
" Kau tau Hans, Perusahan pusat ke dua yang ada di inggris itu merupakan jantung pusat utama bagi perusahaan ini. Siapa yang berani-beraninya membocorkannya, dan mengetahui kelemahan perusahaan ini ? Aku tidak akan melepaskannya." Tuan Admaja mengepalkan tangannya cukup kencang, dadanya bergemuruh, akan tetapi ia tak bisa meluap kannya terlalu berlebih, jika ia lepas kendali, ia bisa kehilangan nyawanya sendiri.
Kantor cabang Pusat ke 2 merupakan kloningan dari Pusat pertama, dimana berbagai data dari perusahaan penting berada di sana. Hal tersebut tentu saja mampu membuat Tuan Admaja sangat kaget.
Ia tidak menduga akan menjadi seperti ini.
" Hans ! Segera buat rencana. Dan..... Aku ingin Garendra kemari, anak itu benar-benar bisa membantuku, jika bukan karenanya. Seumur hidupku aku tidak akan mengetahui hal tersebut !" Ujar Tuan Admaja masih dengan mata terpejam.
" Baik Tuan " Hans segera berbalik dan meninggalkan Tuan Admaja sendiri di dalam ruangan tersebut.
" Garendra ! Bagaimana kau bisa mengetahui hal sebesar ini " gumam Tuan Admaja dengan seribu pertanyaan di benaknya.
"Dan Siapapun dalangnya. Sepertinya mereka ingin berperang secara diam-diam untuk merebut kekuasaanku ini . Tidak akan ku biarkan ini terjadi" ujar Tuan Admaja dengan amarah di dalam hatinya.
☁☁
" Kau yang disana ?" ujar Garendra sambil memutar-mutar bulpen di sekitar jarinya.
" Iya Tuan " jawab cepat Harry yang sedari tadi berdiri cukup lama di samping meja Kerja Garendra.
" Kau tidak lihat tempat duduk di depan matamu ?" Harry yang terkejut langsung menatap Kursi empuk yang ada di hadapannya, ia berpikir jika ada sesuatu di kursi itu sehingga dirinya mendapat teguran .
" Sa-saya lihat Tuan, saya akan segera membersihkannya " ucap Spontan Harry sambil mengeluarkan sampul tangan di kantongnya
Garendra mengernyitkan kening.
" Hei !" suara itu seakan sangat menyeramkan di dengar olehnya, dengan menciut, Harry kembali mundur.
" Apa yang kau lakukan ?" tatap Tajam Garendra. " Lap apa itu ?" tunjuk Garendra dengan bulpen yang ia pegang.
" I-ini sampul tangan saya tuan "
Harry berkeringat dingin saat Kedua mata Garendra menatap ke arahnya.
" Aku tidak menyuruhmu membersihkannya ! "
__ADS_1
" Duduklah"
Apa !
Harry sangat terkejut, ia tak ingin bertingkah salah.
Matanya kembali memutar menatap sampul tangannya sendiri, lalu memasukannya lagi ke dalam kantong celananya.
" Maafkan saya Tuan Muda, saya lebih baik berdiri" tunduk Harry tak ingin melakukann kesalahan fatal.
" Kau membantahku ?" sorot mata itu seakan menusuk tajam ke arahnya. " Kau mengganggu penglihatannku jika kau berdiri di sana. Mataku sakit melihatnya" sindir Garendra tak suka.
What !
Jujur saja, Harry ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam rawa-rawa.
Apa ini ?
Apa dia hama ?
Bagaimana bisa Tuan Mudanya ini bisa sakit mata melihatnya.
Harry segera meraih kursi yang ada di hadapannya dan duduk di sana.
" Kau yang sedang duduk ?"
Harry yang mendengar Tuannya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan nama.
Menjadi kesal sendiri.
" Tuan Muda, Namaku Harry. Apakah aku harus memperkenalkan lagi siapakah aku ini "
gumamnya, seakan mau menangis dalam hati.
" Iya Tuan " jawabnya sembari menahan kejengkelannya.
__ADS_1
" Tidak perlu terlalu formal jika denganku, Kau ini seperti robot. Aku tidak suka !" ketus Garendra tanpa rasa bersalah.
" Ro-robot.... Apakah aku selama ini sekaku itu ? Bagaimana tidak kaku, Matanya itu sangat menakutkan saat menatap ke arahku " Batinnya.
" Harry Apa namamu itu bisa membuatku beruntung ?" tanya Garendra tiba-tiba, dan berhasil membuat Harry mendongakkan kepala menghadap langsung ke arahnya
Hah ?
" Sa-saya tidak tahu Tuan" gugub Harry begitu terkejut.
" Tuan muda menyebut namaku... " lirih Harry dalam Hati.
" Haish.. sudahlah. Bantu aku mngerjakan ini " Garendra memberikan setumpuk berkas ke hadapannya.
Dengan cepat, Harry membantu Tuan Mudanya itu.
" Ck dasar anak ini, memangnya kenapa dengan namanya, apa pentingnya untukku sebut atau tidak" ujar Garendra dalam hati. Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Ada apa dengan Tuan muda, terkadang ia menyeramkan, terkadang bersikap baik walau kasar, sungguh sifatnya sulit di tebak " gumam Harry dalam hati.
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok
" Tuan muda, ini saya Hans"
" Masuklah" .
" Ada apa paman ?"
" Maaf mengganggu waktu anda Tuan Muda, Saya kemari atas perintah Tuan Besar, Tuan besar memanggil Tuan untuk segera menemui dirinya" ujar Hans menunduk dengan sopan.
" Hem, Baiklah " Garendra melirik ke arah Harry, dan menatapnya " Selesaikan terlebih dahulu,"
" Baik Tuan muda" ucap Harry menganguk.
__ADS_1
# Jangan lupa, Like, Komen, dan vote.
" Perjalanan Averry baru segera di mulai guys "