THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
BERDAMAI DENGAN HATI II


__ADS_3

Laura tak bergeming. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar. Sementara Austin menggenggam jemari tangan istrinya itu. Bagi Austin masalah Qiana 100% hak istrinya untuk memutuskan. Austin tidak akan ikut campur, karena Laura yang lebih tahu tentang Qiana.


Terlihat Connors memegang perutnya. Laki-laki itu tampak menahan nyeri bekas luka tembakan. Sebenarnya Connors belum di perbolehkan duduk terlalu lama, ia masih harus banyak rebahan.


Laura teringat kata-kata adiknya Brenda agar Qiana jangan pernah bersama Connors. Kata-kata Brenda sesaat sebelum menutup mata untuk selama-lamanya itu tengiang-ngiang di kepala Laura saat ini.


"Aku harus berbicara dengan Qiana pelan-pelan, Connors. Buat ku pribadi tidak masalah kau mengatakan yang sebenarnya, karena Qiana juga berhak tahu siapa ayahnya. Tapi, sebaiknya biarkan aku yang mengatakan pada Qiana siapa kau sebenarnya", ujar Laura bijak.


Connors menghembuskan nafasnya dengan lega. Senyum menghiasi wajahnya. Laki-laki itu mengusap wajah. Jelas terlihat raut kebahagiaan.


"Terimakasih Laura. Bagi ku jawaban ini lah yang aku harapkan. Masalah putriku menerima atau tidak diri ku nantinya dengan lapang dada aku hargai. Karena hal itu tidak akan merubah perasaan ku pada Qiana, aku tetap akan menganggap ia anak pertama ku yang akan selalu aku sayangi. Sekali lagi maaf kan kesalahan ku selama ini Laura", ucap Connors tulus.


Stephanie setia memberikan support pada Connors, tak henti ia mengusap lembut punggung suaminya.


Laura tersenyum pada Connors. "Lupakan lah, aku sudah memaafkan mu. Dengan aku membenci tidak akan merubah keadaan. Adik ku tidak akan kembali lagi", ucap Laura ikhlas.


Connors tersenyum mendengarnya. "Baiklah kalau begitu, aku dan Stephanie harus pulang dulu. Luka ku belum kering benar masih terasa perih. Setelah dari rumah sakit kami langsung kemari. Tadinya aku akan meminta pendapat Austin saja, tapi beruntung ternyata ada kau di sini. Maaf sudah mengganggu waktu kebersamaan kalian", ucap Connors berdiri di bantu istrinya.


"Tidak apa-apa Connors, kau di terima kapanpun di ruangan ku. Kau juga jadi wakil ku di sini", jawab Austin sambil memeluk hangat Connors.


"Terimakasih Austin", jawab Connors.


Begitupun Stephanie, memeluk tubuh Laura.


"Terimakasih Laura sudah memaafkan perbuatan suami di masa lalu. Semoga Brenda tenang di sana. Awalnya aku kaget mendengar pengakuan Connors tentang Qiana. Percaya lah aku sangat menyukai dan menyayangi Qiana. Selama di rumah sakit ia sering menemani Harry dan Ed, mereka sangat akrab. Siapa sangka ternyata memang ada ikatan darah di antara mereka", ucap Stephanie.

__ADS_1


"Iya. Sejujurnya Qia berhak tahu siapa ayah kandungnya. Sampai saat ini yang anak itu tahu, aku lah wanita yang melahirkan nya. Bahkan aku belum menceritakan tentang Brenda padanya. Sementara ia menganggap ayahnya sudah berada di surga. Semoga setelah tahu kebenarannya Qiana akan bahagia menerima Connors sebagai ayahnya".


*


Dominic menyandarkan punggungnya sambil merenggangkan kedua tangan. Sementara kedua netra nya menatap keluar ruang kerja yang berdinding kan kaca


Sebagian karyawan nya sudah pulang. Sebagian lagi masih menyelesaikan pekerjaannya.


Dominic biasanya bekerja hingga larut malam bersama asisten nya Roland di ruangannya itu.


Ceklek..


"Saya membawakan kopi untuk tuan", ujar Roland yang memegang dua gelas cup berwarna coklat tua di tangannya.


"Hem. Apa semua karyawan magang sudah pulang?"


Dominic tersenyum penuh arti mendengar kekasihnya masih ada. "Aku keluar sebentar kau selesaikan laporan itu", perintah Dominic beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil kopi keluar ruangannya.


*


"Ayo sedikit lagi Kelly, kamu pasti bisa.."


Kelly terlihat frustasi dengan laporan yang sedang ia kerjakan. Berulang kali gadis itu melihat jam tangannya sudah menyentuh angka sepuluh malam.


"Apa kau membutuhkan bantuan, hem?"

__ADS_1


Kelly melebarkan kedua matanya menatap sekitar kalau-kalau ada karyawan yang lain melihat Dominic di ruangan khusus karyawan magang.


"Dominic, apa yang kau lakukan di sini, bagaimana kalau ada yang melihat", ucap Kelly setengah berbisik-bisik.


"Kenapa kau berbisik-bisik seperti itu. Tentu saja aku ingin melihat mu apa lagi", jawab Dominic dengan santai duduk di samping Kelly dan mengecup lembut wajah gadisnya itu


Kelly membulatkan matanya. "Domi.. hentikan kita sedang di kantor. Bagaimana kalau ada yang melihat", protes gadis itu.


"Biarkan saja. Lagian sampai kapan kau akan menutupi hubungan kita. Aku lajang, kau lajang...tidak ada yang salah dengan hubungan kita, Kelly. Kau itu gadis yang aneh", ucap Dominic mencubit ujung hidung Kelly.


"Iya memang tidak ada yang salah. Tapi aku merasa tidak nyaman menjadi kekasih atasan ku, Domi. Aku tidak mau ada yang menggunjingkan ku di tempat kerja".


"Hei siapa yang berani membicarakan mu. Besok aku akan mengumumkan hubungan kita yang sudah berjalan tiga bulan ini pada semua orang di sini. Kau juga mulai besok pindah keruangan ku titik. Tidak ada bantahan, tidak ada rayuan maut yang biasa kau lakukan itu", tegas Dominic berdiri dan mencium pucuk kepala Kelly yang terkejut mendengar perintah Dominic.


"T-api...


Dominic tidak menggubris komplain Kelly.


"Tiga puluh menit lagi kita pulang. Kau pulang bersama ku, karena hari sudah malam. Aku tidak akan membiarkan calon istri ku pulang menggunakan angkutan umum", bisik Dominic ditelinga Kelly.


Dominic membalikkan badannya kembali ke ruangannya. Sementara Kelly tak bergeming dengan wajah kaget dan mulut terbuka. Mencerna ucapan Dominic barusan. "Calon istri ku?"


"Apa maksud Dominic bicara seperti itu. Kuliah ku saja belum selesai, kenapa tiba-tiba dia bicara soal pernikahan? Huhh..."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2