
"Nona Angelica...?"
"Minggir ...!!"
"A-anda mau apa nona", ucap pelayan.
"Apa katamu, anda mau apa? Apa pantas kau bertanya seperti itu pada pemilik apartemen ini hah?!"
Sophia yang sedang merajut di dalam kamarnya sambil berbincang dengan perawat yang merawatnya kaget mendengar keributan di luar.
"Mia...ada apa ribut-ribut di luar?", tanya Sophia masih melanjutkan rajutannya.
"Nyonya tunggu saja di sini saya akan melihatnya", ucap perawat yang bernama Mia.
Wanita itu tepat berada dibelakang pintu, saat pintu terbuka dengan kasar hingga membuat tubuh Mia sedikit terhuyung kebelakang.
"N-ona Angelica?", ujar Mia kaget melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Oh...kau rupanya wanita yang melahirkan anak tidak tahu diri itu?", ketus Angelica sarkas. Sambil menatap tajam Sophia.
Perkataan Angelica sangat mengejutkan Sophia. Wanita paruh baya itu segera menghentikan pekerjaannya.
Sophia tersenyum saat tahu siapa wanita yang datang ke apartemen itu.
"Sekarang juga aku minta kau pergi dari apartemen ku ini", ketus Angelica sambil menunjuk kearah Sophia.
"Tidak nona. Tuan Matteo tidak akan mengizinkan nyonya Sophia pergi dari sini", jawab Mia.
"Siapa kau mengatur ku!"
"Tinggalkan tempat ini sekarang juga. Sebelum pergi kau lunasi dulu uang yang putri mu pinjam pada suami ku untuk operasi jantung mu itu", tegas Angelica dengan kasar.
"Sebenarnya ada apa nyonya? Renata mengatakan akan membayar uang itu pada anda dan suami anda nyonya", jawab Sophia berdiri dari tempat duduknya. Sorot matanya terlihat sendu menatap Angelica yang berdiri dengan berkacak pinggang. Sementara di belakangnya berdiri dua orang laki-laki bertubuh kekar sambil mencengkram bahu pelayan yang membukakan pintu bagi Angelica tadi.
"Apa katamu? Membayar? dengan apa? Dengan pesonanya yang sok polos itu? Heh.."
"Sayang sekali putri mu yang berwajah polos itu tidak seperti yang kau pikirkan", seru Angelica menatap tajam Sophia.
"A-pa maksud nyonya?"
"Kau ini ibu macam apa, anak menjual diri tidak tahu!", ucap Angelica dengan kasar.
perkataan Angelica sontak membuat Sophia terhenyak dan terduduk kembali ke kursinya.
__ADS_1
"Apa maksud nyonya? Renata tidak seperti itu", balas Sophia dengan suara tercekat.
"Hahahaaa....ibu dan anak sama-sama berwajah lugu tapi menggigit orang yang memberinya makan!", seru Angelica mendekati posisi Sophia.
"Putri kesayangan mu itu, menyewakan rahimnya pada ku demi mendapatkan uang. Kau tahu yang di lakukan pada ku sekarang? ia mengkhianati ku dengan bermain api dengan suamiku. Malah sekarang tinggal bersama dalam satu atap", teriak Angelica dengan suara meninggi.
"K-au salah nyonya. Renata tidak akan pernah melakukan perbuatan seperti yang nyonya tuduhkan. Putri ku tidak akan menyewakan rahimnya tanpa berbicara pada ku mamanya. Tidak...tidak. Renata tidak akan melakukan semua tuduhan anda nyonya. Putri ku tidak akan merusak rumah tangga orang". Sophia menyampaikan sanggahan atas tuduhan Angelica pada Renata.
"Sekarang Renata bekerja di luar kota, kalau tidak pasti ia akan menjelaskan kesalahpahaman ini, nyonya", jawab Sophia sambil menekan dadanya yang mendadak sesak. Nafasnya pun terdengar tak beraturan. Mia segera membantu Sophia dengan mengambil alat batu pernafasan.
"Aku tidak apa-apa, Mia. Segera hubungi putri ku sekarang, aku membutuhkan nya", ucap Sophia dengan suara terdengar sangat pelan.
"Saya mohon nona Angelica, kondisi nyonya Sophia sedang tidak stabil. Jangan membuatnya lebih parah lagi", ucap Mia dengan berani berdiri tegak di hadapan Angelica yang terlihat begitu angkuh.
"Usir mereka semuanya dari apartemen ku sekarang juga!", perintah Angelica dengan suara lantang pada dua orang pengawalnya.
"Baik nona.."
Kedua pria bertubuh kekar itu pun dengan sigap mendekati Mia yang sekuat tenaga berusaha berdiri tegap melindungi Sophia dari orang-orang jahat itu.
"Minggir! atau kau akan menanggung akibatnya jika menghalangi kami!"
"Tidak akan. Langkahi dulu mayat ku jika kalian hendak menyakiti nyonya Sophia!
Melihat Mia di sakiti membuat Susan pelayan berusaha menolongnya. Namun pengawal bertubuh kekar itu sangat kuat bukan tandingannya.
"J-angan S-akiti mereka N-yonya", ucap Sophia terbata-bata sambil menekan dadanya.
"Kau wanita tua, cepat pergi dari sini", teriak salah satu laki-laki itu. Sementara Angelica duduk dengan santai di sofa kamar sambil melihat handphone miliknya.
"B-Baik s-aya akan pergi. T-api jangan sakiti mereka", ucap Sophia memohon.
"Ah kau banyak omong, pergi sana", teriak seorang pengawal sambil mendorong tubuh Sophia hingga terhuyung. Beruntung Susan berhasil menangkap tubuh lemah itu.
*
Renata dan Matteo berjalan menuju unit apartemen Matteo tempat Sophia tinggal. Keduanya berjalan sambil berbincang-bincang.
Saat sampai di lantai tempat apartemennya, Matteo mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak terlihat seorang pun yang berjaga-jaga di lantai itu.
Sementara Renata tak menaruh rasa curiga sedikitpun. Ia terus saja berbicara.
Tepat di belakang Renata dan Matteo berjalan Arnold yang membawa tote bag berwarna merah berisi makan siang yang sudah di siapkan Rea.
__ADS_1
Hingga Matteo mendengar suara keributan samar-samar dari dalam apartemennya. Ia segera menahan Renata untuk tidak masuk dulu ke dalam. "Arnold ... hubungi keamanan. Kemudian ikut dengan ku kedalam", perintah Matteo.
Renata terlihat sangat ketakutan. Yang di pikirannya hanya Sophia. Matteo meminta Renata tenang dan menunggu di luar.
Matteo segera membuka handle pintu apartemennya. Dan melihat kearah kamar utama apa yang terjadi disana.
"Hei apa yang kalian lakukan!", teriak Matteo segera melangkah dengan cepat masuk ke kamar.
Mendengar teriakan Matteo membuat Angelica dan dua orang suruhan nya terkejut.
Sementara Mia dan Susan segera membantu merebahkan tubuh Sophia ketempat tidur dan merawatnya. Keduanya melihat kedatangan Matteo tepat waktu.
"Berani sekali kalian masuk ke apartemen ku teriak Matteo mengepalkan tangannya dan menghantam wajah dua pria suruhan Angelica. Kedua pria yang di bawa Angelica tak tinggal diam, mereka melawan namun Matteo yang berperawakan tinggi, atletis dan menguasai ilmu beladiri bukanlah hal sulit menghadapi keduanya.
Melihat suara keributan dari dalam membuat Renata segera masuk dan terkejut melihat kondisi mamanya sangat memprihatikan. Tanpa perduli dengan keberadaan Angelica yang menatapnya tidak suka, Renata segera menghampiri Sophia. "M-ama.."
Sophia menatap Renata namun tak bisa menjawabnya. Hanya tatapan penuh tanda tanya yang di berikan Sophia.
"Nyonya Sophia belum bisa diajak bicara sekarang, jantung nya mengalami syok", ujar Mia memberi tahu kondisi Sophia.
*
"Kau tidak berhak mengusirku, Matteo. Apartemen ini juga milik ku", teriak Angelica saat keamanan hendak menyeretnya.
"Kau lihat brengsek, aku bisa melakukan apa pun termasuk membayar orang-orang mu yang bodoh itu!", teriak Angelica.
Matteo tidak bisa menahan dirinya lagi, seketika tangannya mencengkram kuat leher Angelica. "Jangan coba-coba berurusan dengan ku lagi. Aku pastikan kau akan membusuk di penjara", balas Matteo sambil menekan kuat leher Angelica kemudian menghentakkan nya hingga wanita itu terhuyung dan terbatuk-batuk.
"Bawa ketiganya ke kantor polisi sekarang juga, pastikan ketiganya mendapatkan hukuman berat kasus penganiyaan yang sudah di rencanakan", ujar Matteo pada petugas keamanan.
Menit berikutnya Dominic tiba. Dan mengambil alih kasus itu.
Angelica masih berteriak-teriak saat dibawa petugas dan melewati Dominic yang menggelengkan kepalanya. "Kau sangat mengkuatirkan, Lica. Kau butuh psikiater".
"Aku tidak gila, brengsek! Aku pastikan akan memenangkan kasus yang kau ajukan. Dasar penjilat!", teriak Angelica pada Dominic.
Sementara sebagian penghuni apartemen yang mendengar keributan, hanya melihat sesaat untuk memastikan apa yang terjadi. Beruntung pada saat kejadian itu sebagian penghuni apartemen sedang beraktivitas di luar.
...***...
To be continue
Jangan lupa VOTE YA 🙏
__ADS_1