THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
ULANG TAHUN QIANA


__ADS_3

"Noah...jangan lari sayang nanti kau terjatuh", ucap Kimberly mengingatkan putranya yang lepas dari genggaman tangan pengasuh nya.


Saat ini Kimberly dan Noah pergi ke acara ulang tahun Qiana yang diadakan di sebuah hotel berbintang.


Noah sangat antusias sekali ke acara tersebut, bahkan saat perjalanan kemari tak henti berceloteh.


Kimberly memilih duduk di kursi dengan meja bundar yang sudah di sediakan untuk orang tua. Sementara teman-teman Qiana disediakan tempat khusus dengan beberapa wahana permainan. Terlihat semua anak-anak bergembira bermain dan bernyanyi bersama.


"Di mana Noah?"


Kimberly menolehkan kepalanya menatap Austin.


"Kakak turun juga?", tanya Kimberly aneh melihat Austin ada di sampingnya. Karena saat di apartemennya Noah memaksa kakaknya itu menemaninya mencari kado untuk Qiana. Austin sempat menolaknya. Kemudian Noah merengek agar paman nya ikut ke acara ulang tahun Qiana. Jika sudah begitu, Austin tidak akan bisa menolak keponakan kesayangan nya itu.


"Aku bosan menunggu kalian di dalam mobil", jawab Austin tanpa memperhatikan sekitar. Ia sibuk dengan handphone nya. Membaca email yang di kirim Leon asistennya.


Hingga acara puncak, Qiana di minta pembawa acara memberikan potongan kue untuk tiga orang yang disayanginya.


Di bantu Laura, Qiana memotong tiga kue yang di letakkan masing-masing ke atas piring kecil yang sudah disiapkan.


Potongan kue pertama tentu saja gadis mungil itu memberikan untuk Laura mommy nya. Tak henti Laura mencium wajah putrinya dengan penuh haru dan kasih sayang. Bahkan ia menitihkan air matanya saat menerima potongan kue dari Qiana, ketika jemari mungil itu memeluknya.


Kemudian Qiana memberikan potongan kue yang kedua pada teman perempuan nya.

__ADS_1


Untuk potongan kue yang ketiga, terlihat gadis mungil itu kebingungan. Kedua bola mata bening miliknya mengedarkan pandangannya ke semua orang yang ada di ruang bernuansa pink dengan tema princess. Qiana sendiri terlihat sangat cantik bergaun merah muda seperti putri kerajaan. Sementara diatas kepalanya memakai mahkota yang indah.


Qiana sekilas menatap Laura, yang di sambut Laura dengan senyuman. "Qiana boleh memberikan potongan kue itu kepada siapapun yang hadir di acara ini", ucap Laura dengan penuh kasih sayang mengusap lembut wajah putri mungilnya yang terlihat kebingungan.


Qiana menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju seseorang. Laura menatap langkah yang di tuju putrinya tersebut. Hingga membuatnya terkejut saat Qiana berhenti di belakang Austin yang terlihat sibuk dengan handphone nya.


Tentu saja tindakan Qiana itu mengejutkan semua orang terutama Laura dan Kimberly. Sementara Austin sendiri tidak menyadari kehadiran bocah kecil itu didekat nya.


"Kak..!"


"Kak..!", ujar Kimberly sambil menyenggol lengan Austin dengan sikunya. Tindakan Kimberly itu membuat Austin menolehkan kepalanya pada adiknya itu. "Ada apa? Aku sedang membalas email dari Leon".


"Itu Qiana..."


Austin segera menoleh kan kepalanya menatap gadis kecil itu, dengan perasaan bertanya-tanya. "Qiana?"


"Ayo paman...paman harus ke depan", ucap Qiana berbicara khas anak seusianya. Merengek dan menarik tangan Austin. Memaksa, tanpa menunggu persetujuan Austin.


Austin menatap Laura yang berdiri di depan dengan wajah terlihat pucat dan salah tingkah.


"Apa yang harus aku lakukan?", bisik Austin ditelinga Kimberly.


"Ikuti saja permintaan nya. Anggaplah kau beramal menyenangkan hati anak kecil", balas Kimberly menahan tawanya melihat kakaknya terlihat bingung.

__ADS_1


Menit berikutnya Austin berdiri dari tempat duduknya sambil menggenggam erat jemari tangan Qiana berjalan ke depan, kearah Laura berdiri.


Saat di depan Qiana menyuapkan potongan kue pada Austin yang menerimanya sambil tersenyum. Austin juga memberikan ciuman pada pipi Qiana. "Selamat ulangtahun Qiana", bisik nya.


Laura menatap Austin. Begitu juga sebaliknya.


Tamu undangan pun bertepuk tangan.


Selanjutnya Austin berdiri di sebelah Laura, sambil bertepuk tangan juga melihat Qiana dan teman-temannya menari dan bernyanyi. Bergembira bersama.


"Kenapa kau mau menerima potongan kue itu? Kau bisa menolaknya", ucap Laura tanpa menatap Austin. Pandangan matanya lurus ke depan sementara bibirnya melukiskan senyuman.


"Di mana ayah anak mu, Laura? Kenapa ia tidak ada di hari istimewa anaknya?", tanya Austin dengan lugas tanpa sungkan sedikit pun untuk menanyakan hal pribadi seperti itu. Ia bahkan tidak menggubris pertanyaan Laura kenapa mau menerima potongan kue dari Qiana.


Laura terdiam. Sesaat ia menunduk wajahnya. "Aku single parent..."


...***...


To be continue


Semoga puas membaca 6 bab hari ini. Mudah-mudahan kita jumpa lusa dalam keadaan sehat walafiat dengan jadwal seperti biasa.


Tetap dukung terus TFM 🙏

__ADS_1


__ADS_2