
"Selamat pagi taun Dominic".
"Pagi. Dimana papa dan mama ku?", tanya Dominic pada pelayan yang menyapanya.
"Tuan dan nyonya Lily sedang sarapan pagi di taman samping tuan".
"Oke, lanjutkan pekerjaan mu. Aku akan menemui mereka".
Pelayan itu berlalu sambil membungkukkan badannya.
Dominic melangkahkan kakinya menemui kedua orang tuanya di dekat kolam renang.
"Morning pa..ma". Sapa Dominic pada Gerard dan Lily yang sedang menikmati hidangan pagi.
Gerard dan Lily kompak menatap putranya. "Domi, ayo sarapan bersama papa dan mama mu".
"Kenapa pagi-pagi begini kau kemari Domi", tanya Lily sedikit ketus. Bahkan lebih tepatnya tidak menyambut kedatangan anaknya dengan hangat.
"Come on sayang, apa kau tidak menyukai putra mu menemui kita?", ucap Gerard menatap istrinya yang memasang muka cemberut. Sementara Dominic tidak perduli, laki-laki itu duduk di hadapan Lily.
"Selama Domi menjalin hubungan dengan gadis itu, hidup ku tidak akan tenang, Gerard. Kalian berdua itu bagaimana bisa sama persis, terjebak dalam pesona ibu dan anak begitu", ketus Lily menaruh sendok yang ada di tangannya di atas piring.
"Maksud mama apa, ibu dan anak?"
"Tanyakan pada papa mu. Yang pasti mama tidak akan pernah memberikan restu pada Kelly menjadi istri mu Dominic!", seru Lily sambil berdiri.
Tindakan Lily jelas membuat Dominic tertegun. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan mamanya seperti itu, sangat membenci Kelly padahal mereka baru bertemu. Kelly tidak melakukan kesalahan apapun pada mamanya itu.
"Jangan seperti remaja belasan tahun, Lily. Perasaan ku pada Lorencia adalah masa lalu", ucap Gerard menatap istrinya.
__ADS_1
"Kau yakin? bagaimana mungkin foto wanita itu masih kau simpan dengan baik Gerard, jika kau menganggapnya masa lalu mu".
Dominic menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia berpikir cepat. Dominic baru menyadari ternyata ayahnya pernah menjalin hubungan dengan Lorencia mamanya Kelly. "Hubungan rumit dan pelik", batin Dominic.
"Mah, wanita itu kan sudah meninggal. Kenapa mama masih memusuhinya? Dan buntut kecemburuan mama kenapa Kelly yang harus menerimanya?"
"Karena papa mu akan selalu mencintai nya sampai kapan pun", jawab Lily membalikan badannya hendak pergi.
"Hei .. kita selesaikan semuanya sekarang mumpung ada putra kita disini", tegas Gerard menarik tangan istrinya agar duduk kembali di kursi nya.
Mau tidak mau Lily mengikuti perintah suaminya. Kembali duduk dengan perasaan marah.
"Kejadian itu sudah lama sekali Lily sudah separuh hidupku. Kejadian itu saat kami masih duduk di bangku kuliah. Aku akui pernah sangat mencintai Lorencia, tapi Lorencia tidak pernah membalas cintaku. Ia menganggap ku kakaknya, sementara perasaannya pada Felix berbeda. Lorencia mencintainya. Itulah kenapa mereka menikah".
Dominic mendengarkan penuturan ayahnya dalam diam. Sementara Lily masih menampakkan wajah kesalnya.
Terlihat Lily semakin tidak suka mendengar suaminya memuji wanita itu.
"Yang kau lihat itu hanya sebuah foto, Lily. Sementara orangnya sudah tiada di dunia ini. Aku aneh akan sikap mu ini, bagaimana bisa kau masih membenci pada wanita yang sudah meninggal. Dimana akal sehat mu, Lily".
"Kau harus bersikap bijaksana, akui bahwa Lorencia tidak melukaimu. Ia tidak pernah merusak rumah tangga mu. Buang jauh-jauh kebencian mu pada putrinya. Terimakasih gadis itu menjadi bagian keluarga kita", tegas Gerard sambil menggenggam tangan istrinya.
Dominic setuju dengan apa yang di katakan ayahnya. Kelly tidak tahu apa-apa tentang orang tua mereka. Lagian Lorencia tidak melakukan kejahatan apa pun. Kenapa harus di buat rumit.
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah menerima gadis itu di kehidupan ku. Karena wajahnya akan selalu membuatku membenci. Wajah polos itu mengingatkan aku ada wanita yang sangat di cintai mu. GERARD!"
Lily beranjak dari kursinya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke kamar nya dan Gerard.
Dominic menatap punggung mama nya hingga pintu kamar tertutup rapat.
__ADS_1
Huhhh...
"Aku ingin segera menikahi Kelly, pa. Itulah tujuan ku kemari. Memberi tahu mu dan mama. Aku tetap akan menikahi Kelly meski belum mengantongi restu mama. Karena bagiku Kelly gadis sempurna. Sedangkan usia ku semakin bertambah", ujar Dominic sambil menyesap susu hangat miliknya.
Gerard menganggukkan kepalanya. "Papa merestui kalian, nak. Namun alangkah baiknya mama mu juga memberikan restu itu. Berusaha lah lebih keras lagi agar mama mu memberikan restu nya. Daddy yakin mama mu akan terbuka hatinya, Domi".
"Iya pa".
*
Kelly baru saja selesai menyapukan makeup tipis di wajahnya. Ia segera akan kekantor. Semenjak Kelly kejadian dengan camel beberapa waktu yang lalu, Dominic menempatkan Kelly satu ruangan dengannya. Dominic juga meminta Kelly datang jangan terlalu pagi. Laki-laki itu tidak mau Kelly terlalu lelah karena harus menyelesaikan skripsi nya juga.
"Huh hari ini aku harus memberikan jawaban pada Dominic. Ia ingin pernikahan kami di percepat" .
Ting
Tong
Terdengar bunyi bel di pintu flat sederhana milik ya.
Kelly segera membukakan pintu tanpa melihat terlebih dahulu dari lubang intip yang ada dipintu, siapa orang yang menekan bel itu.
Ceklek...
Kedua mata hitam Kelly melebar, menatap tak percaya siapa orang yang berdiri di depan pintu apartemen nya saat ini.
"K-kau...? Apa yang kau lakukan di apartemen ku? A-pa mau mu...?!"
...***...
__ADS_1