
"Selamat siang tuan Austin".
"Rea...apa bos mu ada?"
"Tuan Matteo ada. Ta..
Rea tidak melanjutkan ucapannya, karena Austin segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju keruangan Matteo.
"Aduh bagaimana ini? Tuan Matteo bisa memarahi ku!", gumam Rea sambil menatap punggung Austin. Laki-laki itu sudah di depan pintu ruang kerja bos-nya.
Ceklek...
"Matteo kau harus membantu ku!!"
"Maafkan aku teman..."
"Shitt, kenapa kau selalu saja menyelonong masuk keruangan ku... bastard!!", teriak Matteo kesal. Ia sedang bercumbu mesra dengan Renata saat teman nya itu menerobos masuk ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Sontak saja perbuatan Austin itu membuat Renata yang sedang berciuman mesra dengan Matteo kaget bukan main. Spontan Renata mendorong dada suaminya. Beruntung, mereka hanya berciuman saja tidak melakukan yang lainnya. Hal yang biasa diminta Matteo saat ada istrinya datang ke kantor.
"Maafkan aku teman. Lagian kalian ini kenapa bermesraan di kantor, seperti tidak ada tempat saja dan seperti orang yang sudah berbulan-bulan tak bertemu, bagaimana kalau anak buah mu yang masuk", balas Austin menggaruk kepalanya. Laki-laki itu dengan cueknya duduk di hadapan Matteo dan Renata.
Setelah keadaan kondusif, Matteo menatap istrinya yang juga sudah bisa menghilangkan rasa tidak nyamannya beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kau menemui ku?", tanya Matteo bernada ketus.
"Papa ku memintaku membawa kekasih ku ke mansion nya malam ini teman", jawab Austin terlihat bingung.
"Memangnya kau sudah punya kekasih?".
"Itu dia masalahnya. Tentu saja aku tidak punya. Semua ini gara-gara aturan perusahaan Dunan yang mewajibkan CEO perusahaan itu memiliki istri dan keturunan yang sah saat menjadi pemimpin perusahaan".
"Dan dihadapan semua orang Marco mengatakan aku sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi akan menikah. Uhh aku benar-benar di buat pusing sekali ini".
Matteo dan Renata bertukar pandang.
__ADS_1
"Kau tahu, aku malah memperjelas perkataan paman Marco, sehingga papa meminta ku membawa wanita itu kehadapan nya".
"Kekasih fiktif lebih tepatnya. Bantu aku teman, apa yang harus aku lakukan?", ujar Austin terlihat tak bersemangat sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
"Menurut ku paman Marco benar juga. Tidak ada cara lain lagi selain kau bawa segera wanita itu kehadapan ayah mu. Entah wanita yang kau temukan dimana pun atau wanita manapun yang kau bayar sekalian tetapi kau harus menemukan wanita itu sebagai kekasih mu sekarang juga. Kenapa kau malah ke sini. Kau tidak akan menemukan wanita itu di sini dude", jawab Matteo sambil mengangkat satu bahunya.
Sesaat ketiganya diam tak bergeming, dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba renata mencengkram lengan suaminya. "Sayang...bagaimana kalau wanita itu karyawan Tuscany cafe saja. Kan semua pegawai di sana masih muda-muda. Tinggal di makeover saja penampilannya, pasti akan menjadi cantik dan pantas untuk mendampingi mu, Austin", ujar Renata memberikan idenya.
"Maksud mu teman mu Kelly?", tanya Matteo menatap istrinya.
"No. Jangan Kelly, karena Kelly sedang dekat dengan teman kalian Dominic", jawab Renata cepat.
"What?"
Ucap Matteo dan Austin berbarengan sambil menatap Renata tak percaya.
"Ada apa dengan mereka?", ucap Matteo ingin mendengarkan penjelasan Renata.
"Ada apa dengan mu dan Laura Austin? Apa kau berkencan dengan nya juga?", tanya Matteo. Sementara Renata terlihat menahan tawanya. Membayangkan kedua temannya itu sepertinya sedang dekat dengan teman-teman Matteo.
"Cerita nya panjang. Nanti saja aku cerita kan detail nya pada mu. Aku pergi sekarang. Terimakasih saran kalian berdua. Bye Rena. Lanjutkan saja lagi pekerjaan kalian yang tertunda karena aku tadi", ledek Austin sambil menutup pintu ruang kerja temannya Matteo.
Renata dan Matteo masih menatap pintu. Kemudian keduanya tertawa.
"Sayang...aku bilang juga apa. Kita jangan lagi seperti tadi. Sebaiknya kita lakukan di private room saja".
"Kau mengajakku melanjutkan yang tertunda tadi, Rena? Alright kita lakukan di kamar sekarang", ujar Matteo sambil menggendong tubuh Renata ala bridal style. Sementara bibirnya me*umat bibir Renata yang terbuka karena kaget dengan perbuatan suaminya.
*
Laura sedang menyelesaikan laporan akhir bulan di dalam ruang kerjanya. Pekerjaan rutin setiap tutup buku di akhir bulan.
Ceklek...
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu lagi Austin menerobos masuk kedalam ruang kerja Laura.
Laura sangat kaget melihat tindakan laki-laki itu. "Kenapa kau menerobos masuk seperti itu keruangan ku, Austin?!", ucap Laura dengan tegas dan menatap tajam laki-laki itu. "Kau ini tidak sopan sekali!"
"Laura...aku butuh bantuan mu sekali ini saja. Bantu aku Laura", ucap Austin tanpa perduli dengan komplain wanita itu.
Laura merasa aneh dengan keadaan Austin. Terlihat panik. "Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi dengan mu?", tanya Laura sambil membuka kacamata bacanya.
"Aku mohon jadilah kekasihku malam ini saja Lau. Kekasih pura-pura dihadapan ayah ku", ucap Austin sambil mengusap tengkuknya.
Kemudian ia duduk dihadapan Laura menjelaskan semuanya. Tentang kondisi keluarganya. Dan aturan yang harus di ikuti Austin jika ingin menjadi pimpinan perusahaan.
Laura mendengarnya tanpa berkedip. Ia ikut terharu mendengar cerita masa kecil Austin yang harus meninggalkan semua milik nya.
"Aku akan pergi bersama mu, Austin. Tentu saja aku akan membantu mu dan Kimberly", ujar Laura dengan mata berkaca-kaca karena pengaruh dari cerita menyedihkan yang dialami Austin dan adiknya.
Mendengar jawaban Laura tentu saja Austin tertawa bahagia. "Aku tidak akan melupakan bantuan mu ini", jawab Austin menggenggam jemari tangan Laura di atas meja kerjanya.
Tentu saja perbuatan Austin mengangetkan nya. Cepat-cepat Laura menarik tangan nya perlahan. Wanita itu melihat jam tangannya. "Sudah hampir sore. Kita harus bersiap. Aku harus terlihat cantik kan di hadapan calon mertua ku", gurau Laura sambil tertawa.
Sementara Austin lagi-lagi mengusap tengkuknya, mendengar kata-kata Laura.
"Tentu saja aku tidak akan menolaknya, jika kau mau menjadi kekasih ku sungguhan", seloroh Austin membalas gurauan Laura dengan kata-kata menggoda.
Seketika wajah Laura tersipu malu. "Ehem...Aku akan menyelesaikan pekerjaan sebentar kemudian pulang ke apartemen ku. "Kita bertemu nya di mana?"
"Tentu saja aku akan menjemput mu. Kau kan kekasih ku", goda Austin lagi.
"Berhentilah bermain-main Austin atau aku batalkan semuanya".
"Aku tidak main-main, karena aku yang mengajak mu tentu saja aku akan menjemput mu. Aku mengatakan kau kekasih ku karena kita harus menjalin chemistry bukan, supaya terlihat sungguhan", ucap Austin tersenyum.
...***...
To be continue
__ADS_1