THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
TANTANGAN AMANDA


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Aku sangat gugup Austin", ucap Laura dengan suara sedikit bergetar.


Saat ini ia dan Austin sedang berada di dalam mobil kekasih nya yang di kendarai sopirnya.


Tangan kokoh Austin menarik tengkuk Laura dan menyatukan bibirnya pada bibir Laura yang terbuka. Sontak saja perbuatan Austin mengejutkan Laura.


Laura memukul bahu laki-laki itu.


"Sekarang bagaimana perasaan mu, hem. Apa masih gugup?"


"Tentu saja. Kau membuatku semakin gugup", protes Laura sambil melebarkan kedua matanya.


Austin tertawa mendengarnya. Bibir mu itu sayang sekali kalau di lewatkan, sangat menggodaku", bisik Austin ditelinga Laura.


"Austin... kau membuat ku semakin gugup. Berhentilah mengganggu ku", cicit Laura sambil mencebikkan bibirnya.


Austin tersenyum melihatnya. Ia menarik tubuh kekasihnya itu kedalam pelukannya dan mengusap lembut punggungnya. "Kau tidak perlu takut bertemu papa, bukankah kalian sudah berkenalan malam itu?"


Laura menyandarkan wajahnya pada dada bidang Austin sambil memutar-mutar kancing kemeja laki-laki itu. "Aku tidak takut pada papa mu Austin. Tapi... sebenarnya aku malas jika bertemu dengan ibu tiri mu dan putranya. Saat melihat mereka, darah ku kembali mendidih, panas sampai ke ubun-ubun kepalaku", ucap Laura pelan.


Austin mengangkat dagu Laura agar menatapnya. "Kita hanya perlu bertemu papa saja, kita tidak ada urusan dengan Amanda apalagi Connors. Tenanglah aku akan mendinginkan darah mu yang mendidih itu", ucap Austin sambil me*umat kembali bibir Laura. Kali ini Laura membalasnya, sementara jemari halus nya membelai dengan lembut leher Austin. Keduanya berciuman mesra dan intens.


Beruntung sejak naik mobil, Austin menutup sekat yang terhubung ke bagian depan sehingga sopir dan Leon yang duduk di bagian depan tidak melihat aktivitas bosnya di kursi belakang.

__ADS_1


*


"Selamat siang tuan Austin".


"Siang. Apa ayahku ada di ruangannya?"


"Tuan Dunan sudah menunggu anda, tuan", jawab Alderic asisten Dunan yang saat ini terlihat sedang bersama sekertaris Dunan.


"Mari saya antar, tuan".


"Tidak perlu. Terimakasih, aku bisa sendiri", jawab Austin menggengam erat jemari tangan Laura keruangan ayahnya. Sementara Leon berbincang-bincang dengan Alderic.


Austin mengetuk pintu ruang kerja Dunan. Sesaat kemudian terlihat Connors membuka pintu.


Connors menatap lekat wajah Laura. Laura membalasnya. Tak ada rasa takut sedikit pun.Tanpa menunggu laki-laki itu mempersilahkan masuk, Austin menarik Laura.


Dunan menatap Austin dan Laura. "Masuklah nak, aku sudah menunggu kalian", ucap Dunan hangat. Sepertinya ia sedang berbincang dengan Marco.


Ternyata di ruangan itu ada juga Marco dan Amanda. Marco tersenyum hangat melihat Austin datang bersama Laura. Sedangkan Amanda duduk menyilangkan kakinya di sofa menatap sinis Laura.


Austin mengajak Laura duduk di sofa berhadapan dengan Amanda dan Connors, setelahnya Dunan dan Marco berdiri dari tempat duduk mereka untuk bergabung bersama mereka.


"Akhirnya kita semua bisa berkumpul, hanya Kimmy yang tidak bisa datang karena ia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan", ujar Dunan.


"Apa kabar mu nak? Setelah malam itu kau pergi, aku kira tidak akan melihat mu lagi", ucap Dunan pada Laura. Laki-laki itu terlihat begitu ramah.

__ADS_1


"Maaf paman, malam itu tiba-tiba kepala ku sakit", jawab Laura beralasan.


Dunan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Yang penting kau membayarnya hari ini untuk berkenalan dengan keluarga Austin. Itu istri ku Amanda dan putranya Connors. Sementara ini Marco teman dan orang kepercayaan ku yang sudah di anggap Austin seperti diri ku. Ayahnya", ucap Dunan menjelaskan satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


Laura tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sementara Austin menggenggam erat tangan gadis itu. Keduanya terlihat sangat mesra. Kemesraan yang mengalir begitu saja, tanpa di buat-buat. Dunan dan Marco tahu itu.


Sementara Amanda tidak bisa menutupi rasa kesalnya, begitu pun Connors ia sangat cemburu melihat kemesraan Laura dengan Austin. Dadanya rasanya mau meledak.


"Apa wanita ini kekasih mu? Sudah berapa lama kalian berhubungan?", tanya Amanda bernada sinis.


"Seperti yang kau lihat. Tidak mungkin juga aku membawa kekasih orang lain", jawab Austin dengan cueknya.


"Bukankah kau tidak percaya dengan sebuah hubungan? Bahkan kau berulangkali mengatakan membenci pernikahan, Austin?", tanya Connors. Ia tidak tahan untuk menanyakan pertanyaan itu pada Austin.


"Aku mengatakan itu sebelum bertemu dengan kekasih ku yang sangat aku cintai ini", jawab Austin dengan santai sambil mendaratkan sebuah kecupan di pipi Laura.


Perbuatan Austin itu sontak saja membuat semua orang di ruangan itu kaget. Dunan dan Marco tersenyum sementara Amanda dan Connors semakin menunjukkan wajah tidak suka. Dada Connors semakin bergemuruh menahan amarah yang tiba-tiba membuncah menguasai dirinya.


"Kalau begitu secepatnya saja kalian menikah", tantang Amanda pada Austin dan Laura.


Mendengar tantangan Amanda membuat Laura dan Austin terdiam. Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Amanda benar Austin, tunggu apalagi? Usia mu semakin bertambah nak. Setelah menikah dan istri mu hamil anak mu, kau lah yang akan menggantikan papa..."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2