
Setelah berkendara sekitar lima puluh menitan mobil Laura memasuki gerbang menjulang yang terbuka secara otomatis.
Laura mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pemandangan begitu indah. Pohon rindang dengan putik-putik buah berwarna hijau dan bunga berwarna oren memanjakan mata yang menyusuri jalanan.
Namun karena suasana hati Laura begitu cemas seindah apapun suasana yang nampak di depan matanya saat ini tak membuatnya bahagia dan takjub.
Hingga netra hitamnya menatap bangunan megah di tengah lahan yang sangat luas berdiri kokoh di depan matanya.
"Rumah siapa ini?", gumamnya.
Laura memarkirkan mobilnya secara sembarangan saja. Yang ada di pikirannya saat ini segera bertemu dengan Qiana dan membawanya pulang.
Tanpa pikir-pikir lagi, Laura keluar dari mobil dan bergegas mencari pintu masuk. Saat melihat pintu dengan pilar tinggi sudah terbuka, Laura segera masuk ke dalam rumah asing itu.
"Nona Laura sudah datang?". Sapa seorang wanita paruh baya menyapanya dengan ramah.
Tanpa menggubrisnya Laura mencari-cari keberadaan Qiana.
"Qiana...
"Qiana...
Teriak Laura begitu kuat, membahana ke penjuru ruangan yang luas itu. Tak ada sahutan sama sekali.
"Nona...
"Jangan coba-coba menyembunyikan putri ku atau berurusan dengan hukum karena terlibat dalam penculikan anak ku!", ketus Laura bernada ancaman pada wanita paruh baya itu.
"Connors!!", teriak Laura dengan suara kencang.
"Connors!! Dimana putri ku. Kembalikan Qiana kepada ku brengsek!! Connors...!"
Laura berlari kesana-kemari mencari Qiana, hingga ia mendengar suara-suara ramai di bagian belakang mansion mewah itu. Cepat-cepat Laura kearah sumber suara yang sepertinya suara anak kecil sedang tertawa. Laura yakin itu salah satunya adalah putrinya Qiana, namun anak-anak itu tak terlihat. "Qianaa", panggil Laura berteriak.
__ADS_1
"Mommyyy ...Is that mommy?", sahut Qiana.
Laura keluar setelah melihat sebuah pintu yang terhubung dengan halaman belakang. Laura melihat putrinya Qiana dan Noah sedang bermain bola.
Qiana melihat kehadiran Laura segera memanggil Laura.
"Mommyyy..."
Qianaa yang masih menggunakan seragam sekolah nya berlari menghambur kepelukan Laura.
Laura tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat Qiana baik-baik saja. "Sayang mommy sangat mengkuatirkan mu, kenapa Qiana tidak menunggu mommy", ucap Laura memeluk putrinya erat-erat. Dan mencium-ciumi wajah Qiana seolah-olah sudah lama tak bertemu. Bahkan air mata Laura menetes dengan sendirinya saking bahagianya bertemu kembali dengan Qiana dalam kondisi baik-baik saja.
"M-ommy membuat ku sesak", protes Qiana ingin melepaskan pelukan erat Laura.
Barulah Laura tersadar. Laura mengendurkan pelukannya pada tubuh mungil Qiana.
"Mommy kenapa menangis?", tanya Qiana dengan tatapan polosnya menatap wajah Laura yang sudah basah.
"K-kau...?"
"Austin...?!"
Laura berdiri dari posisi jongkok nya dan menghampiri Austin yang menatapnya dengan wajah konyolnya itu. Dengan nafas memburu Laura berlari kearah laki-laki itu. Tanpa pikir panjang ia melepaskan tas sandangnya dan memukulkannya dengan keras ke tubuh Austin.
"Kau jahat sekali Austin. Kenapa kau membawa Qiana tanpa memberitahu ku terlebih dahulu", teriak Laura dengan kesal terus memukul tubuh atletis Austin.
Austin tertawa jahil melihat gadis itu kesal padanya. Terlihat jelas emosi yang membuncah di wajah Laura.
"Austin... kau membuat ku sangat ketakutan", teriak Laura kesal.
"Uhh, kau ini menyebalkan sekali Austin. Permainan mu sangat tidak lucu dan mendidik tau. Aku benci pada mu Austin", ketus Laura kesal sambil mengusap air matanya.
Saking senangnya mengetahui ternyata Qiana bukan di culik Connors tentu saja perasaan Laura sangat bersyukur. Sampai-sampai air mata bahagia itu menetes dengan sendirinya.
__ADS_1
Austin tertawa. Ia menangkap kedua tangan Laura yang terkepal memukul-mukul dada bidangnya. "Kalau tidak seperti ini, kau pasti tidak mau aku ajak kemari", ucap Austin memeluk tubuh gadis itu.
"Kau membuat ku sangat ketakutan, Austin. Bahkan ada laki-laki yang menghubungi ku saat aku mencari Qiana di sekolahnya", ucap Laura pelan nyaris tak terdengar. "Laki-laki itu siapa, Austin? itu bukan suara mu", tanya Laura mengangkat wajahnya menatap manik biru laki-laki tampan itu.
"Turner. Itu orangnya", jawab Austin menunjuk laki-laki yang sedang merawat kebun bunga yang agak jauh dari tempat mereka.
Laura menyipitkan kedua matanya. "Apa dia yang sudah menculik anak ku dari sekolah?", tanya Laura menatap lekat wajah Austin.
"Hem...atas bantuan Kimberly", jawab Austin tanpa rasa bersalah sedikitpun sudah membuat Laura menderita beberapa saat yang lalu.
"Kimberly? Apa adikmu ada di sini juga?"
"Iya. Tadi ia ada di sini bersama Noah. Sekarang sudah kembali ke kantor nya lagi", jawab Austin tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Laura. Sementara jemari tangan Laura mencengkram kemeja berwarna putih yang membalut tubuh atletis itu.
"Uhh...kalian semua bersekongkol mempermainkan aku. Aku akan membalas mu dan adik mu itu, Austin. Lihat saja nanti", seru Laura.
"Rumah indah ini milik siapa, Austin?", tanya Laura sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Rumah masa kecil ku dan keluarga ku", jawab Austin. "Apa kau tidak melihat pigura foto di dalam tadi?"
Laura menggelengkan kepalanya. Aku sangat panik. Aku tidak fokus lagi, Austin. Aku kira Qiana di culik Connors", jawab Laura dengan tubuh gemetaran membayangkan hal itu jika benar terjadi.
Austin tersenyum melihatnya. "Connors tidak akan bisa melakukan hal itu, karena orang-orang ku sudah menjaga kalian", jawab Austin sambil membawa jemari tangannya mengusap lembut wajah cantik Laura. Keduanya bertatapan. "Maafkan aku membuat mu panik. Aku janji hanya satu kali ini saja".
"Mommy...apa paman Austin akan menjadi ayah ku?", tanya Qiana yang tiba-tiba ada di dekat Laura dan Austin.
Laura melebarkan kedua matanya. Jantungnya berdetak kencang. Sementara Austin membelai wajah mulus itu dengan lembut.
"Tentu saja sebentar lagi paman akan menjadi daddy mu, Qiana", jawab Austin semakin membuat jantung Laura berdebar kencang, gadis itu melototkan bola matanya.
...***...
To be continue
__ADS_1