
Renata mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Sesaat ia terlihat gelisah. Kemudian nampak kembali tenang.
Perlahan jemari tangan kanan Renata memijit keningnya. Sementara jemari tangan kiri mengusap lembut perutnya yang masih nampak datar.
"Kau sudah bangun, Renata?"
Suara berat itu seketika mengagetkan Renata. Gadis itu menolehkan kepalanya, menatap sosok laki-laki tampan yang sedang duduk di sofa dengan kaki tersilang menatap kearahnya.
"T-uan Matteo..."
Suara Renata terdengar lemah dan lirih. Ia cepat-cepat ingin bangun. Renata merasa tidak enak, tiduran di hadapan atasannya itu. Walaupun Renata merasakan tubuhnya masih begitu lemah ia berusaha untuk duduk.
Renata menekan sedikit perutnya.
Mengetahui hal itu, cepat-cepat Matteo bangkit dari tempatnya dengan setengah berlari ia mencegah Renata bangun dari tidur.
"Renata...jangan bangun dulu jika tubuh mu masih lemah dan kepala mu pusing!", ujar Matteo. Tanpa ragu Matteo menahan kepala bagian belakang Renata dengan tangannya untuk kembali di rebahkan nya ke atas bantal.
Matteo begitu dekat, bahkan hembusan nafasnya dan aroma tubuh laki-laki itu begitu memenuhi Indera penciuman Renata.
Renata memejamkan matanya, gadis itu tidak bisa membantah. Apa yang dikatakan Matteo benar adanya, tubuhnya memang terasa lemah sekali.
Tubuh Renata meremang apalagi saat ini Matteo duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap nya dengan intens. Renata tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Bahkan sekarang yang dirasakan nya hanya debaran jantung yang berpacu dengan cepat.
"Sekarang bagaimana keadaan mu, hem? Apa anak ku sangat mengganggu mu?", tanya Matteo tanpa meminta izin pada Renata jemari tangannya mengusap perlahan perut Renata yang masih nampak tipis itu.
Iris abu-abu Matteo menatap lembut kedua manik biru Renata yang mengerjap-ngerjap tak menyangka apa yang di lakukan laki-laki itu pada perutnya. Namun Renata merasakan begitu nyaman saat ini. Seperti kontak batin, pusing kepalanya seketika hilang. Bahkan rasa mual yang kerap datang menghampiri Renata tak kenal waktu saat ini tak di rasakan nya lagi. Yang ada... rasa begitu nyaman, tentram dan bahagia.
"Apa kau ingin minum? Atau kau merasakan lapar?", tanya Matteo penuh perhatian.
__ADS_1
Renata menggelengkan kepalanya. "T-tidak tuan", jawabnya terbata-bata.
Matteo tersenyum menatap Renata. Gadis itu nampak malu dan semburat merah pipinya begitu kentara terlihat.
Tok
Tok
"Maaf tuan, sekarang waktunya nona Renata minum obat sebelum makan siang. Untuk mencegah rasa mual saat makan nanti", ucap Myria masuk ke dalam kamar yang pintunya memang terbuka tersebut, sambil membawa nampan yang berisi obat dan air putih.
"Bibi juga membawakan nona Rena potongan buah apel dan pir madu yang banyak mengandung air. Sangat baik untuk ibu hamil", ucap Myria tersenyum penuh kasih sayang.
"Terimakasih bibi", jawab Renata pelan. Sejak beberapa minggu tinggal di Villa, Renata tidak merasakan kesepian saat bersama Myria. Wanita itu sangat baik dan penuh kasih sayang pada Renata. Renata merasakan kasih sayang yang di berikan mamanya saat di dekat Myria, bahkan tak jarang wanita paruh baya itu memeluknya erat di saat Renata tidak bisa menelan makanannya karena mual.
Matteo membantu Renata duduk bersandar dan memberikan obat yang harus di minum padanya.
"Bagaimana sekarang, apa badan mu masih merasa tidak enak?", tanya Matteo.
Renata menggelengkan kepalanya. "Tidak tuan", jawabnya.
"Kalau begitu bibi kembali kebelakang sebentar lagi waktu makan siang", ucap Myria tersenyum.
"Iya bi", jawab Renata dan Matteo hampir berbarengan.
Setelah Myria keluar Renata kembali menundukkan kepalanya. Sejujurnya ia sangat canggung berdekatan seperti sekarang dengan Matteo.
"Hm...tuan, apa anda kemari bersama nona Angelica?"
"Tidak. Angelica sedang berada di kota Hilifax karena ada peragaan busana", jawab Matteo singkat.
__ADS_1
"Rena...maafkan aku karena baru sekarang melihat mu. Bahkan Angelica tidak bersama mu juga", ucap Matteo.
"Sekarang aku tidak akan membiarkan mu sendirian merasakan kehamilan ini. Aku janji akan selalu mendampingi mu. Kau sudah berkorban banyak untuk mengandung anak kami. Maafkan aku", ucap Matteo terdengar penuh penyesalan.
Entah karena pengaruh hormon hamil atau karena terharu mendengar kata-kata Matteo yang penuh perhatian membuat kristal bening jatuh menyentuh wajah mulus Renata.
Renata berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya agar Matteo tidak melihat air matanya.
Namun fatal. Semakin Renata menghindar, Matteo justru melihatnya. Jemari tangan Matteo perlahan mengangkat dagu Renata agar manik indah itu menatapnya.
Iris biru yang nampak lembab itu beradu pandang dengan manik abu-abu yang sedang menatapnya juga dengan tatapan lembut sulit diartikan.
Tubuh Renata bergetar hebat saat merasakan bibir dingin Matteo menyatu dengan bibirnya. Kecupan ringan yang di berikan Matteo seakan ingin menenangkan perasaan cemas Renata. Namun dampaknya fatal hingga menjalar ke sekujur tubuh gadis itu. Seketika hawa panas mengalir ke persendian Renata. Seperti sedang dialiri listrik tegangan tinggi, tubuh Renata tak henti gemetaran.
Perlahan Matteo mengurai ciumannya. Namun wajah tampan itu begitu dekat. Bahkan Renata bisa mendengar tarikan nafas Matteo yang terdengar menderu. Sama halnya dengan laju nafas Renata.
"T-uan.."
Renata memejamkan matanya, tak berani membukanya.
"Jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil nama ku, Rena", bisik Matteo.
Manik abu-abu Matteo menatap gadis itu dengan tatapan lembut dan teduh. Sekilas Renata beradu pandang, namun gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Bahkan aku tidak bisa menolaknya. Ada apa dengan perasaan ini", batin Renata.
...***...
To be continue
__ADS_1