
"Selamat malam".
Suara lembut menyapa semuanya.
Leonard tersenyum. "Sayang duduklah. Kau pasti mengenal temanku Austin Alexandre kan?", ucap Leonard pada wanita cantik dan sangat seksi yang berdiri tepat di belakang Austin.
Laura menolehkan kepalanya dan memberikan senyuman. Sementara Austin mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangannya, tubuhnya tak bergeming sedikitpun.
"Austin kenalkan Shania, tunangan ku", ucap Leonard berdiri memeluk pinggang tunangannya dan mendaratkan sebuah ciuman di wajah wanita cantik berambut coklat itu.
Shania tersenyum penuh arti dan menatap lekat wajah Austin. Austin pun menatap nya sekilas.
"Sudah lama kita tidak bertemu Austin. Ternyata bisnis mu semakin maju pesat di sini. Kau benar-benar mewujudkan keinginan mu, membangun resort di sebelah hotel ini. Kau juga membangun pondok kaca itu", ucap Shania menatap Austin yang menyandarkan punggungnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum tipis terlihat dari sudut bibirnya.
Deg..
Seketika jantung Laura berdebar kencang. "Pondok kaca...?"
Laura mencerna semua perkataan wanita itu. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Tiba-tiba perasaannya tidak nyaman. Laura menatap Austin, seakan menunggu jawaban suaminya atas ucapan Shania.
"Shania, Austin sekarang sudah menikah", ucap Leonard memberi tahu kekasihnya itu.
__ADS_1
Shania yang masih berdiri di hadapan Austin mengalihkan perhatiannya pada Laura. Wanita itu dari pertama datang tak henti menatap Austin, baru sekarang ia mengalihkan perhatiannya. Menatap Laura yang duduk di samping Austin. Laura semakin tidak nyaman sekarang.
Shania mendudukkan tubuhnya tepat di depan Austin menatap tajam Laura. "Oh ya...jadi kau sekarang sudah menikah?Selamat atas pernikahan mu", ucap Shania. Namun terselip nada sinis.
"Terimakasih", jawab Laura berusaha ramah dan tersenyum hangat meskipun beribu-ribu pertanyaan berseliweran di kepalanya saat ini.
"Leonard maaf, aku dan istriku tidak bisa berlama-lama di sini. Sebenarnya ini bulan madu kami", ucap Austin.
"Dan istriku mengalami jetlag setelah penerbangan panjang. Kami baru mendarat tadi pagi", ucap Austin menatap Leonard.
"Come on Austin, santai lah sejenak. Istri mu tidak apa-apa, ia akan baik-baik saja. Iya kan Laura?", ucap Leonard tersenyum menatap Laura.
Austin menatap Laura dan mengecup lembut wajah nya. "Kau yakin sayang?"
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Hubungan Austin dan wanita itu. Dan ternyata hotel, resort tempat mereka ini adalah milik suaminya sendiri tentu mengejutkan Laura. Entahlah apa maksud Austin menutupi dari dirinya. Laura akan mencari tahu dan menanyakan langsung pada Austin nanti. Sekarang Laura ingin menunjukkan sikap yang sewajarnya, sikap normal dan biasa-biasa saja pada semua orang di sana.
Selama menjalin hubungan dengan Austin, memang mereka lebih banyak membahas tentang Laura. Austin lebih banyak mengetahui tentang Laura sementara Laura sangat sedikit mengetahui tentang kehidupan percintaan Austin. Yang ia tahu sebelum mereka bertemu, Austin selama ini tidak mau berkomitmen untuk sebuah hubungan pernikahan.
*
__ADS_1
Malam semakin larut. Austin dan Leonard benar-benar membicarakan bisnis mereka. Sementara Shania yang sepertinya sangat paham tentang berbisnis menyatu dengan tema yang mereka bahas.
Sejujurnya Laura mulai bosan saat ini. Awalnya ia biasa-biasa saja melihat Austin berbincang dengan Leonard dan Shania. Tapi melihat mereka sangat akrab membuat perasaan Laura tiba-tiba cemburu. Sudah dua gelas sloki Laura meneguk wine hingga tandas. Hal yang tidak akan pernah Laura lakukan saat pikiran nya tenang.
Seketika tubuh Laura panas dan kepalanya pusing.
Austin yang melihatnya, mengingatkan Laura jangan minum wine lagi, karena ia tahu tubuh istrinya itu lemah terhadap alkohol.
Laura mendekatkan bibirnya pada telinga Austin. "Aku tidak apa-apa sayang, aku kuat", bisik dengan suara bergetar.
Austin sadar ada yang tidak baik-baik saja pada istrinya saat ini. Bahkan ia melihat mata Laura sudah berkaca-kaca.
"Leonard. Aku dan istriku harus pergi sekarang. Kalian silahkan lanjutkan bersenang-senang, aku mentraktir kalian", ucap Austin sambil membantu Laura berdiri. Bahkan Laura sudah tidak sanggup menopang tubuhnya dengan baik, ia memegang kepalanya yang terasa berat.
"Ah Shitt", umpat Austin memeluk pinggang Laura menuju kamar mereka.
...***...
To be continue
Tinggalkan komentar, pasti author up lagi 🤗
__ADS_1