
KEESOKAN PAGINYA
" Achuuu..... Dasar Pangeran menyebalkan. " Rasanya pagi itu Azoya sangat jengkel sekali dengan Pangeran Arthur, Bagaimana tidak, semalam dirinya melakukan penyatuan di dalam bak mandi selama berjam jam, dan menyebabkan tubuhnya menggigil kedinginan. Karena di selimuti kecemburuan, Arthur ingin membersihkan virus virus berbahaya di tubuh istrinya itu. Helai demi helai kain yang menutupi tubuh Azoya, kini tertanggal sudah. Terutama tangannya. tak henti hentinya ia bilas dengan air. Entah ada rasa dendam apa Pangeran Arthur dengan Raja Moura, rasanya dirinya tidak iklas dan tidak suka.
Niat hati ingin membersihkan Tubuh Istrinya itu. Pangeran Arthur ikut terbuai dan tergoda melihat tubuh polos dan sexy Azoya. Beberapa kali dirinya menelan salivanya, Alhasil,,,,,
Arthur tidak bisa mengontrol perasaannya yang mulai tak karuan, Suhu tubuhnya memanas, dan malam panjangpun terjadi di dalam rendaman air malam yang sedikit menusuk kulit.
" Nona.. Ini sup jahenya, silahkan Nona minum " Yuri menghampiri Nonanya itu, yang terkapar di atas kasur, dengan balutan kain yang cukup tebal, Azoya benar benar mengumpat terhadap Suaminya itu. Ia geram sekali.
" Terimakasih Yuri.. " Segera Azoya beranjak dan menghabiskan Sup jahe tersebut.
" Achuuu.. " Sekali lagi Azoya bersin bersin, hari ini dirinya benar benar terkena flu
" Nona, Sepertinya Nona sedang tidak baik baik saja, Flu Nona harus segera di obatin! ' Yuri panik dan hendak keluar, .
" Tenanglah, aku bisa mengatasinya. ! Sebentar lagi Sun Akan memberikan penawarnya. Apakah kau sudah lupa siapa Nonamu ini hem? " Azoya bertanya dengan santai meski hidungnya tak sesantai kenyataannya.
Jika Pangeran kini membahas sebuah Virus, apa kabarnya dirinya yang kemarin di sentuh sentuh oleh Putri Sysy sysy itu. kesal Azoya dalam hati.
" Wanita itu tak sebaik penampilannya... " gumam Azoya pelan. Azoya bisa merasakan aura buruk dalam tatapan mata seseorang.
Kepolosan dan trik, Azoya tak akan terjebak.
Tapi, entah kenapa Azoya agak sulit menebak isi hati dan pemikiran suaminya itu, Seolah dia sangat pandai berkamuplase.
Ah, Azoya kesal sekali rasanya, hanya satu yang tak dapat di tutupi oleh Pangeran, yaitu Tingkat kecemburuan akut.
Setelah beberapa saat, benar saja Sun keluar dari dalam kalung dimensi.
" Kau tidak apa apa? " tanya Sun menghampiri.
" Minumlah... " Sun menyodorkan botol cairan yang agak aneh.
" Terimakasih, " Azoya membuka dan menghabiskan sekaligus botol yang berisi cairan tersebut.
" Huuekk..... " Azoya menahan dan menutup mulutnya, ia berlari dengan tergesa gesa, ingin melepaskan rasa bergejolak dalam perutnya, dan memuntahkan semua obat tersebut.
" Nona kau tidak apa-apa? " tanya Yuri khawatir.
" Huekkk.... Huekkkkk!! " Azoya berusaha mengumpulkan energinya, dengan tubuh yang terkulai di lantai,
Matanya kini menatap tajam ke arah Sun.
"Sun, obat apa yang kau berikan padaku? Apa kau meracik obat sesuai petunjukku? " tanya Azoya menatap Sun dengan tajam, dan menahan rasa tidak enak di perutnya.
" Hah? i iya,, sesuai petunjuk!! " ucap Sun terbata bata, Sun merinding melihat tatapan Tuannya itu.
Kriek...
Suara dentingan Atribut berbunyi di luar pintu Kediaman. Dan Azoya sangat mengenali bunyi dan langkah Atribut itu.
" Pa pangeran? " Azoya terkejut, Matanya kini mengisyaratkan Sun untuk segera pergi dari sana.
" Hmm.. Baiklah " Sun pun menghilang dan masuk ke dalam Kalung Dimensi.
" Nona minumlah air putih ini " Yuri memberikan cawan minum kepada Azoya.
Azoya pun mengambil dan meminumnya.
Pintu Kediamanpun terbuka.
" Keluarlah... " Matanya menatap Yuri tegas
" Ba baik Pangeran" Yuri bergegas keluar dari dalam ruangan.
Sementara itu, matanya kini menatap Permaisurinya itu dengan tatapan menyelidik.
" Apa kau melakukan sesuatu? " Arthur berjalan menghampiri Azoya, yang saat ini duduk di sebuah kursi santai sembari menselonjorkan kedua kakinya.
" Tidak " Jawab Azoya ketus
" Apa masih marah padaku? " Kini Arthur mendejajarkan Posisinya, dan memeluk Permaisurinya itu dari samping.
__ADS_1
Seketika, dengan curiga. Arthur mencium bau obat herbal di tubuh Azoya.
Arthur mengendus, dan menatap penuh tanya.
" Apa Permaisuri mengkonsumsi sesuatu? " tanya Arthur menyelidik " Seperti obat obatan?" setelah terdiam sejenak, "Azoya...!!! Kau sakit? " Arthur langsung menjauhkan kepalanya dan menatap Permaisurinya itu dengan intens, dengan kedua tangan memegang pundak Azoya.
Azoya mengangguk.
"Aku sedang tidak enak badan "
" Apa ini semua karnaku? " tanya Arthur khawatir..
"...." Azoya hanya diam
" Maaf.. " Arthur merasa bersalah.
" Achuuu. ....." spontan Azoya bersin dan menyemburkan cairan bening dari mulutnya, dan mengusap hidungnya yang sangat gatal dengan sampul tangan yang telah ia buat.
Arthur langsung cemas" Permaisuri, aku akan memanggilkan tabib untukmu "
Seketika Azoya menghentikan langkah Pangeran Arthur, " Tidak..tidak, Aku tidak ingin tabib " Azoya trauma, jika Arthur memanggil tabib, makan ramuan ramuan herbal itu akan membuatnya mual kembali.
Arthur mengerutkan keningnya. " Tubuhmu sedang tidak sehat.. Aku tidak akan membiarkannya "
" Tapi! Tapi aku...! " ucapan Azoya terputus, setelah Arthur memotong ucapannya.
Arthur berteriak memanggil Leonard yang berdiri di luar Kediaman.
" Leonard! Panggilkan tabib istana dengan cepat " perintah Arthur menggema. ia tidak ingin mendengar alasan dari Permaisurinya itu.
.
Berita pemanggilan tabib tersebut terdengar langsung di telinga Putri Anastasya yang saat itu hendak menuju Ruang Kerja Pangeran Arthur, di sana ia berpapasan dengan Leonard dan mengikuti jalannya yang tergesa gesa.
" Apa terjadi sesuatu? " gumam Anastasya
Di Kediaman Pangeran.
" Istirahatlah, Aku akan menemanimu! " ujar Arthur
Dengan tatapan tajamnya, Arthur tidak mengizinkan Azoya memohon.
" kau harus tetap di periksa, " Tegas Pangeran Arthur tegas.
" Tapi aku tidak tahan bau herbal " ujar Azoya sedikit berteriak, matanya sudah berkaca kaca membayangkan bahwa dirinya akan menelan herbal pereda flu itu kembali. Entahlah, Azoya dulu tidak pernah seperti ini, bahkan bau obat pahit, bahkan racun sekali pun, dirinya tidak takut untuk menghadapinya. Segala jenis obat obatan dan semacamnya adalah ke ahliannya.
Saat ini, tubuhnya menolak mengkonsumsi hal tersebut, jangankan mengkonsumsi, mencium baunya saja Azoya sudah tidak tahan. Perutnya kini bergejolak, ingin memuntahkannya.
Dan benar saja, hanya sekedar memikirkanya, Perutnya kembali bereaksi.
" Huekkkk... " Azoya bergegas menuju tempat pembuangan yang ada di balik kamar mandi. Ia membuang seluruh isi dalam perutnya, sehingga tubuhnya tak dapat tertopang lagi,
Lemas, sangat lemas, tubuhnya terkulai tak berdaya.
Arthur berlari mengejar Permaisurinya itu, ia menyangga punggung Azoya dengan tubuhnya.
" Pengawal,,, Cepat panggil tabib!!! " Teriaknya menggema di seluruh ruangan. Panik. Tentu saja Arthur sangat panik.
Keringat dingin bercucuran di dahi Permaisurinya, aura pucat menyelimuti wajahnya.
Perlahan, kedua bola mata itu redup. Dan bulu mata lentik itu seakan mengatup, menelan keindahan dari mata hazelnya.
Azoya pingsan. Dan Ambruk di dalam sandaran Pangeran Arthur.
Arthur yang sangat panik, kini membopong tubuh Permaisurinya itu, dan meletakkannya di atas kasur. Dengan Aura kemarahannya, Arthur menggebrak pintu Kediamannya, dan berteriak. Ia kesal karena tabib tak kunjung datang juga.
Karena di selimuti rasa amarah, Arthur Melangkahkan kakinya hendak menyusul.
Tiba-tiba setelah beberapa saat, Tabib istana muncul, dengan tergesa gesa.
Mendapati Pangeran Arthur berdiri dengan Aura membunuhnya di depan pintu Kediaman.
Tubuh Tabib, dan beberapa pengawal kerajaan lainnya pun gemetar ketakutan.
__ADS_1
" Lambattt!!! Segera sembuhkan Permaisuri!!! " teriaknya sangat nyalang dan emosi.
Matanya kini menatap Leonard .
Langkah Pangeran mendekat . Dan.....
PLAKKKK
Sebuah tamparan yang sangat panas dan keras mendarat di pipinya.
" Aku tidak suka keterlambatan!! " ujar Pangeran Arthur begitu Emosi
" ..." Leonard membisu, dirinya tak berani menatap.
Ia menyadari atas keterlambatannya. Dan semua itu tanpa sengaja. Karena saat ia begitu tergesa gesa, Putri Anastasya menghentikan jalannya sesaat dan bertanya. Tapi sebetulnya Leonarf tak memberi jawaban apapun terhadap Putri Anastasya. Dan berujung penghentian pemaksaan. Setelah itu Leonard mengabaikan Anastasya. bergegas memanggil tabib istana, yang berujung pengikutan secara diam diam yang dilakukan Putri Anastasya.
Saat sampai di Tempat tabib berada, dan keluar bersama Tabib istana, Leonard tak sengaja berpapasan dengan Kaisar Arlong dan Ibu Suri .
Dan tidak mungkin baginya untuk mengabaikannya.
Leonard tak menyangka, keadaannya bisa sedarurat ini, yang bisa menyebabkan Pangeran Arthur se emosi itu padanya.
Untuk pertama kali dirinya melakukan kesalahan, dan mengecewakan Tuannya itu.
Di dalam Kediaman.
Tabib yang sudah mengenali Putri Azoya, berusaha semaksimal mungkin menangani kondisinya.
Tabib, itu memeriksa denyut nadi Putri Azoya, Dan memeriksa suhu tubuhnya, begitupun dengan penyebab yang terjadi saat Putri Azoya mengalami muntah berkali kali, yang berujung melemahkan daya tahan tubuhnya itu.
Arthur menjelaskan semua kondisi yang terjadi terhadap Permaisurinya itu dengan mendetail
Memang saat ini, yang tabib itu ketahui, Putri Azoya mengalami flu ringan, akan tetapi ada hal aneh lainnya yang membuat tabib itu mencoba memeriksa berulang kali, sehingga membuat perasaan Pangeran Arthur semakin Gusar.
Setelah beberapa saat, tabib itu telah selesai menangani dan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi dari Putri Azoya.
Arthur berdiri, dengan sangat tidak sabar, dan menatap Tabib Tua itu penuh dengan pertanyaan.
Tabib Istana itu pun mencoba menahan rasa takutnya.
" Pangeran, Keadaan Permaisuri sudah stabil. Sebelumnya Permaisuri mengalami gejala flu ringan, saya sudah melakukan semaksimal mungkin melakukan peredaan flu terhadap hidungnya tanpa menggunakan herbal. " ujar Tabib Tersebut.
Arthur yang mendengar penjelasan itu bernafas lega.
" Tapi.. " Ucapan tabib tetsebut langsung terpotong, saat Arthur menatap tajam Tabib Tua tersebut dengan ucapannya.
" Tapi apa? " ujar Arthur sedikit menampilkan kecemasannya.
" Pe-Permaisuri saat ini sedang mengandung Tuan... " Takut, jelas saja Tabib Tua itu takut dan gemetar mendapat tatapan membunuh Pangeran Arthur.
" Apa!!" Arthur sangat terkejut mendengarnya.
Ada ledakan kebahagiaan di dalam hatinya.
Seketika, wajah yang semula menyeramkan seakan ingin menelan orang hidup hidup, berubah drastis ,
" Bi bisa kah kau mengulangnya sekali lagi? " ujar Arthur seakan tak percaya, dirinya takut jika, jika saja telinganya ini sedang bermasalah.
" Saat ini, Permaisuri Azoya sedang mengandung Tuan. Mual mual yang terjadi saat memasuki kehamilan memang sangat rentan terjadi. Mual tersebut terjadi, karena ada jiwa baru di dalam diri Permaisuri " jelas tabib tersebut hati hati, berusaha membuat Perasaan Pangeran Arthur menjadi senang.
Dirinya tidak ingin salah bicara, maka dari itu, Tabib tersebut tidak bisa sembarangan dalam menjelaskan. Akhir-akhir ini, apapun yang berkaitan dengan Permaisuri Azoya, maka Pangeran Arthur begitu akan sangat sensitive terhadap apapun.
Dengan Perasaan berbinar binar, Arthur langsung memasang wajah cerah bahagia.
Tabib Tua itu pun langsung mengelus dadanya, dan menghela nafas lega.
# Jangan lupa tinggalkan jejaknya iya.
Like, comen, dan Vote!
" Sebagai kekuatan Author, supaya semangat mengetik...! "
Terimakasih banyak.
__ADS_1
Love u all...
Sampai jumpa lagi nanti bab selanjutnya