
" Jadi ini Permaisuri Pangeran" gumam Putri Anastasya dalam hati ada sedikit perasaan getir di hatinya,
Arthur perlahan melepas pelukannya, di pandangnya wajah bercadar istrinya itu. Entah mengapa , sorot matanya sangat dingin, Arthur merasa Permaisurinya itu sedang menahan sesuatu.
" Apa kau merindukanku? " Dengan perlahan Arthur mengelus puncak kepala Azoya dan turun menyentuh pipi mulus bercadarnya dengan sangat lembut.
" hekhem ..! Apakah keberadaanku akan terabaikan? " Ujar Putri Anastasya sedikit canggung dengan suasana tersebut
Arthur yang tersadar, langsung menoleh dan menghadap Putri Anastasya dengan tatapan yang sangat sulit di cerna oleh sudut pandang mata Azoya.
" Kemarilah.. " perintah Arthur seraya menarik lembut lengan Putri Anastasya .
Putri Anastasya dengan langkahnya sekilas menatap Azoya, pandangan matanya seperti menelisik memberi sebuah penilaian terhadap diri Permaisuri Azoya.
" Dia Putri dari Perdana Mentri Kerajaan Timur, Putri Anastasya.... " ujar Pangeran Arthur seraya tersenyum
Anastasya melempar senyum terhadap Azoya sembari meraih lengan Pangeran Arthur dan memeluknya.
Melihat reaksi Pangeran Arthur seperti tak menolak sebuah tangan yang melingkar di lengannya, membuat hatinya mencelos tak karuan.
Dadanya bergejolak suhu tubuhnya memanas.
Akhir akhir ini Azoya sudah sangat tertekan karena permintaan ibu Permaisuri yang sallu menginginkan seorang bayi darinya.
Azoya tak mampu mengekspresikan lagi ketertekanan di hatinya, Azoya takut. Dirinya sangat takut mengetahui kenyataan pahit. Azoya tau sebuah kenyataan, jika akhir akhir ini ibu Suri ingin menjodohkan kembali Pangeran Arthur dengan wanita dari Kerajaan lain.
Azoya tak tau harus melakukan apa! Sebisa mungkin Azoya menetralkan rasa bergejolak di hatinya.
" Salam Permaisuri, Saya Anastasya.. " Sapanya begitu lembut,
Azoya berusaha bersikap tenang,
Meskipun, hatinya bertanya tanya posisi seperti apa wanita ini di hati Pangeran.
" Kau boleh pergi Sysy " ujar Pangeran Arthur sedikit tegas.
" Sysy? " gumam Azoya dalam hati. " Bukankah.... " seketika Azoya tersadar, jika mungkin saja Sysy adalah panggilan sayangnya untuk wanita ini.
" Tapi... " belum sempat Putri Anastasya meneruskan kalimatnya, Sorot mata tajam Pangeran mengisyaratkan jika dirinya tidak boleh meneruskan kalimatnya.
" Baiklah... " Putri Anastayah menganggukan kepalanya perlahan, dan melepaskan dekapannya di lengan Pangeran.
Dirinya berlalu seraya tersenyum menyapa Azoya dengan ramah.
Yuri yang saat itu berada si luar Kediaman bersama beberapa pengawal seraya menundukan kepala hormat ketika di rasa ada sosok yang akan keluar di balik pintu.
Putri Anastyah pun berlalu dan pintu kediaman pun tertutup kembli.
" Siapa Putri ini? " gumam Yuri dalam hati,
" Sangat cantik. Tapi sayangnya kecantikannya tidak menyaingi kecantikan Nona. Nona semoga wanita ini bukanlah siapa siapa Pangeran. " Doa Yuri dalam hati.
Di dalam ruangan, hanya menyisahkan dua sosok manusia yang saling berhadapan.
Arthur menarik lengan Permaisurinya tersebut, dan mendekapnya.
Seraya tersenyum, Pangeran Arthur berusaha membelai lembut rambut panjang Azoya.
" Wangi.. " godanya " Aku suka. "
Azoya hanya diam tak ingin merespon godaan tersebut. Entah kenapa pertemuan singkat dirinya bersama Putri Anastaya membuat perasaannya tak menentu, dan menyimpan ribuan pertanyaan di benaknya.
" Siapa dia? "
Kata kata yang sedari tadi tercekat, dan ingin segera dirinya lontarkan.
Seketika Pangeran Arthur melepas dekapannya perlahan dan beralih menatap wajah Permaisurinya.
Arthur menatap Permaisurinya dengan sangat intens. Bukankah baru tadi dirinya memperkenalkan sosok wanita tersebut dengan Permaisurinya itu. Siapa yang di maksud?. batinnya
" Siapa? " tanya Pangeran Arthur sembari mengernyitkan keningnya.
Azoya kesal sekali ! Apa-apaan suaminya itu, masihkah dirinya harus mengulang ? Tentu saja Putri Anastasya, Siapa dia ? Posisi apa dirinya?. Azoya hanya ingin mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
" Putri Anastasya, Siapa Dia? " tanya Azoya sedikit bergetar , sedikit tak suka menjelaskan
Arthur menelisik memandangi raut wajah dari Permaisurinya itu
" Apa kau cemburu ? "
Yah, bukannya memberi sebuah jawaban, Arthur malah semakin menggoda dirinya. Ingin sekali rasanya Azoya berteriak, bahwa dirinya cemburu, tapi apakah harus mengabaikan pertanyaannya.
Arthur meraih kembali tubuh Azoya.
Kali ini mendekap tubuh tersebut dari arah belakang .
Dengan mata terpejam, Arthur terus menikmati Aroma wangi khas tubuh permaisurinya itu, yang selalu menjadi candu yang memabukan baginya.
Hidungnya mengendus lembut ceruk leher samping milik Putri Azoya, sentuhan sentuhan halus ia berikan, cecepan cecapan menyentuh kulit putihnya itu, ciuman kecil Arthur daratkan menyapu habis leher putih bersih yang sangat menggoda perasaannya.
Azoya tak tahan, tubuhnya sedikit bergetar menahan sensasi rasa geli akibat sentuhan mulut Pangeran Arthur di bagian leher samping dan belakangnnya...
Jujur saja, Azoya belum bisa memaafkan situasi sebelumnya, rasanya hatinya masih sakit sekali. Pertanyaan yang ia lontarkan, dan ingin dirinya ketahui , belum mendapatkan titik terang kejelasan.
Bisa bisanya Pangeran Arthur menggoda dirinya seperti ini.
Azoya tak suka, tak ingin di sentuh, sebisa mungkin dirinya hendak lepas dari dekapan itu, Tapi Pangeran Arthur mendekapnya kembali, bahkan kali ini terasa sangat erat.
Tubuh Azoyapun di paksa menghadap ke arah Pangeran Arthur. Mata kedunya kini saling bertemu.
Arthur memandangi manik mata milik Permaisurinya itu. Dirinya tau, jika perasaan Permaisurinya saat ini sedang tak baik.
" Apa yang sedang kau pikirkan? " tanya Arthur lembut.
"Apakah kau ingin aku menjawabnya? " Di usapnya bibir merah muda itu, Seraya mengecup sekilas..
" Lupakanlah hal yang tak penting, Aku ingin membahas dirimu saja" Arthur meraih tengkuk leher Azoya, dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir merah muda Azoya...
Sekuat tenaga, Azoya mendorong dada bidang itu dengan sangat keras.
Azoya tak suka, dirinya tak suka jawaban seperti itu.
Apa katanya, tak penting?
Dengan mata berkaca kaca, Azoya menatap tajam ke arah Pangeran Arthur.
" Tidak penting bagimu !! Sangat Penting bagiku! " teriak Azoya . Tubuhnya gemetar, Pertahannya kini jatuh, Air matanya luruh seketika.
Arthur tersentak mendapatkan hal tak terduga dari Permaisurinya ini.
Arthur tak menyangka, Azoya akan terluka dengan ucapannya.
Tubuhnya kaku, Arthur berusaha meraih tubuh permaisurinya itu, dan masuk kembali kedalam pelukannya.
Dengan perasaan bersalah, Arthur menenangkan hati, dan mengecup puncak kepala Permaisurinya itu.
" Maaf,, " lirih Arthur pelan.
Di papahnya tubuh tersebut dan mendudukannya di tepi ranjang.
Di tangkupnya kedua wajah itu,
" Sekarang lihat aku! " perintah Arthur pelan.
Manik mata yang sedikit kemerah merahan itupun, menatap wajah Arthur dengan perasaan tak karuan.
" Dia, Wanita yang di pilihkan Ibunda! Maaf, aku merahasiakannya darimu " ujar Arthur lirih...
Jderrr....
Bak tersambar petir,
Jantung Azoya seakan ingin meledak.
Hancur. Perasaannya sangat hancur.
Meskipun sangat wajar, jika Pangeran Arthur menikah lagi, Jika mengingat Latar belakang dirinya akan menjadi seorang Raja, Azoya sadar sebuah Kerajaan butuh penerus. Tapi haruskan seperti ini ? Bahkan 2 tahun pun belum ? Haruskan kenyataan setega ini terhadap dirinya. Padahal Azoya sendiri masih berusaha. Apa yang harus dirinya lakukan? Haruskah menerima kenyataan, yang nyatanya hatinya saja belum siap.
__ADS_1
" Berapa.. ? Be rapa lama pernikahannya sudah berlangsung? " tanya Azoya gemetar menahan sakit di dadanya.
Arthur mengernyit bingung
" Pernikahan ? Siapa?
Hah?
Azoya menatap Pangeran Arthur dengan sangat tajam. Jelas jelas pernikahan Pangeran Arthur sendiri dengan wanita itu.
Apa-apan suaminya ini, batinnya menggerutu tak suka
Sekilas senyum menyungging di sudut bibir Pangeran Arthur.
" 6 bulan " ujar Pangeran Arthur asal.
" Apa?? " Seketika Azoya berdiri dari duduknya, menatap tajam suaminya itu.
" Kau mengkhianati diriku selama itu? " teriaknya menggebu, Seketika tangisnya pecah....
" Hiks.. hiks, kau jahat! Brengsek! &¥%&~¥¥ ( ekspresikan sendiri yah )
" isak Azoya tersendu sendu.
Arthur yang melihat Permaisurinya itu menangis, seketika merasa lucu, baru pertama kali dirinya memperhatikan pemandangan seperti ini, selama ini Azoya selalu bersifat dingin, hangat, kadang gaya lembut nan eleganntnya pun, terpancar. Tapi hari ini, Arthur merasa Permaisurinya itu seperti pribadi yang lain, dan tidak mempedulikan image khas seorang Ratu. Karna yang Arthur tau saat ini, Permaisurinya itu sedang cemburu.
" Hahaha... Kau itu lucu sekali, Wajahmu berubah sangat menggemaakan " Arthur mencengkram erat lengan Azoya, dan menariknya. Dengan Keseimbangan yang kurang, Akhirnya Azoya terhuyung dan menabrak dada bidang dan kekar suaminya itu. Jatuh tepat diatasnya, dan menindih tubuh kekar tersebut.
Arthur mendekap dan memeluk pinggang Permaisurinya sangat Erat, saat ini mata mereka bertemu, Arthur mencoba menatap sangat dalam kedua mata itu.
" Lepaskan, aku benci dirimu! " ujar Azoya emosi
" Tenanglah... " ujar Pangeran Arthur menenangkan.
" Lepaskan Aku...! " Azoya mencoba memukul mukul dada bidang tersebut.
" Jika kau tidak diam, aku akan pilih kasih padamu! " ancam Pangeran Arthur tegas, di dalam hatinya ia ingin tertawa.
Azoya terhenti.
" Apa maksudmu? " ujar Azoya setengah emosi dan sesikit terisak.
" Aku akan berusaha adil terhadap kalian, kasih sayangku dan tubuhku ! Jadi jika kau berontak seperti ini, maka aku akan pilih kasih terhadapmu Permaisuri! " Ancam Pangeran Arthur sedikit menekankan.
Bukannya tenang, Azoya semakin menggila, Dengan sekuat hati, Azoya menggigit dada Pangeran Arthur dengan sangat ganas.
" Arghh.... Apa yang kau lakukan? " Pekik Arthur terkejut melihat kelakuan Bar bar Permaisurinya itu.
Dekapannya pun terlepas, Azoya beranjak dan berdiri menatap sangat tajam Suaminya itu.
Dengan tatapan sinisnya Azoya melemparkan ucapan yang berhasil membuat Pangeran Arthur tak berkutik.
" Haruskah aku bertahan? Sebelum kau pilih kasih terhadapku. Aku akan pergi dari kehidupanmu " teriak Azoya sangat nyalang dengan amarah yang menggebu, Azoya berlari meninggalkan Pangeran Arthur yang membeku seketika.
Bentakan, Amarah yang keluar dari ucapan Permaisurinya itu, seketika membuat dadanya berdenyut, kali ini Arthur melihat sebuah ucapan yang sangat serius terlontar dari dalam mulutnya.
Dengan sekuat tenaga, Arthur melangkah sangat cepat berlari mengejar tubuh Permaisurinya .
Greb,
Langkah kaki Azoya terhenti, sebelum mencapai gagang pintu ruangan.
Tangannya kini di cekal, dan tubuhnya di tarik paksa Pangeran Arthur.
" Diamlah, dan tenanglah.! Kau tau, Aku hanya menyayangi dan mencintai dirimu saja " Teriak Pangeran Arthur mendekap sangat erat tubuh itu
" Hiks... hiks... " Azoya tak kuasa menahan sakit di hatinya.
" Kau terlalu jauh berpikir ! " Satu satunya pedamping Arthur, hanyalah dirimu " lirih Arthur pelan.
" Ma-maksudnya? " ujar Azoya sedikit terisak.
.
__ADS_1
.