THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
DUA TEMPAT BERBEDA


__ADS_3

"Di mana ayah anak mu, Laura? Kenapa ia tidak ada di hari istimewa anaknya?"


"Aku single parent..."


Mendengar jawaban Laura membuat Austin menghembuskan nafasnya. Dengan mimik wajah sulit diartikan.


"Terimakasih karena kau mau menerima potongan kue itu. Aku berhutang banyak kepada mu, karena kau sudah membahagiakan Qiana di hari istimewa nya ini", ucap Laura tulus.


"Aku juga belum mengganti handphone mu yang rusak", ucap Laura lagi sambil menatap lekat netra laki-laki tampan yang berdiri disampingnya saat ini. Austin pun membalas tatapan netra hitam bening itu dengan sorot yang sulit diartikan.


"Bukan masalah. Aku senang melihat anak mu bahagia, Laura. Aku juga merasa tersanjung karena Qiana memberikan potongan kue itu untuk ku. Bukankah artinya putri mu menyayangi ku?", goda Austin mendekatkan bibirnya ke telinga Laura. Berbisik dengan suara lembut.


Laura tidak membalas dengan berkata apapun, ia hanya diam tak bergeming. Namun ucapan Austin membuat jantungnya berdegup tak karuan. Entahlah karena apa. Laura pun sulit untuk mengartikan nya.


Berapa jam berlalu..


Satu persatu teman-teman Qiana pamit pulang.


"Kimberly... terimakasih kau sudah mengajak Noah datang. Lihatlah Qiana sangat senang sekali", ucap Laura menatap Qiana dan Noah sedang bermain di dekat Austin.


Terlihat Austin menggengam tangan Noah dan Qiana menghampiri Laura dan Kimberly.


"Laura, Austin ini kakak kandung ku", ujar Kimberly menjelaskan.


"Oh ya? Maaf Kimberly aku baru tahu. Aku kira kalian hanya keluarga biasa seperti sepupu begitu", balas Laura tersenyum.


"Hm, tunggu sebentar..!"


Laura terlihat membuka clutch yang terletak di atas meja, ia memberikan selembar kertas pada Austin. "Aku harap nilainya cukup untuk menggantikan handphone mu yang rusak karena putri ku, Austin. Aku minta maaf, waktu itu belum sempat mengganti nya".


Austin melihat cek yang di tulis Laura.


"Kau ini...sudah aku bilang berapa kali, lupakan saja. Itu bukan masalah bagiku!", seru Austin terlihat kesal.


"T-tapi..Aku tidak enak Austin", jawab Laura cepat.


"Ayo kita pulang, Kimmy. Aku harus bertemu Matteo dan Domi sekarang", ketus Austin pada adiknya.


"Qiana...sampai jumpa lagi", ucap Austin mencubit pelan pipi gadis kecil itu. Kemudian mengecup puncak kepalanya.


"Apa paman akan menemui ku lagi?", tanya Qiana dengan kedua mata yang membulat sempurna.

__ADS_1


"Tentu saja", jawab Austin. Sekilas netral nya menatap Laura yang diam tak bergeming. Austin berdiri dan langsung membalikkan tubuhnya tanpa berucap apa-apa lagi pada Laura yang menatapnya sesaat.


Melihat tingkah Austin itu, membuat Laura tidak enak sendiri. Ia merasa bersalah. Namun mau bagaimana, Qiana merusakkan handphone milik Austin, pasti nya Laura harus bertanggungjawab.


"Laura kami pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi".


"Iya Kimmy. Bye Noah", jawab Laura tersenyum.


"Bye bibi Laura... bye Qiana", ucap Noah sambil melambaikan tangannya.


*


"Kak... sebenarnya ada apa diantara kakak dan Laura? Kenapa kalian sepertinya sudah saling mengenal lama begitu?", tanya Kimberly sesaat sudah berada di dalam mobil.


Huhh..


"Aku bertemu dengan nya di cafe Matteo. Ia menjadi manajer di sana", jawab Austin tanpa menatap Kimberly. Netra laki-laki itu terlihat fokus pada jalanan yang membentang luas. Namun sejujurnya pikirannya terpatri pada Laura. "Ternyata ia single parent", batin Austin.


"Kami bertemu lagi saat aku menjemput Noah. Qiana menjatuhkan handphone ku hingga kacanya pecah. Makanya Laura tadi memberi ku cek. Uhh...yang benar saja", gumam Austin tiba-tiba kesal.


Kimberly tersenyum melihat kakaknya kesal begitu. "Itu tandanya Laura wanita bertanggungjawab, kak. Seharusnya kakak menilai niatnya dari sisi lain. Ia bertanggung jawab untuk putrinya", ujar Kimberly tersenyum menatap Austin yang terlihat menggaruk kepalanya.


*


Kelly melangkahkan kakinya memasuki lobby kantor Dominic. Kantor hukum milik Dominic itu tidak begitu jauh dari tempat kerja Kelly. Ia sudah berjanji pada Dominic akan mengembalikan buku yang di pinjamkan Dominic padanya seminggu yang lalu. Sekarang hari sabtu, ternyata kantor Dominic masih kerja weekend begini dan kantor itu terlihat ramai.


Kelly segera bertanya pada resepsionis yang bertugas di meja khusus di lobby.


*


Tok


Tok


"Masuk..!"


"Maaf mengganggu anda tuan, di lobby ada wanita bernama Kelly ingin menemui tuan".


"Kelly?"


Terlihat Dominic berpikir sejenak. "Biar kan ia menemui ku, Sonya. Kau bawakan dua gelas oren jus dan pancake marple kesukaan ku", perintah Dominic.

__ADS_1


"Baik tuan", jawab Sonya sopan. Kemudian ia kembali menutup pintu ruang kerja atasannya itu.


Tak berapa lama kemudian, Sonya kembali membuka pintu datang bersama Kelly dan office boy yang membawa nampan berisi oren jus dan pancake marple kesukaan bos mereka.


Sonya mempersilahkan Kelly masuk dan menata makanan di atas meja sofa.


Kelly duduk sambil memangku buku tebal milik Dominic.


"Apa kabar mu Kelly?", tanya Dominic menatap gadis itu dari meja kerjanya.


Kelly tersenyum. "Baik tuan. Saya mengembalikan buku tuan", ucap nya sambil menaruh buku ke atas meja.


Setelah Sonya dan office boy ke luar ruangan dan menutup rapat pintu, Dominic beranjak dari tempatnya menghampiri Kelly, duduk di sampingnya. Dominic mengambil gelas oren jus dan menyesapnya.


"Silahkan minum, kau pasti haus. Kau harus mencoba juga pancakes marple kesukaan ku rasanya sangat lezat", ujar Dominic memberikan piring porselin berukuran kecil ke tangan Kelly.


Kelly mengambil piring berisi sepotong pancakes dan mencobanya. Sesaat Kelly memejamkan matanya menikmati rasa yang benar-benar enak sekali. "Ternyata rasanya memang enak sekali", ucap Kelly tersenyum.


Dominic tersenyum mendengarnya.


"Well... sekarang katakan apa kau benar-benar sudah membaca buku itu? Apa ilmu yang bisa kau petik setelah membacanya?", tanya Dominic layaknya seorang dosen yang menanyai mahasiswinya.


Dominic menatap lekat gadis cantik di sebelahnya sambil menyandarkan sikunya keatas punggung sofa.


Kelly membalas tatapan itu.


"Buku yang merupakan sumber inspirasi bagi mereka yang bertanya-tanya mengapa hukum itu penting, dan mengapa hak harus dilindungi. Buku ini juga menjelaskan cita-cita hukum, keadilan dan kesetaraan", jawab Kelly dengan lugas sambil menatap kedua netra Dominic.


Dominic tersenyum mendengarnya. "Kau benar sekali. Itulah dasar hukum itu", ucap Dominic tersenyum.


"Kau sangat cerdas dan menguasai bidang yang kau ambil, Kelly. Aku yakin dimasa depan kau akan memiliki karir yang bagus di bidang hukum", puji Dominic sambil membawa ibu jarinya ke ujung bibir Kelly. "Ada sirop marple di atas mulut mu", ujar Dominic pelan.


Sontak saja perbuatan Dominic itu membuat Kelly gugup. "Ehm...eh, tuan Dominic sebaiknya saya pulang sekarang", ucap Kelly pelan.


"Aku akan mengantarmu. Aku ada janji bertemu bos mu dan Austin ditempat kerja mu", ucap Dominic.


...***...


To be continue


HARI SENIN NIH, BAGI VOTE YA 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2