THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
KEBAHAGIAAN III


__ADS_3

Renata mengerjapkan kedua matanya. Sesaat manik biru itu terbuka sempurna.Pikiran nya blank, seperti mimpi menyadari ia tertidur di kamar yang asing baginya.


Namun saat merasakan ada yang menindih dadanya, Renata menolehkan kepalanya kesamping dan menatap wajah tampan Matteo berada dekat dengannya.


"Oh my God...aku tertidur sangat lelap sampai melupakan semuanya", gumam Renata sambil merubah posisi tidur nya menyamping menghadap Matteo yang masih tertidur pulas.


Renata menyadari tubuhnya dan Matteo masih dalam keadaan nude dan selimut tebal menutupi tubuh keduanya.


Renata menopang wajahnya dengan tangan kanannya yang menempel di bantal. Kedua manik biru bak safir itu menatap lekat wajah Matteo. Terbersit perasaan bersalah karena ia belum bisa memenuhi tugasnya sebagai istri.


Perlahan jemari tangan Renata mengusap lembut wajah suaminya. "Maafkan aku sayang belum bisa memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri", ucap Renata pelan.


Atas keinginannya sendiri gadis itu mendekatkan bibirnya pada bibir Matteo yang terlelap. Tak ada balasan apapun meskipun Renata semakin menekan kan bibirnya keatas bibir suaminya.


Perlahan jemari tangan Renata mengusap lembut dada bidang Matteo hingga ke perut sixpack nya yang tercetak sempurna.


Matteo membuka matanya. Mendapati istrinya sedang bergerilya sendirian menyusuri tubuhnya. "Kau menggoda ku, hem?"


Tanpa memperdulikan perkataan Matteo Renata berusaha membangkitkan gairah suaminya.


Benar saja, sesaat kemudian terdengar suara mengeram dari mulut Matteo menahan hasrat yang sudah membuncah akibat perbuatan Renata.


"Ah shitt Rena...kau sangat menggoda ku sayang. Rasakan akibat perbuatan mu. Sentuh milik ku, Rena", ujar Matteo dengan suara serak sambil menarik selimut dan melemparkannya ke sembarang tempat.


Renata yang sama halnya dengan Matteo, tiba-tiba merasakan hasrat nya begitu menggelora ingin mengulangi percintaan yang gagal semalam.


Renata menuruti permintaan Matteo menyentuh miliknya yang sudah berdiri tegak. Perlahan mengusap-usap dengan jemari lentik nya.

__ADS_1


Matteo memejamkan matanya merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh istrinya. Begitu nikmat.


"Ah shitt...kau harus menerima akibat perbuatan mu, sayang", ucap Matteo membalikkan tubuh Renata di bawah kungkungan nya.


Tanpa jeda, Matteo meremas dan melahap gundukan kenyal milik istrinya yang begitu menantang. Sementara Renata memejamkan matanya sambil mencengkram kuat rambut Matteo.


"Akh..."


"Apa kita bisa mencobanya lagi, hem?", tanya Matteo tanpa menghentikan buaian-buaian nya pada area-area sensitif Renata.


Perlahan Renata menganggukkan kepalanya. "Iya sayang. Lakukan dengan pelan-pelan", jawab Renata menatap Matteo dengan tatapan memuja.


Seutas senyuman terlukis di wajah Matteo. Perlahan ia mengangkat wajahnya menatap lembut wajah istrinya yang sudah terlihat siap menerimanya.


"Tentu saja aku akan melakukannya pelan-pelan", jawab Matteo sambil mengarahkan miliknya pada pusat tubuh Renata.


Renata mempersiapkan dirinya. Ia memang merasa bersalah karena semalam tidak bisa melayani suaminya. Tapi saat ini ia juga sangat menginginkan penyatuan yang belum pernah dirasakan nya.


Renata merasakan sakit dan perih dipusat tubuhnya teramat sangat. Seperti benda tumpul yang menekan kuat dan merobek di inti tubuhnya.


Buliran-buliran bening jatuh di sudut mata Renata.


"Ohh...Sayang".


Matteo mencium lembut mata hingga bibir Renata. Membiarkan istrinya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum Matteo menguras tenaganya.


Matteo merasakan milik Renata begitu nikmat. Bahkan saat menikahi Angelica, milik wanita itu begitu mudah memasukinya.

__ADS_1


"Ahh... Renata"


Matteo mendiamkan miliknya sejenak, membiarkan inti Renata terbiasa merasakan inti nya.


"Aku akan melakukan nya dengan pelan sayang. Kau akan merasakan sedikit sakit tapi hanya sesaat", bisik Matteo dengan suara berat. Menenangkan istrinya yang nampak gelisah.


Perlahan pinggul Matteo bergerak. Semakin lama menambah temponya. Kian dalam dan menghentak kan milik nya dengan intens. Laki-laki itu bergerak tanpa menindih tubuh istrinya, tentu saja Matteo tidak mau mengambil resiko lagi, Renata kembali kram dan berdampak buruk pada anaknya.


De*ahan dan erangan silih berganti memenuhi kamar kedap suara itu. Nafas menderu hingga teriakan kecil Renata terdengar. Jemari tangan Renata mencakar punggung berotot Matteo hingga kuku-kukunya menggores punggung lebar itu.


Beberapa saat kemudian,


Rasa sakit yang dirasakan Renata berganti dengan rasa nikmat yang begitu membuncah. Ternyata yang di katakan Matteo benar adanya. Jerit kesakitan berganti dengan de*ahan kenikmatan.


Entah berapa kali Renata meneriakkan nama Matteo kala merasakan intinya berkedut berulang-ulang. Renata menggigit bibir bawahnya saat merasakan intinya basah.


Hingga menit berikutnya terdengar Matteo yang mengerang panjang. Renata merasakan cairan panas memasuki intinya. Begitu banyak dan terasa hangat.


"Ahh Renata... kau benar-benar nikmat sayang", ucap Matteo sambil mencabut miliknya setelah beberapa saat. Matteo mengecup kening istrinya dengan begitu sayang.


Renata merasakan perlakuan Matteo sangat lembut dan menyayanginya.


Renata berada dalam dekapan mesra Matteo. Tak menampik mereka adalah pasangan romantis yang saling mencintai. Perlahan jemari Matteo mengusap perut Renata. "Terimakasih sayang kau mengizinkan daddy dan mommy bercinta", ucap Matteo mengecup lembut wajah istrinya.


"Aku akan terus menjaga dan melindungi kalian", bisik Matteo sambil mengecup lembut kening Renata yang sudah memejamkan matanya dengan nafas teratur. Matteo tersenyum melihatnya.


"Ini yang pertama untuk mu, pasti kau sangat kelelahan dan kesakitan setelah ini", ujar Matteo mengusap lembut wajah istrinya yang berada dalam dekapannya.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2