TUAN PUTRI YANG JELEK

TUAN PUTRI YANG JELEK
S2 : Meminta


__ADS_3

Helios dan Gween menuju tempat dimana sekarang sedang di adakan sebuah pesta.


Saat keduanya melangkah, semua mata mengarah kepada mereka.


Helios merasa bingung, sementara Gween iya tersenyum dengan wajah cerianya.


Ingin rasanya Helios bertanya, tapi dirinya enggan.


Karena kebahagiaan melebihi pesta ada di sampingnya.


Cukup keberadaan Gween saja yang membuatnya bahagia .


Dewa Arthur, dan Dewi Zoya menatap lekat kedua pasangan Dewa dan Dewi muda itu.


mata mereka menelisik tangan keduanya yang kini saling berpegangan.


Gween yang melihat sorot mata elang Ayahnya tiba-tiba saja gugub.


Seakan sedang mengintai prilaku apa saja yang sedang iya perbuat.


Gween takut,jika apa yang baru saja mereka lakukan di ketahui oleh ayahnya sendiri.


Tapi, Helios semakin mempererat pegangan tangan tersebut.


" Salam yang mulia Dewa Agung...Salam yang mulia Dewi Langit " Hormat Helios dengan percaya diri sembari mengangkat tangan satunya lagi untuk memberi penghormatan.


" Lepaskan dulu tanganku" bisik Gween perlahan, ia sangat risih menjadi sorotan kedua orang tuanya.


Tapi, bukan Helios namanya jika ia menuruti perintah Gween untuk melepaskan tangannya.


Dirinya tak mempedulikan sama sekali ucapan yang Gween lontarkan.


Helios semakin mempererat pegangan tangan tersebut.


" Apa kalian ingin menjelaskan sesuatu kepada bunda?" selidik Zoya sembari menatap penuh arti kedua tangan yang kini saling berpegangan.


Semua Dewa dan Dewi yang pada saat ini sedang menikmati pestanya, seakan beralih fokus menatap ke arah Dewa Helios dan Dewi Zoya.


Keduanya masih terus saling berpegang tangan..


Arthur pun sebenarnya sudah paham dengan niat yang Helios tampakan di depan matanya.


Gween menunduk tak berani menjelaskan.


Helios yang melihat ekspresi Gween, segera angkat bicara.

__ADS_1


" Iya Dewi Langit.. Saya ingin segera menagih janji dari yang mulia Dewa Agung sendiri. Untuk segera mengambil Putri Gween sebagai Permaisuri" jelas Helios tanpa mau menunggu lebih lama lagi. Iya tidak ingin waktu kebersamaannya dengan Gween di undur terus menerus oleh Dewa Arthur .


Gween membulatkan matanya, iya tak percaya jika Helios sedang meminta izin untuk mengambil dirinya secara resmi di depan kedua orang tuanya, dan para Dewa-Dewi langit.


Wajah Gween memerah, ia tersipu.


Helios yang tak sengaja melihat ekspresi manis dari Gween, membuat perasaannya sangat gemas.


Sedangkan, Dewa Arthur masih berpangku tangan memperhatikan permintaan dari Sang Dewa tengil di depanpnya saat ini .


" Cih, bocah tengil ini.. Sungguh tidak sabaran " gumamnya pelan. Zoya yang mendengarkan gumaman dari sang suami, menjadi geli sendiri.


" Dia sama sepertimu dulu " bisik Zoya sembari mengulum senyum.


" Jangan samakan aku dengan bocah tengil itu"


Arthur menatap Zoya tajam seolah tak ingin di bandingkan.


" Suamimu adalah yang terbaik, kau dengar itu ?" ujarnya sembari menekankan ucapannya.


" Iya, suamiku yang terbaik" Zoya mengalah dan tersenyum memandangi wajah menggemaskan dari suaminya ini..


Sebenarnya tanpa Helios ketahui,


Pesta besar ini bertujuan untuk merayakan keberhasilannya. Dan mengumumkan tentang pernikahan mereka berdua .


Dewa Arthur sengaja membuat kejutan ini.


Sebagai Dewa, iya tak mungkin ingkar untuk menepati janjinya.


Hanya saja, beberapa bulan ini, Dewa Arthur sempat tak yakin tentang perasaan yg Putrinya miliki.


Itulah kenapa iya mengulur waktu.


Tapi setelah mengetahui kedekatan Helios dan Gween semakin intim dari yang Leonard laporkan kepada dirinya, membuat iya tak merasa bersalah untuk segera menepati janji yang iya buat untuk Pangeran Helios agar segera menikahkan mereka.


Dari sorot mata yang Gween miliki,Arthur bisa tau jika putrinya ini memang sedang jatuh cinta, begitupun dengan Helios, ia tak ingin memaksa sepihak, Arthur takut jika Gween terpaksa menerima pernikahan ini. Iya sangat menyayangi putrinya itu, alasan mengapa Arthur mengulur waktu, hanya untuk memastikan perasaan Putrinya yang sebenarnya.


Tiba-Tiba, Dewi Ambar masuk bersama Raja William Moura,


Dewi Ambar tersenyum ramah sembari melemparkan senyumnya kepada Putri Gween dan Helios. Ia pun berjalan perlahan memberi Hormat kepada Dewa dan Dewi alam semesta,


Gween dan Helios yang melihat kedatangan Dewi Ambar langsung terdiam.


Arthur dan Zoya menyambut kedatangan mereka dengan baik.

__ADS_1


" Gween anakku, Ini Paman William iya adalah saudara Ayah, sementara Dewi ambar sendiri adalah Putrinya " jelas Arthur dan Gween pun mwngangguk, sembari tersenyum membalas tatapan tersebut.


" Wah..wah.. jadi ini Putrimu , dia sungguh cantik " puji Raja William.


" Ayah, apakah kecantikannya melebihi diriku ?" bisik Dewi Ambar di sampingnya.


" Kau selalu cantik di mata Ayah sayang." Jawabnya tersenyum


" Terimakasih Ayah" Dewi Ambar pun menatap Gween, dan memang ia akui, bahwa Dewi Gween ini sangatlah cantik, beruntung sekali ia mendapatkan seorang laki-laki tampan seperti Helios.


Dan Dewi Ambar pun menghampiri Dewa Arthur, ia pun tersenyum sopan.


Gween yang melihat keramahan Dewi Ambar, sembari melirik Helios yang tampak diam.


Gween merasa Helios memang tidak peduli akan kehadiran Dewi Ambar, dia pun tersenyun dalam hati.


Dewi Ambar yang melihat kecuekan Dewa Helios tersenyum tipis,


" Paman , sepertinya kau memilih calon pendamping yang tepat, Pangeran Helios tak terpikat sedikitpunkepadaku " bisik Ambar tersenyun kecut.


" Itu berarti pesonamu kurang" jawab Dewa Arthur santai.


Dewi Ambar membulatkan matanya.


" ihh... Bukan seperti itu, pesonaku tetaplah yang terbaik" ketus Dewi Ambar merengut. " Apa paman tau... itu artinya, Pangeran Helios memang laki-laki sejati, yang tak terpikat dengan pesona perempuan lain, ia hanya setia kepada satu perempuan saja. Dan beruntungnya saudara Gween mendapatkan laki-laki seperti itu, andai saja ada lagi yang satu seperti dirinya...." Dewi Ambar melamun menkhayal sembari mengharapkan sosok laki-laki seperti Helios.


" Buang jauh-jauh khayalan konyolmu itu " sentil Pangeran Gerald secara tiba-tiba.


" Au.. " Dewi Ambar terkejut, dan refleks memegang keningnya.


" Pangeran Gerald sialan.... Aku akan memukulmu " Pangeran Gerald pun tertawa, dan menghindari kejaran dari saudara kembarnya itu...


.


# Minal aidin walfaidzin...


Mohon maaf lahir dan bathin buat kalian semua.


Maaf author baru up lagi.


Setiap ada acara besar, pasti author pulkam dulu, sambil liburan.


Jadi kdang gk sempa lagi...Untuk ngetik2.


Waktu libur author, habis untuk keluarga besar.

__ADS_1


Jangan lupa like , coment, dan votenya


__ADS_2