
Festival Perempuan begitu sangat meriah.
Antusias para Putri Kerajaan menyambut Festival ini sungguh sangat luar biasa.
Ibu kota Thedors menjadi pusat ikon Acara Festival Perempuan.
Semua wanita dan anak Perempuan memakai pakaian begitu cantik.
Beda halnya dengan Gween..
Saat ini dirinya mengenakan pakaian laki-laki.
Sehingga mmebuat Rose sangat marah.
Dan menjewer telinga anaknya tersebut.
" A.. ampun Bu.. Ampun " ujar Gween meringis kesakitan.
" Tidak! Kau itu seorang Perempuan, seharusnya harus tampil cantik dan anggun, bukan malah bermain dengan kekerasan dan juga mengenakan pakaian laki-laki seperti ini " Rose terus saja mengocehi Gween, sehingga telinga Gween begitu sangat panas mendengarnya.
" Semakin besar kok ya semakin begini jadinya! Pokoknya ibu tidak mau tau. Bersikaplah selayaknya seorang Putri !" Tegas Rose tak ingin di bantah.
" I.. iya bu" ujar Gween menurut . Sungguh Gween selalu saja kalah jika Rose yang sudah turun tangan, mau tak mau Gween harus menjadi wanita berpenampilan Normal pada umumnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Gween ingat akan Saudaranya itu, iya Hellena sangat ingin bisa menjadi pusat perhatian dalam Festival Perempuan ini. Maka Gween memiliki idenya sendiri, meskipun dirinya berpenampilan Normal selayaknya wanita pada umumnya.
Akan tetapi Gween, akan mengenakan sebuah cadar untuk menutupi dirinya.......
" Hm... Lumayan. Tidak akan ada yang mengenaliku " ujar Gween menyunggingkan senyumnya.
Sebetulnya, paras Gween sangat berbeda dari para putri yang lainnya.
Gween memiliki kulit putih bercahaya, dan kulit selembut sutra, wajahnya yang sangat cantik, dan sangat menawan, mampu membuat semua mata terpesona melihatnya.
Gween telah menjadi sorotan ketika masih kecil, dan semua orang selalu memuji Gween kecil, sehingga membuat kecemburuan mata di hati Hellena.
Saat memasuki usia 13 tahun, Gween mulai merubah cara penampilannya, layaknya seorang perempuan biasa sampai saat ini beranjak Dewasa, dengan penampilan tak terlalu mencolok seperti seorang Putri. Kulit putihnya, selalu tertutup dengan baju berlengan panjang. Rambut panjangnya selalu di kuncir kuda. Gween Seperti Putri yang sangat tomboy, tanpa polesan sedikitpun di wajahnya, di biarkan saja seolah terlihat usang, padahal dirinya sengaja mengolekan sebuah tanah sedikit di wajanya, sehingga pujian semua orang terhadap Dirinya pun perlahan memudar. Kesibukannya belajar ilmu bela diri, dan tenaga dalam. Membuatnya terbiasa dengan penampilan simpel seperti itu.
" I.. iya bu. . " Gween gugub, lalu melepas kembali cadarnya. Dirinya langsung membalikan tubuhnya.
Seketika, Rose terkejut. Sungguh Putrinya yang satu ini sangat lah luar biasa. Rose senang melihat penampilan Gween yang seperti ini.
" Anakku.. kau memang sangat cantik! Dan.. ibu tidak ingin Gweenku mengenakan pakaian yang seperti itu lagi. Kau dengar tidak? " ujar Rose dengan nada mengintimidasinya.
" I.. iya... Gween pergi dulu bu. Sampai jumpa " Gween langsung bergegas meninggalkan Rose. Rose hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Pyuhh.. akhirnya " ujar Gween bernafas lega, dan mengenakan cadarnya kembali.
__ADS_1
Tanpa Gween ketahui, sebenarnya Panglima Avyram dan Juga Rose ikut menghadiri Festival Perempuan itu, dimana pada saat Festival nanti, akan ada penyambutan anggota kerajaan yang sangat penting.
Di dalam Keramaian, Gween melirik semua wanita cantik dengan penampilannya, mata Gween jatuh ke arah dua saudaranya tersebut ,Hellena dan Hera.
Kedua saudaranya itu, sedang berbincang dengan para Putri lainnya.
Gween tersenyum melihat saudaranya itu, ketika Gween hendak menghampiri mereka. Gween langsung teringat jika dirinya sedang menyamar .
" Hampir saja " Gumam Gween dalam hati.
Saat hendak berbalik.
Brukh....
Gween tak sengaja menabrak seseorang.
Tubuh Gween hampir jatuh ke belakang.
Akan tetapi sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tangannya, dan menopang tubuh Gween.
Untuk beberapa saat, tatapan mata mereka bertemu.
# Jangan lupa, LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA!!
__ADS_1