
Setelah menjemput sang istri, Helios langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Tubuhnya berbalik, menatap tajam Gween yang saat ini sedang beringsut menghindari dirinya.
" Apa kau sengaja ?" Helios semakin mendekatkan langkahnya.
" A-aku... Ti-tidak " gugub Gween.
" Tidak apa ?" tanyanya sekali lagi.
" Aku belum mandi...." Secepat kilat Gween berlari memasuki area pemandian, Helios yang melihat istrinya kabur menghindar lagi berusaha mengejar kembali, akan tetapi pintu tersebut terlanjur tertutup.
" Sial...." Gerammya berusaha bersabar, Helios merasa dirinya seperti monster menakutkan bagi sang istri,
Apa sebenarnya yang ada dipikirannya ?
Helios menggeleng-gelengkqn kepalanya kesal.
Sangat lama Helios menunggu, dengan perasaan kesalnya. Ia mondar mandir menunggu keberadaan sang istri.
Tapi Gween belum kunjung keluar.
Helios pun berusaha menghitung mundur, akhirnya sampai di penghujung, Helios yang sudah tidak sabar, dengan terpaksa menerobos pintu masuk tersebut, iya benar-benar sudah sangat kesal di buatnya.
Pintu pun akhirnya terbuka paksa.
Helios mematung di tempat, iya tak menyangka sedari tadi dirinya menunggu, ternyata istrinya ini ketiduran di dalam air pemandian sembari menikmati wangi aromatherapy yang ada di dalam pemandian tersebut, rasa kesalnya perlahan ia telan sendiri.
__ADS_1
Helios meredahkan kekesalannya.
Ia pun perlahan menghampiri sang istri yang saat ini sedang memejamkan matanya.
Dengan sigab, ia mengambil sebuah jubah pengering dan menutupi tubuh istrinya yang pada saat ini tidak menggunakan sehelai benang sedikit pun, Helios hanya bisa menelan paksa ludahnya sendiri.
Pemandangan yang ada di depannya, sungguh sangat menggoda dirinya. Tapi segera ia tersadar, saat melihat wajah teduh dan lelah sang istri iya kembali menormalkan pikirannya itu lalu membopongnya agar segera keluar dari pemandian.
Di kamar, Helios meletakkan tubuh Gween secara perlahan di atas ranjang.
lalu menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut.
Sebenarnya hari ini iya juga sangat lelah, Helios pun memutuskan untuk segera tidur di sebelah Gween.
Tapi sebelum itu, sekilas Helios menyempatkan untuk mengecup puncak kepala sang istri lalu mengistirahatkan tubuhnya dengan perlahan akhirnya ia pun terlelap.
Keesokan paginya, Gween mulai mengerjabkan matanya, ia merasakan sesuatu yang amat berat melingkar di atas tubuhnya.
Saat bola matanya beralih menatap sesuatu yang sedang membelit tubuhnya, membuat mata Gween langsung membulatkan, ia terkejut.
" He-Helios " gagabnya dalam hati
Ia pun diam-diam memandangi wajah sang suami.
Iya baru ingat, jika dirinya sudah menikah dengan Helios.
Sekilas Gween teringat atas perbuatannya.
__ADS_1
Gween merasa bersalah karena telah menghindari suaminya ini tadi malam. Bagaimana pun Helios berhak mendapatkannya dan ia berhak menjalani kewajibannya sebagai pasangan suami istri.
Tapi, karena kegugubpannya, membuat Gween menghindar, dan Helios begitu kecewa kepadanya.
Gween memandangi wajah Helios dengan sangat dalam, wajah yang selama ini selallu dinggin di pandang semua orang ternyata sangat teduh dan tenang di saat ia tertidur.
Iya pun tersenyum.
Gween akui, wajah suaminya ini memang sangat tampan sekali. Tanpa sengaja tangannya bermain main di area wajah sang suami.
"Apa sudah cukup memandangi suamimu ini?" Dengan suara serak, Helios berhasil mengejutkan istrinya itu.
Gween sedikit terkesiap. Ia tak menyadari perbuatannya memandangi sang suami telah di sadari oleh Helios.
Sementara di luar, seorang pelayan baru telah di persiapkan untuk Gween.
Iya menunggu sang calon tuan untuk keluar,
" Kau tunggu saja disini, sampai tuan mu keluar, dan ingat ! Jangan pernah mengetuk atau mengganggu mereka " tatap Leonard sedikit tajam.
" Baik tuan " ucap Pelayan tersebut sembari menundukan kepalanya. Pelayan tersebut menyadari jika sttus Leonard lebih tinggi darinya, bahkan melebihi para Dewa yang ada, karena Leonard sendiri merupakan kaki tangan sang Dewa Agung sendiri.
Semua orang juga begitu hormat kepadanya. Di balik perawakannya yang irit bicara, dan tegas, Leonard juga begitu di takuti, kekejamannya sama seperti kekejaman sang Dewa Agung sendiri. Sehingga membuat semua Dewa takut dan tak berani melawannya.
Leonard pun berlalu, pelayan tersebut masih berdiri dengan patuh di balik pintu yang masih tertutup rapat.
____
__ADS_1