
"Oeeee.... Oeeee"
Suara kencang tangisan bayi terdengar begitu kuat.
"Tuan Matteo, nona Renata... selamat bayi kalian laki-laki", ucap dokter Regina tersenyum. Seorang perawat perempuan menggendong bayi Matteo dan Renata mendekatkan nya pada kedua orangtuanya. Bayi itu sudah di bersihkan.
Matteo mengusap wajahnya. Matteo tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi selain menatap takjub bayi mungil itu.
"Apa tuan mau menggendong bayi tuan untuk pertama kalinya", tanya dokter Regina.
Matteo menatap Renata yang masih tidak percaya ia telah berhasil melahirkan bayi laki-laki surrogate mother dari sel telur milik Matteo dan Angelica.
"Tentu saja", jawab Matteo.
Dokter Regina membimbing Matteo cara menggendong bayi yang baru lahir. Kedua mata Renata berkaca-kaca saat melihat pemandangan menakjubkan itu, Matteo dan bayinya.
"Sayang lihatlah bayi kita sangat tampan", ucap Matteo mencium lembut kening bayi itu. Renata tersenyum haru melihat suaminya sangat bahagia.
Matteo mengusap lembut wajah istrinya. "Terimakasih sayang kau sudah memberikan kebahagiaan sempurna pada ku", ucap Matteo.
Renata menggenggam tangan Matteo dan membawanya ke wajahnya. "Iya sayang. Aku juga sangat bahagia anak kita lahir selamat tidak kurang suatu apapun.
"Sekarang masa observasi nona Renata sudah selesai. Istri tuan bisa masuk ke ruang rawat inap", ucap dokter Regina tersenyum ramah.
Matteo menganggukkan kepalanya. Terlihat perawat mengambil kembali bayi Matteo untuk di masukkan kedalam box bayi.
__ADS_1
*
Hari semakin gelap. Jam di dinding menyentuh angka sepuluh malam.
Matteo menggenggam erat jemari tangan Renata. Sementara bayi mereka terlelap didalam box bayi yang berada di samping tempat tidur Renata.
"Apa bekas operasi nya masih sakit sekali?", tanya Matteo sambil mengusap kening istrinya.
Renata tersenyum dan membalas genggaman tangan Matteo. "Sedikit nyeri", jawabnya.
Terlihat Matteo menghembuskan nafasnya. "Aku akan meminta obat yang ampuh pada dokter sekarang, agar kau tidak merasakan sakit", ujar Matteo mengambil handphone nya di nakas.
"Sayang kau mau apa?"
"Menghubungi dokter Regina. Aku tidak mau istri ku kesakitan hingga tidak bisa tidur malam ini".
"Benarkah tidak apa-apa? Bagaimana kalau kau tiba-tiba sakit tengah malam".
Renata tersenyum mendengarnya. "Kan ada kau di samping ku.."
Matteo mengusap tengkuknya. "Sayang sekali kau tidak bisa sentuh, kalau bisa aku tidak akan memberi jeda. Kita buat anak yang lainnya".
"Matteo...yang benar saja. Kau kira aku ini induk kucing", seru Renata melototkan kedua matanya.
Ceklek...
__ADS_1
"Mana cucu ku?"
Matteo dan Renata menolehkan kepalanya ke pintu, melihat Thomas dan Zaneta.
"Daddy mommy? Kenapa datang malam-malam begini? Kan bisa besok pagi kalian datang", ucap Matteo terkejut melihat orang tuanya nekat datang di saat hari sudah malam seperti ini. Padahal setelah anaknya lahir Matteo sudah mengirimkan video pada ayahnya. Juga pada Sophia mama Renata.
Thomas dan Zaneta tidak menggubris pertanyaan Matteo, mereka langsung menunju box bayi tempat cucu mereka berada.
Thomas dan Zaneta begitu bahagia melihat cucu pertama nya berjenis laki-laki itu. Dan sangat tampan.
"Anak mu sama persis seperti mu saat lahir Matte. Daddy ingat betul", ucap Thomas menatap lekat wajah cucunya.
"Siapa nama cucu tampan ku ini, apa kalian sudah memiliki namanya?".
"Zaynee Wyatt Anderson, laki-laki penerus keluarga Anderson", jawab Matteo dengan lugas.
Thomas dan Zaneta bertukar pandang sambil menganggukkan kepalanya.
"Good Matte. Daddy menyukainya".
Sementara Renata tersenyum haru mendengar alasan Matteo memberikan nama itu pada anak mereka. Bahkan Renata tidak tahu Matteo sudah menyiapkan nama indah itu. Yang Renata tahu, saat di tanya siapa nama anak mereka nanti, Matteo seperti tidak perduli. Ternyata laki-laki itu telah memiliki nama yang akan diberikan nya pada bayi mungil mereka. Kedua netra Renata berkaca-kaca.
"Hidup ku begitu sempurna sekarang", batinnya.
...***...
__ADS_1
To be continue