
" Silahkan masuk Tuan" salah satu staff karyawan yang berjaga di depan pintu ruangan tersebut menyambut kedatangan Tuan Muda dan Dua pengawal penting petinggi perusahaan dengan penuh hormat.
Hans melirik Staff penjaga tersebut,
" Apakah Tuan Admaja sudah ada di dalam ?" ujar Hans dengan tampang datarnya.
" Iya tuan. Tuan besar Admaja sudah berada di ruang rapat " ujar Staff penjaga tersebut menunduk .
" Hem baiklah, mari Tuan Muda "
Hans membawa Garendra masuk ke dalam, bersama dengan Harry putranya.
Saat tiba di dalam ruangan.
Semua Dewan Direksi melirik kehadiran dirinya.
" Apakah ini Tuan mudanya ?"
" Kau benar" bisik salah satu di antara mereka dengan sangat pelan.
Para Dewan Direksi melirik sosok Tuan Muda Garendra yang mulai memasuki ruangan tersebut.
Mereka semua mempertanyakan tentang kualitas yang ia miliki.
Tuan Admaja yang sudah berda di dalam, sedikit mendengar kebisingan tersebut, meskipun saat ini ia baru saja selesai mendapat sambungan telpon dari seseorang.
" Hekhem...." Tuan Admaja mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Seketika, ruangam tersebut kembali hening.
Sosok lain yang duduk di meja sudut ruangan tersebut, menatap Garendra dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Silahkan duduk Tuan" ujar Harry menarik kursi khusus di persiapkan untuk Garendra, yang berada di dekat Tuan admaja. Sementara Hans , berdiri tegak di samping Admaja, begitu juga Harry, berdiri tegak di samping Garendra.
Semua begitu serius.
Waktu semakin berlalu.
Perdebatan dan keputusan sengit yang menjadi keputusan pokok pada hari ini, banyak menyudutkan Tuan Muda Garendra.
Para Dewan Direksi selalu mencari-cari cara untuk menilai kinerjanya. Bahkan ada yang berusaha untuk menjatuhkannya.
Statusnya sebagai pemimpin begitu sangatlah tinggi, sehingga dari beberapa Dewan Direksi untuk melakukan penyeleksian begitu sangat ketat, Tuan Admaja menatap santai mereka semua, hal tersebut mampu di lewati oleh Garendra dengan sangat baik.
Ia merasa, keputusannya untuk menjadikan Garendra sebagai pemimpin sudah tepat.
Baskoro yang gagal mengambil cela dari kelemahan rapat tersebut, mengepalkan tangannnya sendiri.
Rapaat put selesai dilaksanakan.
Para Dewan Direksi sedikit merasa puas akan kualitas yang di miliki oleh Tuan Muda Admaja ini.
" Senang bekerja sama dengan perusahan anda Tuan " ujar salah satu dari mereka berjabat tangan dengan Tuan Admaja dan Tuan Muda Garendra.
Tuan Admaja tersenyum, dan mengucapkan terimakasihnya.
__ADS_1
"Kami semua menantikan kepemimpinan nak Garendra seperti apa. Semoga perusahaan Admaja.Giant terus menjadi perusahaan yang semakin berkembang pesat dan berjaya" ujar mereka semua berharap .
" Terimakasih atas dukungan kalian semua. Saya sendiri akan berusaha semaksimal mungkin. Mohon bimbingannya " ucap Garendra sopan .
Saat setelah itu, Baskoro dan Putranya menghampiri mereka.
" Wah, kau ternyata sudah mendapatkan pewaris ya. Hem nak selamat atas posisimu saat ini " ucap Baskoro berbasa-basi.
Tuan Admaja yang melihat itu, biasa saja.
Bahkan tak berniat sama sekali untuk memperkenalkan siapa dirinya.
Baskoro yang melihat ekspresi Admaja seakan mengabaikan kehadirannya, berdecak dalam hati.
" Terimakasih "ucap Garendra, tapi sedikit bisa menganalisis wajah kebencian di raut muka orang yang ada di hadapannya saat ini.
" Siapa dia, kenapa perasaanku mengatakan orang tua ini memiliki ketidak sukaan terhadap kakek" guamam Garendra dalam hati.
" Maaf Tuan muda, Tuan Baskoro ini adalah adik dari Tuan Admaja sendiri. Dan yang di sebelahnya Tuan Bastian, Putranya" Jelas Harry pelan, tanpa terdengar oleh semua orang.
Garendra pun mulai memahami.
" Halo nak, Aku Bastian, kau bisa memanggilku Paman" sapa Bastian tersenyum ramah.
Garendra yang melihat respon lain dari orang berbeda di hadapannya saat ini mulai menilai.
Sosok yang begitu ramah dan manis ini, apa kah seperti covernya ?
__ADS_1
#Jangan lupa like, komen, dan Votenya