
..." Harap tinggalkan Jejak terlebih dahulu" Author....
Terimakasih.
___________
Sosok laki-laki tampan kini keluar dari kamar mandi, yang hanya menggunakan sebuah handuk yang masih melilit di pinggang, sisa-sisa air terus saja menetes berseluncuran dari rambutnya, tubuhnya yang saat ini terekspos menunjukan bentuk tubuh yang begitu profosional dan berotot semakin menambah kesexyan dan kekekaran nya.
Tanpa sadar, Lucy terpaku di tempat, matanya tak berkedip sedikitpun. Mulutnya kini menganga dengan wajah yang bersemu merah...
" Kau sudah sadar" Suara itu berhasil menyadarkan Lucy dari lamunanya.
" Hah... I-iya " ucapnya terbata-bata, berusaha mengalihkan pandangannya.
Bukannya berteriak, Lucy malah berpaling menghadap kesisi lain.
Ia bukan wanita bodoh atau pun polos yang akan berteriak saat baru pertama kali melihat hal seperti itu.
Ia sering melihat saudaranya bertelanjang dada di depannya, baginya itu sudah sangat lumrah. Bahkan ia sering melihat aksi bertarung yang hanya mengenakan pakaian bawah saja.
" Lantas kenapa masih disini. Cepat keluar lah " sentak Garendra yang begitu tegas.
Lucy yang kesal mendapat sentakan seperti itu dari laki-laki di hadapannya, langsung mencetak kekesalan di keningya.
" Jika aku bisa, aku tidak akan menunggumu" ketus Lucy sembari memalingkan wajah kekesalannya.
" Ohh rupanya kau sadar juga "
__ADS_1
Garendra dengan santainya perlahan melewati Lucy begitu saja.
Dan membuka sebuah lemari pakaian, lalu mengambil beberapa helai di dalamnya.
Sementara itu, Ingatan yang sangat memalukan bagi Lucy tadi malam kini berputar-putar di kepalanya.
Lucy begitu sangat malu.
Merutuki kebodohannya
Dan menggigit bibirnya sendiri.
" Apa dia sengaja memancing kesalahanku, dasar manusia menyebalkan " rutuk Lucy dalam hati.
Tanpa di sadari olehnya, Garendra bisa mendengar suara hatinya.
Dan menyunggingkan senyum sinisnya.
" Maaf, semalam aku tidak sadar " tunduk Lucy merasa malu.
Perlahan Garendra memajukan langkah, dan mendekatinya.
Ia mengangkat wajah yang tertunduk itu dengan satu tangannya.
Lucy pun mendongak, dan menatap sosok yang begitu sangat dekat sengan wajahnya.
" Oh ya , Apa dengan menendang pintu dan membuat keributan di depan kediaman orang itu juga tidak sadarkan diri, kurasa kau begitu bertenaga melakukannya " sindir Garendra dengan tatapan mautnya
__ADS_1
" Ck, dasar menyebalkan. Dia sengaja mengungkit kesalahannKu semalam" gumam Luci dalam hati sembari mengepalkan tangannya.
" Sabar , Lucy. Kau harus sabar. Ini memang salahmu. " ujarnya sembari menyemangati dirinya sendiri.
Dengan senyum terpaksa, Lucy perlahan melepaskan tangan yang saat ini sedang memegang dagunya .
" Bisakah anda mundur sedikit, hekhem... maksudku kita terlalu dekat"
Garendra yang menyadari ucapan Lucy pun akhirnya memundurkan langkah.
Ia tak berniat mendekati wanita ini.
" Ck, apa dia pikir aku sengaja mendekatinya. Heh, percaya diri sekali" gumam Garendra dalam hati, ia pun meraih sebuah kunci berliontin Lambang Kerajaan Machkenzie dan berjalan segera mengarah ke pintu tersebut.
" Keluarlah " tegas Garendra dengan tatapan tajamnya.
" Iya, tanpa kau suruh pun aku juga ingin keluar dari tempat ini " Lucy pun berjalan sembari mengehntakkan kakinya sendiri ke lantai.
" Tunggu ! " Garendra kembali menahan pintu tersebut , dan menatap Lucy dengan pikiran liciknya. " Kau ingin keluar bukan ? Baik dengan senang hati pintu ini terbuka, tapi kau berhutang kepadaku, suatu saat kau harus membayarnya "
" What ! Apa maksud anda yah ? Sejak kapan saya berhutang kepada anda " Lucy mengerutkan keningnya karena kebingungan.
" Sejak Semalam dan saat ini. Cepat Keluar , !!" Sentak Barra semakin geram, karena wanita yang ada di hadapannya belum juga bergerak sama sekali.
" Dasar Gila..." umpat Lucy dalam hati,
Pukul menunjukan 08:00 ,
__ADS_1
Accademy Royal Green akan mengadakan apel pertemuan antar Groub.
# Jangan lupa like, Komen , dan votenya.