
Renata meluruskan kakinya di kursi yang ada di pinggir kolam renang. Ia membaca buku persiapan masa persalinan. Sementara Matteo sedari tadi berenang mengitari kolam renang yang ukurannya sangat luas itu. Entah sudah berapa putaran laki-laki kuat itu melakukannya.
Di perkirakan Renata akan melahirkan awal bulan depan. Renata sudah mempersiapkan dirinya menghadapi persalinan tersebut. Memang sekarang membuatnya sangat cemas, karena ini persalinan pertama nya. Tetapi Matteo selalu setia mendampingi, sehingga Renata tidak merasakan ketakutan yang berlebihan.
Matteo mendekati Renata dengan tubuh basah kuyup, laki-laki bertubuh seksi itu menarik dagu istrinya dan me*umat bibir Renata yang membuat Renata kaget.
Terdengar desisan dari bibir Renata. Renata memukul dada suaminya itu. "Mateo...lihatlah kau membuat ku basah. Bukunya jadi basah juga", protes Renata kesal.
Matteo tertawa mendengar komplain istrinya. Ia sengaja duduk di sebelah Renata dan memeluk tubuh istrinya itu dalam keadaan basah-basahan.
"Sayang hentikan. Keringkan dulu tubuh mu", ucap Renata mencengkram tangan Matteo.
"Sayang sekali melewatkan dirimu. Kau seperti ini sangat menggoda ku saat berenang tadi", ucap Matteo sambil mengusap perut istrinya. "Buku apa yang kau baca, hem?"
"Persiapan masa persalinan. Aku meminta Rea membelinya beberapa hari yang lalu. Aku sangat gugup menghadapi persalinan anak kita", ucap Renata sembari menyadarkan kepalanya pada bahu Matteo.
"Aku akan selalu mendampingi mu, Rena. Kau jangan takut", ucap Matteo sambil mengusap wajah istrinya.
"Sebenarnya aku sangat ingin merasakan persalinan normal Matte, tapi dokter Regina memberikan kita saran sebaiknya persalinan caesar", ucap Renata sambil menautkan jemari tangannya pada jemari tangan Matteo.
Keduanya bertatapan mesra. Jemari tangan kiri Matteo mengusap lembut wajah istrinya.
"Kita ikuti saja anjuran dokter. Aku tidak mau mengambil resiko karena ini persalinan pertama mu, sayang".
"Iya", jawab Renata.
*
__ADS_1
"Domi.. seperti biasanya, aku membayar makanan dan minuman ku. Kau membayar makanan dan minuman mu", ucap Kelly sambil membuka dompetnya dan menaruh dua lembar uang di atas bill. yang ada di atas meja.
"Come on Kelly, kali ini biarkan aku membayar makanan mu", ujar Dominic dengan wajah kesal. Ia sudah memegang kartu di tangannya.
"No Domi, kita lakukan seperti biasa. Atau aku tidak mau lagi menerima ajakan mu makan di luar", jawab Kelly menatap Dominic.
"Fine..."
Dominic menaruh beberapa lembar uang di atas meja.
Dengan wajah kesal Dominic beranjak dari duduknya tanpa menunggu Kelly.
Saat ini keduanya sedang makan malam di sebuah restoran jepang. Sejak awal pacaran Kelly tidak mau Dominic membayar makannya. Gadis itu punya aturan sendiri.
"Domi tunggu!", ujar Kelly setengah berlari mengejar kekasihnya menuju mobil.
"Dominic...kau marah pada ku?"
"Kau membuatku seperti orang bodoh Kelly. Sudah tiga bulan kita sepasang kekasih. Tapi kau tidak mempercayai ku. Kau aneh dengan aturan mu itu, Kelly. Kau tidak mau aku membayar makan mu, kau tidak mau aku belikan sesuatu untuk mu. Apa yang ingin kau tunjukkan pada ku hah? Kau gadis kuat yang mandiri? Kau mampu meski tanpa aku?"
"Apa itu yang ingin kau tunjukkan pada ku?", ketus Dominic kesal.
Kelly terdiam mendengar perkataan Dominic. Kedua matanya membulat sempurna menatap manik kekasihnya yang menatapnya dingin.
"B-bukan begitu, Domi...aku bisa menjelaskan. Ada alasannya kenapa aku seperti itu".
Huhh..
__ADS_1
"Ah sudahlah, kau membuat mood ku rusak saja", balas Dominic geram. Laki-laki itu membuka mobilnya, sementara Kelly terdiam di tempatnya.
Menit berikutnya Kelly masuk kedalam mobil.
Keduanya tidak ada yang membuka suara saat mobil itu melaju. Dominic mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa saat, mobil Dominic berhenti di parkiran apartemen Kelly. Dominic mengepalkan tangannya dan menempelkan tangan itu ke bibirnya. Ia tetap diam.
"Ehem..."
Kelly menatap Dominic. Ia belum membuka pintu mobil itu. "Saat kecil, aku terbiasa melihat mama memeriksa kotak surat di depan rumah kami. Menunggu kiriman uang dari papa yang sudah menikah lagi. Uang itu untuk aku, uang tunjangan".
"Saat yang di tunggunya tidak datang-datang, mama selalu cemas bahkan menangis. Aku selalu melihat pemandangan seperti itu sampai mama meninggal", ucap Kelly tertunduk.
"Setelah mama tiada, aku yang kala itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas baru mengerti. Pantas saja mama cemas dan kuatir ternyata membiayai hidup itu tidak lah mudah. Hingga aku bekerja, dari pagi ke pagi pun aku tetap kesulitan. Bahkan aku mengisi waktu senggang dengan bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan ku. Biaya hidup ku yang biasa-biasa saja masih terasa sangat berat. Beruntung aku di terima bekerja di Tuscany cafe selepas tamat sekolah, hidup ku lebih baik. Aku bisa melanjutkan kuliah", ucap Kelly pelan.
"Aku punya prinsip jangan pernah menggantungkan hidup pada orang lain. Jika orang itu tiada, kau akan kesulitan untuk bangkit".
Dominic mendengarkan penuturan Kelly. Ini yang pertama kali gadis itu bercerita tentang hidupnya.
"Tapi aku tidak akan meninggalkan mu, Kelly. Aku hanya meminta mu menganggap ku ada untuk mu. Saat kita makan bersama, biarkan aku membayarnya. Kau rubah aturan konyol mu itu", ucap Dominic menggenggam jemari tangan Kelly.
"Ternyata hidup sendirian itu selalu menyulitkan. Jika dilakukan berdua beban itu akan terasa ringan", ucap Kelly tersenyum.
"Mulai besok kalau kita makan di luar, kau janji akan membayar makan ku kan. Lumayan uang ku bisa aku tabung", cicit Kelly tersenyum menggemaskan.
Dominic tertawa melihatnya. "Beban hidup mu akan lebih ringan kalau kau menjadi istri ku.."
__ADS_1
...***...
To be continue