
Di tengah perjalanan, Garendra sedang berbincang dengan Harry tentanng masalah perusahaan.
Tiba-tiba, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Brukhh...
" Akhh... " teriak seorang wanita, seketika Garendra langsung menopang tubuh wanita tersebut, menahannya supaya tidak terjatuh.
Keduanya saling berhadapan untuk sesaat.
Setelah itu, Lucy tersadar, ia pun melepaskan diri dari topangan Garendra.
" Maafkan aku " ujar Lucy segera berlalu.
Garendra sangat terkejut, masih diam terpaku menatap kepergian sosok wanita yang baru saja menabraknya .
" Tuan Muda, sepertinya wanita tersebut baru saja menangis. Matanya begitu sembab" sela Harry yang juga ikut memperhatikan.
" Lalu kenapa? Tidak ada hubungannya denganku" Garendra seperti biasa langsung memasang wajah cueknya, ia pun segera berlalu menuju Asrama yang akan ia tempati.
Lambang Bulan Sabit tercetak jelas di atas sebuah pintu besar.
Layar Technologi yang tertera di depan pintu, seraya mendeteksi otomatis.
- Daftar
-Masuk
( Garendra menekan menu Daftar pada layar sentuh di monitor tersebut)
" Silahkan masukan Identitas kalian"
( Suara Komputer)
Keduanya menunjukan sebuah Brush Bulan sabit, dan Name tag yang tertera di baju yang mereka kenakan di hadapan layar Monitor.
Sebuah layar digital, mendeteksi wajah dan identitas mereka
Sensor sidik jaripun tak lupa di periksa.
"Data Tersimpan, Konfirmasi ulang sidik jari"
Keduanya melakukan sesuai arahan.
Dan berhasil.
__ADS_1
" Pemindai Selesai, "Selamat datang Tuan Garendra semoga hari kalian menyenangkan"
" Selamat datang Tuan Harry semoga hari kalian menyenangkan"
Pintu pun kini terbuka.
Mereka berdua pun kini masuk kedalam, dan dengan otomatis pintu kembali tertutup.
Keduanya menuju sebuah Lift, dan menekan tombol yang menjadi tujuan mereka.
Ting
Pintu Lift pun kini terbuka.
Keduanya masuk kedalam.
Setelah beberapa saat.
Mereka sampai di lantai atas,
" 002 " Gumam Garendra mencari ruangan yang akan ia tempati.
Dan Garendra pun berhasil menemukannya.
" Tuan Muda, ruanganku berada di paling ujung"
" Hmm... aku akan menghubungimu jika perlu sesuatu" ujar Garendra segera menuju Ruangannya.
" Baik Tuan Muda"
Liontin yang di berikan Raja Juliyus pun menjadi Kunci Asrama mereka.
.
Di balik Liontin tersebut terdapat nomor ruangan yang akan mereka tempati.
Malam harinya,
Seseorang mengetuk-ngetuk pintu depan ruangan Garendra dengan sangat kencang.
Garendra yang pada saat ini sedang bersantai membaca sebuah buku, segera menuju pintu tersebut.
Terlihat jelas seorang wanita sedang memaki-maki ruangannya dari layar monitor yang ada di kamar.
" Pintu sialan, kenapa kau tidak mau terbuka... Ayo terbuka lah, atau aku akan menendangmu" umpat seorang wanita, yang tak lain adalah Lucy Jolicia sendiri,
__ADS_1
Bugh... Bugh...
Ia berusaha memmukul dan menendang pintu tersebut.
Seketika pintu ruangan pun kini terbuka.
Dengan samar, Lucy melihat seseorang yang pada saat ini tepat berdiri di hadapannya.
" Hei Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku.. " tunjuk Lucy tanpa sadar, kepalanya berputar-putar melihat banyak sekali bayangan.
Garendra mengerutkan keningnnya,
" Apa maksudmu? "
Belum sempat menjawab, Lucy telah kehilangan kesadaran
Ia pun pingsan, dan ambruk seketika, dengan cepat Garenda menangkapnya.
Tanpa pikir panjang, Garendra pun membawa wanita berambut pirang tersebut masuk ke dalam ruangan. Garendra tidak tau harus membawa wanita itu kemana lagi.
_________
🍁🍁🍁
Ke esokan harinya,
Cahaya menyilaukan menembus masuk ke dalam kamar tersebut
Secara perlahan, Lucy mengerjapkan kedua matanya yang sedikit membengkak.
" issth..Kepalaku sakit sekali" rintihnya perlahan, Tanpa sadar ia kini mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan sontak saja matanya kini membulat sempurna saat seketika memperhatikan sekitar ruangan yang begitu sangat asing.
" Apa yang terjadi, dimana aku " Lucy berusaha bangkit dari tempat tidur, ia sedikit melirik ke arah pakaiannya yang masih terlihat utuh, ia pun bernafas lega karena tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.Perlahan Lucy mengingat kejadian yang membuatnya masuk ke kamar yang salah, berawal dari dirinya ingin berusaha menenangkan pikiran dari sebuah minuman, ternyata kebablasan menghabiskan minuman tersebut, dan untuk pertama kalinya ia mengkonsumsi minuman kualitas buruk yang membuatnya berhalusinasi.
Akan tetapi membuatnya ketagihan.
" Dasar minuman gak ada akhlak.. " umpatnya kesal . Sebenarnya Lucy sama sekali tak memesan minuman beralkohol, ia hanya memesan just lemon dingin di sebuah cafe bar mini yang terdapat di dalam kantin Royal Green, entah mengapa minuman yang ia minum berubah menjadi minuman yang manis dan memabukan.
Ceklek
Pintu kamar mandi pun kini terbuka
# Jangan lupa Like, Komen. dan Vote ya.
________
__ADS_1