THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
GAGAL DINNER ROMANTIS


__ADS_3

Austin menggenggam erat jemari tangan Laura masuk ke salah satu restoran mewah yang berada cukup jauh dari pusat kota Toronto.


Laura tampak anggun dan cantik dengan gaun off shoulder dress berwarna hitam selutut di padukan dengan heels berwarna senada menambah anggun wanita itu. Serasi dengan Austin yang sangat tampan.


Senyum manis menghiasi wajah Laura, saat suaminya membukakan kursi untuk nya. Suasana romantis jelas terlihat di restoran itu. Lampu temaram dan tak terlihat banyak orang di sana membuat suasana tenang. Hanya terdengar alunan piano yang di mainkan pianis di sudut ruangan.


"Austin...apa orang-orang disini bisu semua? Tidak ada yang berbicara", ucap Laura menahan tawanya.


Austin ikut tertawa. mendengar perkataan istrinya. "Entahlah. Restoran ini Leon yang memilih nya", ujar Austin sambil berbisik-bisik. Ia menunjuk buku yang ada di meja, aturan yang tidak boleh mereka langgar selama berada di dalam restoran itu salah satunya tidak boleh bersuara dan tertawa yang bisa mengganggu ketenangan pelanggan restoran lainnya.


"Sebaiknya kita pergi saja. Aku tidak nyaman makan di tempat seperti ini. Kita tidak bisa berbicara bebas di sini. Bisa-bisa pulang nanti kita seperti orang autis", ucap Laura berbisik.


Austin tersenyum mendengar ucapan istrinya. Austin meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Karena Leon sudah memesan hidangan terbaik di restoran tersebut meskipun makanan yang dipesan Leon belum datang.


"Ayo...kita pergi saja", ucap Austin menarik tangan istrinya keluar dari restoran mewah itu.


Saat di luar Laura menghirup udara banyak-banyaknya. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai memegang perutnya. "Sayang, bagaimana mungkin kita makan dalam keadaan tertekan seperti itu", cicit Laura masih tertawa.


Austin pun menggelengkan kepalanya. "Restoran apa yang di pilih Leon, bisa-bisa nya ia memilih restoran romantis yang seperti itu. Cocoknya restoran begitu untuk orang yang bermeditasi", Seloroh Austin sambil menarik tangan Laura masuk kedalam mobilnya.


"Sekarang kita kemana?", tanya Laura sesaat sudah memasang seat belt.


"Kita cari tempat makan lain, tapi sebelumnya aku ingin memberikan kejutan untuk mu", ucap Austin memberikan dua tiket pada istrinya.

__ADS_1


"Maldives?"


"Sayang...kita akan honeymoon ke Maldives?"


Laura tidak bisa menutupi rasa bahagianya. "Oh my God, itu tempat yang paling ingin aku kunjungi, Austin. Dan salah satu khayalan ku, jika aku menikah ingin berbulan madu ke sana. Siapa sangka kau mewujudkan khayalan ku itu, sayang", ucap Laura tidak percaya.


"Dan kau pergi dengan lelaki mu", jawab Austin mengecup wajah istrinya.


Laura membuka kembali seat belt nya. Tanpa ragu ia membingkai wajah Austin dan mencium bibir suaminya.


Tindakan istrinya itu mengangetkan Austin. Tapi... tentu saja ia menyukainya. Austin menurunkan sandaran kursi agar tubuhnya bisa mundur kebelakang sementara Laura membuainya.


Benar saja. Laura mengangkat tubuhnya pindah ke pangkuan Austin. Keduanya berciuman mesra. Austin menekan tombol untuk kaca yang ada di setir agar lebih gelap sehingga orang di luar tidak dapat melihat apa yang di lakukan mereka di dalam mobil.


Laura dan Austin kembali menautkan bibir. Saling me*umat menjelajah hingga ke dalam.


Lidah keduanya saling membelit. Seperti orang kelaparan keduanya berciuman sangat liar, saling melahap. Bibir Austin memenuhi mulut Laura, seolah ingin menunjukkan siapa pemenang nya.


Jemari tangan nya meremas dada Laura yang menantang didepan matanya. Austin memainkan puncak yang sudah membusung itu.


"Akh.."


De*ahan lolos dari bibir Laura membuat Austin semakin bergairah.

__ADS_1


"Sayang, apakah kita melakukan nya disini?" Suara Laura terdengar bergetar menahan hasrat nya yang sudah membuncah dalam dirinya.


Austin tersadar mereka masih diparkiran restoran. Tentu saja ia tidak nyaman melakukannya di mobil dan di tempat umum begini.


"Kita lanjutkan ke hotel saja", jawab Austin dengan suara berat.


Laura dan Austin menghentikan aktifitas e*otis mereka. Laura kembali duduk di samping Austin sambil membetulkan pakaian dan rambutnya yang sudah berantakan.


Austin menyandarkan kepala nya sebentar, mengatur nafas yang masih terdengar menderu. Wajahnya tampak gusar. Ia harus menenangkan dirinya menahan hasrat yang sudah begitu membuncah.


Beberapa saat kemudian, Austin baru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati sayang", ucap Laura sambil bersandar di bahu Austin, tangannya memeluk mesra lengan suaminya.


Austin menghubungi Leon untuk memesan kamar hotel terdekat dari tempat mereka. Karena posisi Austin dan Laura sebenarnya berada di distrik yang cukup jauh dari pusat kota tidak mungkin bisa memilih hotel berbintang di sekitar mereka berada.


Beberapa saat kemudian Leon memberikan alamat hotel. Austin melihat rekomendasi asisten nya itu. "Kali ini awas saja Leon kalau memilih hotel yang salah", ucap Austin sambil memutar mobilnya mengikuti alamat yang di berikan Leon.


...***...


To be continue


Masih mau lanjutin bab ini atau kita skip saja?

__ADS_1


Lanjut di kolom komen ya!


__ADS_2