
Tanpa menunggu jawaban Renata, Matteo langsung me*umat bibir ranum istrinya. Matteo melancarkan serangan tanpa jeda. Mulut Matteo memenuhi mulut Renata. Menghisap kuat bibir atas dan Renata.
Perbuatan Matteo itu tentu saja berdampak pada keadaan tubuh Renata. Seketika tubuhnya meremang bergetar hebat, ia begitu gugup mendapatkan sentuhan seperti itu.
Bahkan Renata belum memberikan jawaban atas pertanyaan Matteo, laki-laki itu sudah tidak sabaran langsung menyerang Renata. Bahkan Matteo perlahan mendorong tubuh Renata ke pintu lemari yang ada di kamar mewah tersebut..
"M-MATTEO...
Matteo tidak menggubrisnya, ia kembali mencium bibir Renata dengan sedikit menuntut. "Ahh Rena aku tidak bisa menunggu lagi".
Renata yang merasakan semua sensasi yang ditimbulkan seakan terperangkap. Sampai-sampai ia lupa cara membalas buaian Matteo bahkan Renata tidak membuka mulutnya.
"Sayang buka mulut mu! Balas sentuhan ku!", ucap Matteo dengan suara berat tepat di depan bibir Renata. Sementara jemari-jemari tangannya membingkai wajah Renata yang semakin memutih.
"A-ku sangat gugup sayang ..ini yang pertama kali bagi ku", jawab Renata dengan tatapan berkabut menembus netra abu-abu Matteo.
Mendengar ucapan Renata, Matteo menatap lekat wajah istrinya.
"Apa maksud mu, Rena? Apa kau tidak pernah bercinta sebelumnya?", tanya Matteo sangsi.
Cepat-cepat Renata menganggukkan kepalanya. "I-ya Matte, aku belum pernah melakukannya pada siapa pun", jawab Renata sambil menundukkan kepalanya.
"A-pa aku terlihat bodoh?", tanyanya dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Terlihat Matteo menghembuskan nafasnya. Perlahan jari telunjuk nya mengangkat dagu Renata agar menatapnya. "Justru aku beruntung sayang. Kau wanita sempurna yang bisa menjaga kesucian mu hingga menikah. Dan laki-laki beruntung itu adalah aku", bisik Matteo kembali me*umat bibir Renata yang sudah terbuka dengan sempurna.
Kali ini Renata membalas ciuman Matteo, keduanya saling serang hingga nafas tersengal-sengal.
Perlahan jari Matteo menurunkan resleting gaun pengantin Renata. Gaun sederhana berwarna putih polos namun sangat pas di tubuh pemakainya. Bahkan Renata membuat Matteo tak berkedip memandangnya saat berlangsungnya prosesi pernikahan mereka tadi sore hingga malam.
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, jemari Matteo melucuti satu persatu kain yang melekat ditubuh Renata.
Renata membelalakkan matanya ketika tangan Matteo melepaskan pengait bra yang menutupi dadanya.
"M-Mate,.."suara Renata tercekat tetapi terdengar sangat lembut ditelinga Matteo. Bukan protes tetapi lebih ke pada ajakan.
"Hm...
"A-ku T-akut. Bisakah kita melakukannya lain kali sayang?", ucap Renata sedikit memohon tetapi tubuhnya berkata lain saat merasakan usapan lembut jemari Matteo di punggung nya.
Matteo tidak menggubris ucapan Renata.
__ADS_1
Ia menurunkan gaun dan bra dari tubuh istrinya hingga tubuh itu polos, tak satupun benang yang menempel. Matteo menatap lekat tubuh mulus Renata. Bahkan laki-laki itu kesulitan menelan salivanya sendiri. Tubuh yang sangat indah dengan bagian perut sudah nampak sedikit membuncit.
Otomatis, tangan Renata menutupi bagian dada bawah tubuhnya yang terekspos. Wajahnya terlihat pucat sementara jantung nya berdebar kencang. Renata sangat malu di hadapan Matteo yang menatapnya intens seperti itu.
Matteo menarik tangan itu, ia sangat suka melihat tubuh istrinya seperti itu. Sangat indah, tubuh putih bening dan sangat mulus tanpa cacat sedikitpun.
Matteo kembali mencium bibir Renata, kali ini dilakukannya dengan sangat di lembut, membuat gadis itu tanpa sadar langsung membuka mulutnya. Menyadari hal itu tentu saja tidak di sia-siakan oleh Matteo. Bibirnya menjelajahi setiap jengkal rongga mulut Renata. Ia memperdalam ciumannya.
Tindakan Matteo tentu saja membuat tubuh Renata merasakan gelenyar aneh.
Nafas Renata menderu cepat. Saatini ia membutuhkan lebih banyak oksigen.
"Ahh... Matte"
Suara erangan keluar dari mulut Renata
"Hmm...
Matteo menyentuh setiap jengkal tubuh mulus itu.
Matteo mengangkat tubuh istrinya ke tempat tidur king size yang berada ditengah-tengah kamar luas dan mewah itu. Ia merebahkan tubuh Renata pelan-pelan. Perlahan jemari-jemari tangan Matteo menarik panties yang masih menutupi tubuh bagian bawah Renata
Secara spontan Renata menutupi inti tubuh nya yang terekspos dengan kedua tangannya sementara dadanya dibiarkan terpampang jelas.
Renata seketika menutup matanya begitu melihat inti Matteo yang begitu besar dan sudah menegang sempurna. Terdengar desisan tertahan dari mulut Renata.
Matteo keatas tempat tidur. Dan melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda. Tangannya merayap menyentuh ke dua dada Renata bergantian. Bibirnya kembali mencium bibir Renata dengan sangat lembut. Renata tidak bisa menolaknya. Matteo begitu menggoda nya. Bahkan sekarang tangannya melingkar di leher Matteo.
Matteo menghentikan aktivitas nya, kedua netra abu-abu miliknya menatap intens dengan tatapan yang sulit diartikan. Nampak jelas kabut di netra bak elang itu. Tangannya mengusap lembut wajah istrinya. "Kau sangat cantik Renata", bisiknya dengan suara serak.
Sementara Renata tidak bisa mengartikan tatapan itu. Ia memejamkan mata nya dan mengigit bibir bawahnya, ketika mengetahui Matteo menjelajahi perut dengan lidahnya. Hingga lidah basah itu berakhir bermain di intinya.
Kedua mata Renata terbelalak dengan mulut terbuka gadis itu tidak bisa menahan dirinya akibat permainkan Matteo yang begitu lihai menggodanya.
"S-ayang...
Renata kaget diperlakukan seperti itu, spontan ia mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada siku tangannya.
"Ahh S-ayang hentikan Akh..", ucapnya dengan suara bergetar. Ini yang pertama kali untuk Renata. Belaian yang membuat sekujur tubuhnya bergetar tak karuan. Renata terlihat sangat kacau.
Matteo begitu lihai menggoda tubuh nya.
__ADS_1
Hingga tangannya mengusap lembut inti Renata. "Milikmu sudah sangat basah, sayang".
Mendengar Matteo tak henti menyebutkan kata-kata cinta dan memanggilnya sayang membuat perasaan Renata begitu membuncah. Ia tidak menyangka akan menemukan tambatan hati yang sangat menginginkannya. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Renata selama ini.
"Akh.."
Renata menjerit, kala merasakan benda keras ingin masuk ke inti nya. "S-akittt.."
"Ahh...",
Berulangkali Renata menjerit kesakitan saat merasakan intinya seperti terkoyak. Renata merasakan sangat kesakitan, hingga buliran bening mengalir keluar.
Matteo, merasakan miliknya begitu sulit menerobos masuk ke inti Renata. Bahkan sudah dua kali laki-laki itu melakukan percobaan tapi masih gagal juga, sementara ia melihat wajah istrinya sudah menahan sakit tak terhingga. Hingga menjerit dan menangis.
Matteo seolah tak gentar berusaha, ia mencoba masuk lagi dengan pelan sambil mencium lembut bibir Renata yang bergetar untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan istrinya itu. Tetap saja gagal.
Hingga...
"Aww...Akh..!!"
Renata sangat kesakitan bahkan ia mendorong kuat tubuh Matteo yang berada diatasnya dengan bertopang pada lututnya sendiri.
Terlihat wajah Renata meringis, kali ini tangannya menekan perut bagian bawah nya. "Akh...perutku Matte sangat sakit", ucap Renata meringis. Bahkan meringkuk di atas tempat tidur.
Sontak saja melihat istrinya seperti itu membuat Matteo panik. "Sayang...ada apa?"
Matteo memeluk tubuh Renata dan mengusap-usap perut istrinya itu. Matteo mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Beberapa menit kemudian Renata terlihat lebih tenang.
"S-ayang maaf kan aku..", ucapnya pelan.
Matteo mengecup lembut pucuk kepala istrinya. "Kita bisa melakukannya lain hari. Sekarang apa perut mu masih sakit?"
"Sedikit. Entah kenapa tiba-tiba keram bawah perut ku", jawab Renata.
"Mungkin anak kita sekarang ingin tidur karena sudah malam dan merasa terganggu dengan aktivitas daddy mommy nya", bisik Matteo yang harus menahan ha*ratnya. Tentu saja Matteo tidak akan melanjutkannya jika Renata kesakitan seperti tadi.
"Sayang...Apa kau tidak apa-apa tanpa penyelesaian?"
Matteo mengusap tengkuknya. Sejujurnya ia tidak bisa menahannya lagi. Rasanya sangat menyiksa tapi mau bagaimana lagi pada akhirnya ia memilih melanjutkannya di kamar mandi seorang diri...
__ADS_1
...***...
To be continue