THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
TIDAK BISA MELUPAKAN


__ADS_3

"Akh... pelan-pelan tuan".


Seorang wanita meringis kesakitan saat pusat tubuhnya di hentak dengan keras benda tumpul milik seorang pria yang seharusnya sangat. dihormatinya.


Wanita muda itu masih menggunakan pakaian pelayan lengkap. Sementara tubuh atasnya di tekan tangan laki-laki itu di atas meja kerja sebuah ruang kerja mewah.


Tanpa perduli rintihan pelayan tersebut, laki-laki itu semakin menghentakkan miliknya hingga dalam pada pusat tubuh pelayan dengan posisi menungging di hadapannya.


"Brengsek kau Austin. Sampai kapan pun Laura milik ku. Hanya milik ku!!"


"Akh.."


Connors mencabut paksa miliknya tanpa perduli sedikit pun dengan keadaan wanita yang baru saja dimasukinya itu. Sorot matanya tajam penuh amarah. Banyak sekali kejutan yang membuatnya kesal malam ini. Salah satunya saat melihat Laura datang bersama Austin ke mansion Dunan dan yang membuatnya semakin emosi ketika merasakan perasaannya yang masih sangat menginginkan wanita itu.


Laura semakin cantik dan dewasa. Connors begitu memuja wanita itu sejak dulu.


Connors menarik rambut pelayan yang baru saja dijadikan budak na*sunya. "Kau ...wanita murahan! Sangat berbeda dengan wanita yang kucintai".


"Pergi kau sekarang juga! Wanita murahan yang menjijikkan!", hardik Connors mendorong dengan keras tubuh gadis muda yang bekerja di rumahnya sebagai pelayan. Sehingga wanita itu terjerembab di karpet ruang kerjanya.


Dengan tertatih pelayan itu meninggalkan ruang kerja atasannya tersebut.


Dengan penampilan kacau, bahkan kancing kemeja masih terbuka Connors menuang wiski ke dalam gelas dan meneguknya hingga tandas.


Dengan manik menggelap laki-laki itu melempar gelas yang ada di genggaman tangannya ke dinding hingga pecah berhamburan.


"Aku tidak pernah bisa menyakiti Laura. Bahkan saat ibu ku meminta ku mengusir ia dan adiknya beberapa tahun yang lalu. Itu tidak pernah bisa aku lakukan. Aku benar-benar mencintai gadis itu".

__ADS_1


"Ceklek...


"Sayang...aku mendengar ada yang pecah dari ruang kerja mu".


"Jangan mengganggu ku Stephanie, urus saja anak-anak mu! Pergilah aku ingin sendiri", ketus Connors menyandarkan kepalanya pada kursi kerjanya.


Stephanie mengedarkan pandangannya ke pecahan gelas kaca yang berserakan di lantai.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?", tanya Stephanie menatap suaminya yang terlihat kacau dan banyak pikiran.


"Harus berapa kali aku katakan pada mu, aku ingin sendiri. Jangan menganggu ku! Dasar wanita bebal!!", teriak Connors sambil menghunuskan tatapan tidak suka pada istrinya yang berdiri di dekat pintu.


"B-Baik Connors. Jika kau membutuhkan aku, kau tahu tempat ku", ucap Stephanie pelan dan berlalu dengan wajah tertunduk.


Ini bukan yang pertamakali Connors memperlakukan nya dengan kasar. Semenjak menikah dengan laki-laki itu, Connors tidak pernah menganggap dirinya sebagai wanita yang ia cintai. Mereka menikah atas dasar bisnis semata bagi Connors. Tapi bagi Stephanie, Connors adalah segalanya. Laki-laki yang sangat di cintainya. Walaupun Connors acap kali berlaku kasar padanya.


Bahkan berhubungan pun jika Connors yang menginginkan nya. Hingga mereka memiliki dua anak pun sikap Connors masih seperti itu.


*


Laura mengusap lembut wajah Qiana yang tertidur pulas disampingnya.


"Mommy akan selalu menjaga mu, sayang", ucap Laura sambil mengecup kening Qiana dan menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis mungil itu.


Laura berdiri dan berjalan ke balkon yang ada di kamarnya sambil mengeratkan jubah tidur panjangnya. Gadis itu membuka pintu kaca yang terhubung antara kamar ke balkon.


Sesaat Laura memejamkan matanya. Kemudian membuka kedua matanya, menatap jutaan bintang yang bersinar cerah di langit.

__ADS_1


"Banyak sekali yang aku alami hari ini".


"Brenda...tetaplah tenang di sana, aku akan menjaga putri mu, sekuat tenaga ku. Tak akan ku biarkan Connors dan Amanda mengusik hidup Qiana", ucap Laura.


Beberapa menit kemudian perasaan Laura menghangat. Perlahan jemari-jemari tangannya menyentuh bibirnya yang beberapa jam yang lalu bergetar hebat karena ciuman Austin.


"Aku tidak bisa melupakannya..."


*


Di tempat terpisah, di salah satu apartemen mewah di pusat kota Toronto.


Nampak Austin sedang berbicara dengan Leon asistennya. "Aku ingin kau menempatkan orang untuk menjaga Laura dan putrinya. Orang-orang itu tidak perlu nampak jik sedang mengawasi. Cukup jaga keduanya dari kejauhan saja. Begitu juga saat putri Laura di sekolah, tempat kan penjagaan di sana", perintah Austin dengan tegas.


"Baik tuan. Saya segera berkoordinasi dengan orang-orang kita", jawab Leon.


"Sekarang sudah malam, kau boleh pulang. Besok pagi kau langsung saja ke perusahaan tidak perlu menjemput ku karena aku ada urusan di tempat lain!".


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi pulang", ucap Leon dengan hormat.


"Hem.."


Setelah Leon pergi Austin menyandarkan kepalanya. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak bisa melupakan ciuman itu".


"Sepertinya aku harus segera menemui Laura lagi. Aku benar-benar menyukai gadis itu", ucap Austin sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


...***...


To be continue...


__ADS_2