
"Tentu saja sebentar lagi paman akan menjadi daddy mu, Qiana", jawab Austin semakin membuat jantung Laura berdebar kencang, gadis itu melototkan bola matanya.
"A-ustin..
"Aku mengatakan yang sebenarnya Laura. Aku ingin kau menjadi istri ku. Aku sudah mengenal mu satu bulan lebih. Aku juga sudah menceritakan masa lalu ku. Kau pun sudah menceritakan masa lalu mu padaku. Kau bilang sendiri tidak sedang menjalani hubungan dengan laki-laki manapun kan?", ucap Austin serius. Jemari tangannya membingkai wajah cantik Laura yang masih belum bisa mengkondisikan pikiran dan perasaannya mendengar perkataan Austin barusan.
"T-api kita belum lama saling mengenal. A-ku tidak memungkiri bahwa aku menyukai mu, Austin. Tapi kalau menikah secara mendadak aku belum bisa menerima nya. Bagi ku pernikahan hanya satu kali saja, jadi aku harus meyakinkan diri siapa laki-laki yang akan menjadi suamiku. Aku tidak mau salah dalam menentukan pilihan ku. Aku juga harus memberi tahu Qiana dengan pelan-pelan", jawab Laura sambil menatap manik biru laki-laki tampan itu.
"Aku tidak keberatan kita pacaran dulu sembari saling menjajaki agar lebih saling mengenal. Untuk menikah kau yang menentukannya. Tapi jangan lama-lama kau mengambil keputusan nya Laura. Umur ku sudah tiga puluh lima tahun", ucap Austin lembut sambil mengusap wajah gadis itu.
"Umur ku dua puluh tujuh tahun, aku juga tidak mau menjadi perawan tua, Austin", jawab Laura tersenyum, Sementara jemari tangannya semakin mencengkram kuat kemeja yang membalut tubuh maskulin Austin ketika merasakan bibir hangat laki-laki itu me*umat bibir nya penuh perasaan. Keduanya berciuman mesra, bahkan melupakan saat ini berada di mana.
"Ya ampun kalian berdua ini berciuman seperti itu di hadapan Noah dan Qiana!Kakak! Laura!", teriakan Kimberly mengejutkan keduanya.
Laura cepat-cepat melepaskan dirinya dan menatap Kimberly yang sedang menutup mata Qiana dan Noah dengan kedua tangannya. Tanpa Laura dan Austin sadari ternyata kedua bocah kecil itu berdiri di dekatnya sambil menatap Laura dan Austin berciuman mesra.
Wajah Laura memerah. "Aku sangat malu", bisik nya pada Austin.
Austin menggaruk kepalanya. "Kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih", ucap Austin sambil memeluk pinggang Laura.
Kimberly melebarkan kedua matanya menatap kakaknya dan Laura bergantian. "Benarkah?", tanyanya untuk memastikan.
Laura tersenyum sambil menyentuh tangan Austin yang melingkar di tubuhnya.
"Iya. Laura akan segera menjadi kakak ipar mu, Kimmy", jawab Austin dengan pasti.
Kimberly tersenyum penuh arti mendengarnya. "Hm... anak-anak ayo sekarang ikut dengan ku. Kita membuat puding buah di pantry", ucapnya yang di sambut sorakan bahagia kedua anak aktif itu.
Austin dan Laura tersenyum melihat Kimberly yang sangat pengertian kepada mereka.
"Apa kita lanjutkan lagi yang tadi, hem?", bisik Austin ditelinga Laura sambil mencium leher gadis itu.
"Kau jangan menggodaku Austin. Kau membuat ku geli", balas Laura sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Menit berikutnya...
"Austin...aku dan Qiana harus segera kembali. Pekerjaan ku belum selesai di kantor. Jarak rumah mu ini ke apartemen cukup jauh satu jam. Aku tidak mau kemalaman di jalan karena macet", ucap Laura melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Tidak. Kita akan menghabiskan malam bersama di sini, Laura. Bukankah besok weekend. Aku sudah menghubungi Matteo, memberitahu kau akan kembali bekerja hari Senin", ucap Austin dengan santainya.
"Austin, bagaimana bisa seperti itu. Aku ini harus bertanggung jawab dengan cafe tempat aku bekerja. Lagian aku tidak enak pada tuan Matteo kalau tidak profesional dalam bekerja", protes Laura sambil melebarkan kedua matanya menatap manik Austin.
"Tenanglah, aku bukan mengajak bolos kerja setiap hari kan. Aku meminta izin pada Matteo karena menyangkut urusan perasaan ku, makanya Matteo langsung memberi mu izin. HM..teman ku satu itu memang sangat pengertian".
"Ckck...kau ini sangat tidak profesional sekali. Hm ..tapi aku dan Qiana tidak membawa pakaian ganti".
"Lihat lah di kamar mu, Leon sudah menyiapkan semuanya", jawab Austin tersenyum.
Laura menatap lekat Austin. Sejak kapan kau merencanakan semua ini, hem?"
"Sejak malam itu. Setelah sampai apartemen, aku tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan mu. Aku memikirkan ciuman pertama kita", ucap Austin menggoda Laura yang wajahnya berubah menjadi merona.
"Setelah pulang nanti, aku akan mengajak mu menemui papa. Kau jangan takut pada Connors dan Amanda, Laura. Aku akan selalu ada di samping mu", ucap Austin serius sambil memeluk tubuh Laura agar lebih merapat pada tubuhnya.
Austin mengecup lembut pucuk kepala Laura.
"Hm... Austin, apa boleh aku berkeliling rumah mu ini? Saat aku sampai di gerbang depan pemandangannya sangat indah sekali", ucap Laura sambil mengangkat wajahnya.
"Ayo ikut dengan ku. Aku akan mengajak kau ketempat favorit ku".
Austin menarik tangan Laura meskipun gadis itu belum menyetujui ide itu.
Setelah berjalan beberapa saat kearah taman yang berjarak dari tempat mereka tadi, Austin menunjuk ke atas pohon.
"Rumah pohon?"
"Iya. Itu tempat favorit ku saat masih kecil. Saat aku tiba kembali di rumah ini, aku sempat kaget ternyata rumah pohon itu masih ada. Menurut Turner, papa ku meminta orang agar rumah pohon milik ku tetap di jaga dan di rawat. Bisa kau bayangkan betapa senangnya aku mengetahui kenangan masa kecilku di rumah ini ternyata masih terawat dengan baik".
__ADS_1
"Apa kau ingin naik ke sana?", tanya Austin sambil mengecup wajah Laura yang sedang mendongak ke atas.
"Jangan takut, pohon oak yang menopang rumah itu sangat kuat dan bisa hidup ribuan tahun. Kayu rumahnya pun terbuat dari kayu terbaik yang sangat kokoh. Jadi tidak akan roboh meskipun tubuh orang dewasa berada di sana", ucap Austin.
"Tentu saja. Ayo, aku penasaran melihat rumah pohon mu", jawab Laura antusias. Beruntung ia memakai celana panjang sehingga memudahkan nya menaiki satu persatu tanggal kayu yang menempel di pohon oak itu.
Setelah sampai di atas, Laura melihat keindahan alam dari ketinggian. Bahkan gadis itu tak henti berdecak kagum. Begitu saat menatap isi rumah pohon Austin, sangat bersih dan rapi. Bahkan di sana tersusun buku-buku bacaan zaman anak-anak.
Austin melebarkan karpet tebal lantainya.
Laura mengambil salah satu buku bacaan kesukaannya. "Ternyata kau membacanya juga. Dulu aku memiliki semua series karya Enid Blyton, buku-buku nya selalu menjadi bacaan ku saat kecil", ucap Laura.
"Sekarang kau bisa membacanya bersama ku", ujar Austin sambil mengecup bibir Laura.
Laura memejamkan matanya dan perlahan membuka mulutnya memberikan izin Austin menjelajah hingga dalam. Kedua berciuman intens dengan nafas menderu hingga terduduk di lantai kayu beralaskan karpet tebal rumah pohon berukuran mungil itu.
Austin melahap dengan rakus bibir ranum Laura bergantian menggigit bibir atas dan bawah gadis itu yang memeluk erat tubuh Austin. Laura pun membalas tak kalah panasnya buaian Austin.
Hingga gadis itu merasakan jemari tangan Austin meraba tubuhnya melalui kemeja ketat yang dipakainya saat ini. "A-ustin..jangan melampaui batasan, aku belum pernah melakukannya", bisik Laura dengan suara bergetar.
Austin menatap manik berkabut Laura dengan kaget. "Apa kau belum melepaskannya pada laki-laki manapun?", tanya Austin sangsi mendengar pengakuan Laura. Yang ia tahu biasanya saat berumur 17 tahun sebagian gadis akan melepaskan keperawanan mereka pada laki-laki yang disukainya. Tentu saja pengakuan Laura membuatnya terkejut, bahkan di usia dua puluh tujuh tahun Laura masih menjaga mahkota nya.
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku ingin memberikannya pada suami ku. Aku ingin benda berharga milik ku hanya di rasakan oleh satu orang saja yaitu suami ku nanti, laki-laki yang aku cintai", jawab Laura sambil mengusap dada bidang Austin yang berada di atasnya.
"Hm...kalau begitu aku akan memaksamu agar menerima ku sebagai laki-laki beruntung itu", balas Austin dengan suara serak, kembali menyatukan bibirnya. Laura tidak menolak sama sekali, gadis itu malah sangat menikmati sentuhan Austin.
Sesaat Austin menghentikan buaiannya, menatap dengan lembut wajah Laura. Perlahan jemari tangannya mengusap wajah cantik gadis itu.
Laura memejamkan kedua matanya, menikmati rasa gelenyar aneh tubuhnya yang sudah lama sekali tidak di rasakanya.
"Aku mencintaimu Laura..."
...***...
__ADS_1
To be continue