
Langit sudah gelap saat pesawat pribadi yang membawa Austin dan Laura mendarat di Bandar Udara Internasional Velana, Maladewa.
Austin melepaskan Coatnya dan memakaikannya pada bahu Laura. Angin laut mulai nampak menerpa. Udara juga terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Austin segera mendekap tubuh istrinya langsung ke mobil yang bertuliskan "AA hotel, resort N spa" di badan mobil jenis dakar tersebut.
Setelah keduanya di dalam mobil, nampak sopir dan seorang pria menyapa Austin dengan hormat. Setelah mobil melaju, Austin menutup sekat kaca agar memiliki privasi.
"Apa kau jetlag? kemari. Pejamkan mata mu, karena kita baru sampai sejam setengah lagi", ucap Austin sambil mendekap tubuh istrinya.
"Apa kita akan menginap di hotel selama di sini sayang?"
"Iya. Tempat tinggal kita jauh lebih indah dari hotel yang ada di kota. Kau pasti akan takjub melihatnya nanti", jawab Austin sambil mengusap wajah halus Laura.
"Kepalaku baru terasa pusing sekarang".
Austin memberikan kapsul pada Laura. "Minumlah, agar tubuhnya segera fit lagi. Penerbangan panjang akan membuatmu jetlag".
Laura segera meminum kapsul yang di berikan suaminya itu.
*
Setelah satu setengah jam berkendara, mobil yang di kendarai sopir Austin memasuki kawasan hotel dan resort yang terlihat sangat indah.
__ADS_1
Beruntung sekali sekarang sunrise sudah muncul. Langit pagi berwarna oren berpadu dengan pohon-pohon hijau dan hamparan laut berwarna biru terang sangat indah.
Ketika melihat pemandangan yang sangat sempurna seperti itu, seketika pusing yang dirasakan Laura hilang. Bahkan ia tidak memperdulikan suaminya lagi. Laura langsung melangkahkan kakinya menuju resort yang menjorok ketengah laut.
Laura tidak bisa menutupi rasa kagumnya pada pemandangan yang sangat indah tersaji di depan matanya.
"Laura...ayo kita istirahat dulu. Bukankah kepala mu pusing akibat jetlag", ucap Austin memanggil istrinya.
"Tidak lagi. Sekarang aku sudah sehat sayang. Kau saja yang istirahat, aku masih mau menikmati pemandangan yang sangat sempurna ini", seru Laura tidak memperdulikan ajakan suaminya untuk beristirahat di kamar mereka.
"Ck...wanita ini, kalau sudah menemukan kebahagiaan nya lupa pada suaminya", gumam Austin kesal. Ia melangkahkan kakinya menyusul Laura yang sudah berjalan ketengah laut menggunakan jalanan kayu yang tertata rapi. Di ujung jalan itu ada rumah kecil yang dindingnya hanya kaca-kaca saja. Rumah mungil itu semakin menjorok ke tengah laut.
"Oh my God di sini sangat indah", ucap Laura begitu bersemangat. Bahkan ia berdiri di depan rumah mungil itu sambil merentangkan kedua tangannya dengan kepala menatap ke atas.
Austin menggelengkan kepalanya menatap tingkah istrinya itu.
Austin memeluk pinggang Laura. "Kita istirahat saja dulu, kau pasti kelelahan. Kita masih lama berada di tempat ini sayang. Masih banyak waktu mu untuk mengeksplorasi", ucap Austin sambil mengecup wajah Laura.
"Tapi sayang rumah mungil itu, bukan untuk umum. Lihat lah tulisan di sana", tunjuk Laura ke pagar yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua tertempel tulisan melarang siapa pun masuk ke rumah mungil itu.
Austin tersenyum melihatnya. "Ayo kita ke kamar kita. Aku ingin berendam sekarang".
"Aku masih ingin di sini Austin. Kau saja yang berendam. Sekarang masih pagi, matahari nya masih sehat untuk tubuh", jawab Laura menatap ke laut tanpa memperdulikan Austin lagi. Wanita itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, sambil memejamkan kedua matanya.
"Aku tidak mau sendirian aku mau bersama mu Laura, itulah gunanya kita berada di sini", ketus Austin menarik tangan istrinya.
__ADS_1
Laura bersikeras tidak mau mengikuti suaminya. Namun Austin tetap memaksa. Bahkan ia mengancam akan mengangkat tubuh Laura jika ia tidak menurutinya.
"Kau ini menyebalkan sekali Austin. Iya... aku akan mengikuti mu", ucap Laura kesal sambil berjalan mendahului Austin yang menatap lucu di belakangnya.
Saat di dalam resort, Laura tampak kebingungan mau kemana. Ia menolehkan kepalanya, ternyata Austin belok ke kanan tanpa memberi tahunya.
"Huhh.... Austin menyebalkan sekali".
Cepat-cepat Laura menyusul suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan orang-orang di resort tersebut. Sepertinya mereka sangat menghormati Austin. Bahkan orang-orang itu membungkukkan badannya saat Austin melangkahkan kakinya lagi.
Begitupun saat Laura melewati mereka, semuanya menyapa dengan ramah.
Bagian resort, tempat Laura dan Austin sekarang berada terhubung dengan hotel tempat kamar mereka.
Laura setengah berlari menarik tangan suaminya. "Huhh kau tega sekali meninggalkan istri mu Austin. Bagaimana kalau aku tersesat dan ada yang menculik ku", cicit Laura dengan nafas tersengal.
"Kau aman di sini. Tidak ada yang berani menculik mu", jawab Austin menekan lift khusus karena di dinding tertulis 'bukan untuk umum'.
"Austin, kenapa kau menggunakan lift ini. Kau ini lancang sekali", ujar Laura dengan mata melotot menatap suaminya yang terlihat biasa-biasa saja.
"Pemilik nya sudah mengizinkan kita. Nikmati saja fasilitas terbaik saat kita di sini. Ingat ini bulan madu kita, aku ingin membahagiakan mu. Dan aku berharap pulang nanti kita membawa hasil", jawab Austin tersenyum penuh makna.
...***...
__ADS_1
To be continue