
## SEBELUM BACA!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK "####
_______
" Gweenieverre.... mau kemana dasar anak nakal " panggil Panglima Avyram
, dan mengejutkan Pangeran Helios Hayden tentang ayah dan anak itu.
Sontak saja, Helios menatap kemana arah pandang sang Panglima menatap.
" Gadis itu... " Helios seraya mengingat, sepertinya ia pernah berpapasan dengannya.
" Oh.. A-ayah, Gween memberi hormat kepada Ayahanda... " Gween dengan senyum palsunya seraya menutupi kegugupannya, memberi hormat, saat matanya menatap pria yang di samping sang ayah... dengan ragu Gween menyapa " Salam yang mulia Pangeran Helios Hayden" ujar Gween berusaha sopan, meskipun sesungguhnya ini sangat terpaksa.
Helios menatap Gween, Helios bisa merasakan sorot mata Gween seakan mengejek ke arahnya.
" Gween... Hari ini adalah Festival Perempuan. Kemana saja kau ini? Saat acara sudah selesai, kau tak nampak sama sekali. Apa yang kau lakukan? " ujar Panglima Avyram bertanya dengan tatapan tajamnya. Panglima melirik penampilan Gween yang sangat tertutup" Apa ini Gween? " Panglima menunjuk cadar, dan juga jubah yang Gween kenakan. " Kenapa menggunakan barang tertutup di saat musim panas seperti ini? "
Gween yang di cerca banyak pertanyaan berentet dari sang Ayah, tak bisa berbuat apa-apa.
" Bagaimana Ayah tau... Jika ini aku " gumam Gween dalam hati.
" Maaf Ayah.. Aku... " belum selesai Gween menyelesaikan ucapannya.
Panglima Avyram melirik Pangeran Helios, Avyram sempat lupa akan kehadiran Pangeran Helios. Tidak seharusnya Avyram mengumbar masalah keluarga di muka umum. pikir Avyram sendiri.
__ADS_1
" Sudahlah.. Hari ini ayah akan mengampunimu. Tapi temui ayah besok. " ujar Panglima Avyram menghela nafasnya. "Ohh ya Pangeran... ini putri saya Gweenievere " ujar Panglima Avyram mengalihkan pembicaraan, dan menghadap Pangeran Helios Hayden.
Helios menyapa masih dengan tatapan dinginnya.
" iya ini Putriku. Pangeran tau.. Dulu Gween begitu mengagumimu .. ." ujar Panglima Avyram yang berhasil membuat Gween tersedak oleh air liurnya sendiri.
" Mengagumiku? " Helios menatap Gween penuh tanya, mengagumi dalam hal seperti apa yang Panglima ini maksud.
Gween yang mengerti tatapan mata Helios, tak mau berkomentar.
Jika tidak ada ayahnya disini, mungkin dengan cepat Gween akan berkilah. Tapi apa bisa Gween bertidak di depan sang Ayah ?
Ohh tidak, rasanya Gween sangat mati kutu sekarang.
" Gween ini dulunya..... " Ucapan Panglima Avyram terputus di saat Gween memotong pembicaraan tersebut dengan sangat cepat.
Panglima Avyram terkejut, Apa iya Anakanya ini sakit perut?
Avyram merasa jika barusan Gween terlihat sangat baik-baik saja.
" Gween.. Ayah belum selesai.... " ucap Panglima Avyram menatap Gween curiga.
" Ayah.. besok aku akan segera menemuimu. Maaf Gween harus segera pergi"
" Tapi.. Gweenn !!" Panglima Avyram menatap keperguan anaknya itu yang terkesan terburu-buru " Haish... sudahlah. Dasar anak itu " ujar Panglima Avyram menghelakan nanfasnya
__ADS_1
Gween sangat malu, tidak ingin Helios mengetahui yang sebenarnya.
Bagi Gween itu hanya masalalu, dimana kekaguman sangat wajar bagi anak usia 9 tahun.
Tapi, setelah berpapasan hari ini dengan Helios, Gween merasa kehilangan muka, dan sangat malu.
Helios yang melihat gelagab aneh dari Gween mengernyitkan keningnya. Dan berasumsi sendiri.
" Ck.. Perempuan sama saja" gumam Helios dalam hati, Helios mengira bahwa Gween mengaguminya, karena menyukai sosok dirinya sama seperti wanita-wanita lainnya.
Helios tidak tau, jika Gween mengaguminya karena dirinya sosok yang hebat dan tangguh. Gween mencintai seorang pahlawan , dan membela negara. Dulu Gween suka membantu seseorang dalam kesulitan. Tidak tau kah Helios jika panggilannya terhadap Helios itu adalah seorang Paman. .
Rasanya Gween ingin mengejek Helios itu pada saat ini juga.
Gween menghindari Helios, karena tidak ingin pria yang ada di hadapannya ini besar kepala. Pria yang Arrogan dan menyebalkan seperti dirinya tak pantas di kagumi oleh Gween. Sungguh Gween belum bisa lupa kejadian yang sebelumnya terjadi, tatapan dan ucapan Pria ini, membuat Gween sangat kesal.
" Cih... Lebih baik menjauh saja. " gumam Gween pelan.
Saat ini Panglima Avyram membiarkan anaknya itu pergi, Panglima Avyram merasa Gween tidak ingin dia menceritakannya dengan Pangeran Helios.
" Apa dia malu? " gumam Pangeran Avyram dalam hati . Dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu melanjutkan perbincangan penting bersama Pangeran Helios Hayden yang sebelumnya sempat tertunda.
__ADS_1
# Jangan lupa LIKE, komen, votenya!