
Waktu terus bergulir, hari berganti hari.
Sebulan telah berlalu..
Renata yang baru selesai mandi masih dalam keadaan nude menatap dirinya di depan cermin yang ada di kamarnya. Perutnya sudah terlihat mulai membesar.
Renata tersenyum melihat perubahan tubuhnya. Jemari tangan lentik itu perlahan mengusap perut itu. "Sayang kau semakin tumbuh sekarang. Mommy akan selalu menjaga mu, agar kau sehat dan kuat di dalam sana".
Renata menatap dadanya yang semakin terlihat besar. Lagi-lagi gadis itu tersenyum melihat perubahan bentuk tubuhnya itu. Namun Renata menyukainya bahkan ia menikmati setiap perubahan itu. Baginya bisa hamil seperti sekarang adalah anugerah yang di berikan padanya. Walaupun statusnya sendiri masih lajang.
Renata memilih dress hamil berbahan katun lembut. Sekarang Matteo memintanya datang ke perusahaannya. Arnold sudah menunggu Renata sedari tadi.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Renata bersiap. Ia yang selalu menyukai riasan tipis hanya menyapukan foundation dan lipstik natural saja di wajahnya. Kemudian menyemprotkan parfum beraroma lembut ke tengkuk dan tubuhnya.
Ceklek..
"Rena...apa kau mau keluar?", tanya Sophia menatap putrinya yang terlihat semakin cantik setiap hari. Apalagi ia sedang hamil, kecantikan nya semakin memancar.
"Iya mah, Rena mau ke kantor Matteo. Matteo meminta ku datang kekantor nya sekarang. Arnold sudah menunggu di bawah", ucap Renata.
"Tapi kamu tetap harus hati-hati nak, kandungan mu masih rawan", ujar Sophia memberikan nasihat untuk putri nya.
Renata tersenyum sambil memeluk Sophia. "Mama tenang saja, Rena tidak melakukan apapun hanya duduk-duduk saja di kantor Matteo", jawab Renata sambil pamit pergi.
Sophia tersenyum menatap punggung putri kesayangan nya itu berlalu.
"Nyonya jangan kuatir, nona Renata di tangan yang tepat. Tuan Matteo itu sangat baik dan perhatian. Saya sudah lama bersama nya".
__ADS_1
"Iya Myria. Aku tahu Matte anak yang baik dan sangat mencintai Putri ku. Aku berharap mereka selalu bersama dan Matteo segera mendapatkan putusan cerainya".
*
"Selamat siang, Rea..Apa tuan Matteo ada di dalam?", tanya Renata sopan. Memang Renata dan Matteo menutup rapat-rapat jalinan kasih antara mereka.
Renata tetap menganggap Matteo atasannya dihadapan Rea saat berkunjung kekantor nya.
Karena yang tahu hubungan ia dan laki-laki itu hanya orang-orang terdekat saja. Termasuk Evans. Sementara Kelly teman Renata pun tidak mengetahui apa yang terjadi pada Renata dan Matteo.
"Selamat siang Renata. Tuan Matteo ada di ruangannya, beliau sudah menunggu kedatangan mu. Mari saya antar", balas Rea
tersenyum ramah.
Renata mengikuti langkah Rea mengetuk pintu dan membukanya setelah ada sahutan dari dalam.
"Tuan..nona Renata sudah datang", ujar Rea dengan sopan.
Renata menahan tawanya menatap Matteo. Ia tahu kekasihnya itu hanya menjaga imagenya di hadapan Rea. Pura-pura tak perduli dan sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa tuan Matteo benar-benar sedang sibuk sekarang? Apa kehadiran ku mengganggu mu tuan? HM...sebaiknya aku pulang sekarang", goda Renata dengan kedua netra membulat sempurna.
"Shitt...tentu saja tidak", jawab Matteo cepat dan langsung berdiri menghambur menarik tengkuk Renata me*umat bibir ranum itu hingga kedalam.
Renata memberikan izin Matteo menciumnya. Gadis itu membuka mulutnya dan membalas buaian Matteo.
Keduanya berciuman mesra cukup lama. Ciuman itu terhenti saat nafas Renata terdengar tercekat.
__ADS_1
"Aku selalu merindukan mu, Rena. Tapi ada yang akan aku katakan sekarang!", tegas Matteo sambil mengurai pelukannya. Ia menjauh dari tempat Renata berdiri.
"Rena ..ada sesuatu yang harus kau tahu", ujar Matteo dengan serius. Wajahnya terlihat cemas.
Renata menyipitkan matanya. "A-da apa Matte? apa semuanya baik-baik saja?", tanya Renata bernada kuatir.
"Aku harus mengatakan yang sejujurnya pada mu, Rena. Hubungan kita seperti sekarang harus segera berakhir! Aku harus mengatakan ini walau akan menyakiti mu, Rena.."
"A-pa maksud mu, Matteo? A-pa kau ingin kita P-Putus? Berakhir?", tanya Renata dengan manik memanas.
"I-ya. Aku ingin kita putus sebagai kekasih sekarang juga...!
Mendengar ucapan Matteo seketika tubuhnya gemetaran. Dan buliran-buliran bening keluar dengan sendirinya membasahi wajahnya.
Sementara Matteo duduk kembali ke kursi kebesarannya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Maafkan aku...Rena! Ini bayaran mu selama ini sampai kau melahirkan anak ku nanti", ucap Matteo memberikan amplop berwarna putih polos keatas mejanya.
"M-MATE...",lirih Renata sambil menatap manik abu-abu laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Kau bukan lagi kekasih ku sekarang, Rena!"
"M-MATTEO...Aku tidak mengharapkan bayaran untuk mengandung anak mu. A-ku mencintaimu. A-pa salah ku, Matteo", ucap Renata terisak dan mengambil amplop itu.
Perlahan jemari tangannya membuka lipatan kertas yang berukuran besar didalamnya dengan gemetaran. Sementara ada satu lagi kertas berukuran kecil.
Renata semakin terisak dan menutup mulutnya dengan jemari tangannya. Saat membaca tulisan-tulisan di kertas itu.
Sementara kedua netranya dengan linangan air mata melebar. "M-MATTEO...
__ADS_1
...***...
To be continue