yang kian membuncah. Tubuhnya memanas seperti ada bara api yang menyala di tubuhnya yang siap menyemburkan percikan api tersebut.
__ADS_1
Renata membalikkan tubuhnya, menindih tubuh maskulin Matteo yang saat ini berada dibawah tubuhnya. Perlahan Renata menggerakkan pinggulnya dengan lembut. Sementara jemari tangan Matteo memainkan pu*ing istrinya yang ikut bergerak seperti irama tubuh Renata. Tubuh seksi itu bergerak ero*is di atas tubuh Matteo.
Suara de*ahan dan erangan silih berganti terdengar memenuhi kamar mewah tersebut. Renata begitu menikmati permainan liar ia dan suaminya yang saling menginginkan dan membutuhkan.
Matteo membawa tangannya meremas dada Renata yang membusung begitu menantang, sementara bibirnya menciumi leher jenjang wanita itu. Matteo membuai tubuh istrinya.
"Akh...Owh...Ahh"
"Sayang kau sangat seksi sekali. Aku ingin memiliki banyak anak dari mu", racau Matteo dengan suara serak sambil memejamkan matanya menikmati permainan istrinya yang bergerak di atas tubuhnya. Gerakan Renata tak henti membuat laki-laki tampan itu mengeram.
"Hm...aku akan segera memberimu anak lagi", bisik Renata di telinga Matteo dengan suara bergetar hebat.
Keduanya terhanyut dalam pergumulan panas dan panjang.
*
Renata menyandarkan punggungnya pada dada bidang Matteo. Keduanya berpelukan mesra sehabis mereguk kenikmatan bercinta di malam itu.
"Apa aku menyakiti mu, hem?", tanya Matteo sambil mengecup pucuk kepala Renata. Sementara Renata mengusap lembut lengan Matteo yang melingkar di lehernya.
"Tidak sayang. Aku menyukainya. Kau sangat lihai menggodaku".
"Kau semakin menggairahkan di atas tempat tidur. Aku menyukai perubahan bentuk tubuhmu setelah melahirkan. Dada mu semakin besar", goda Matteo.
Ucapan Matteo membuat wajah Renata bersemu merah. "Kau membuat ku hilang akal kalau sudah seperti ini. Saat bercinta dengan mu, aku merasa seperti bukan diri ku saja. Kadang setelah nya aku malu sendiri membayangkan diriku begitu liar", ucap Renata melingkarkan tangannya pada leher Matteo yang ada di belakangnya.
Matteo mengangkat dagu Renata, mengecupnya mesra. "Aku menyukai permainan liar mu, asalkan hanya bersama ku kau melakukannya. Jangan coba-coba melakukan nya pada laki-laki lain", ucap Matteo kembali menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Renata.
"Tidak akan tuan posesif", balas Renata tersenyum menggoda suaminya.
...***...
To be continue
__ADS_1