
Doooorrrr ...
Seketika darah segar menetes ke lantai, mata semua orang melotot menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
"Dianaaaa ...!!!" Teriakan Liana dan semua orang menggema di dalam gudang itu. Tanpa diduga, Venus dan Diana datang bersama polisi. Melihat Tomi menembakkan pistolnya ke Reino, Diana spontan berlari memeluk pria itu dan peluru yang ditembakkan Tomi mengenai badan belakang Diana hingga menembus jantungnya.
"Jangan bergerak! Turunkan senjata kalian! Tempat ini sudah kami kepung!" Seorang polisi berteriak. Beberapa orang polisi mengarahkan senjatanya ke Tomi dan anak buahnya.
Tomi dan anak buahnya menjatuhkan senjata, bahkan Tomi yang menyadari telah menembak putrinya sendiri sampai tersimpuh lemas dan menyesal, pria licik itu syok dan tak bisa berkata-kata lagi. Polisi segera mengamankan Tomi, Liana dan semua anak buahnya.
"Dianaaa ...! Lepaskan aku! Aku ingin melihat putriku!" Liana memberontak dan berteriak histeris.
Tapi polisi tetap menyeretnya ke mobil polisi. Sementara Tomi hanya tertunduk pasrah.
Tubuh Diana merosot ke bawah, tangannya melemas dan terlepas dari tubuh Reino.
Reino membaringkan Diana di pangkuannya, semua orang berlari menghampiri gadis itu. Venus yang ketakutan pun memeluk erat Vino.
"Diana ...! Ambulance ....! Tolong panggilkan ambulance!!!" Reino berteriak panik.
"Kita harus segera membawanya! Tak ada waktu kalau harus menunggu ambulance!" Perintah Johan.
"Ja ... jangan! Wak ... waktuku nggak banyak." Diana menahan lengan Reino dengan sisa-sisa tenaganya.
"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Reino dengan cemas.
"Ak ... aku cuma ingin ... menyelamatkanmu da ... dari kejahatan orang tuaku." Diana berusaha berbicara dengan suara yang bergetar menahan sakit.
"Apa ...? Orang tua ...? Jadi kau adalah ..." Erik terkejut setengah mati sampai tak sanggup meneruskan ucapannya, mendadak air matanya bergenang. Begitu juga dengan semua orang yang mendengar pernyataan Diana.
"Iya ka ... kak, ak ... aku adikmu." Diana berusaha mengulurkan tangannya menyentuh tangan Erik.
"Ya ... Tuhan! Jadi benar kau adalah adikku!" Erik mengusap kasar wajahnya, air mata pria itu sudah benar-benar menetes sekarang. Dia menggenggam erat tangan Diana.
"Sudah cukup, Diana! Kita harus ke rumah sakit!" Reino mengangkat tubuh lemah Diana yang dipenuhi darah dan segera memasukkannya ke dalam mobilnya. Karena tak ada waktu jika harus menunggu ambulance. Walaupun kaca mobil Reino hancur, tapi mobil itu masih bisa jalan.
Erik segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaannya kacau, dia benar-benar tak menyangka jika semuanya seperti ini. Sementara Venus, Vino dan Johan menyusul dengan mobil lain.
Didalam mobil, Diana yang dipangku oleh Reino tak henti-hentinya memandangi wajah Reino dengan mata yang sayu.
__ADS_1
"Rein ... maafkan ... aku ya?"
"Ssstt ... sudah ... lupakan semuanya, kau harus bertahan! Kita akan segera sampai ke rumah sakit." Ucap Reino berusaha tenang dan menahan sedih di hatinya.
"Ak ... aku cuma mau bi ... bilang kalau ak ... ku men ... cintai ... mu." Diana menyentuh wajah Reino dan masih berusaha bicara dengan suara yang semakin melemah. Lalu tiba-tiba gadis itu menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas terakhirnya. Tangannya yang tadi menyentuh wajah Reino kini jatuh terkulai, matanya telah tertutup dengan rapat.
"Diana ... Diana bagun!" Reino memandangi wajah pucat Diana dengan perasaan takut. Reino segera mengecek denyut nadi dan nafasnya, tapi semua sudah tak terasa lagi.
"Ada apa?" Erik melirik dari balik kaca spion.
"Dia sudah tiada." Reino menutup matanya dengan kuat, air matanya menetes jatuh.
"Diana! Kenapa kau pergi secepat ini? Aku belum sempat memelukmu ... adikku." Erik mencengkeram kuat stir mobil untuk meluapkan kesedihan hatinya. Hati pria itu benar-benar hancur, baru saja dia kehilangan wanita yang dia cintai kini dia harus kehilangan adik yang baru saja dia ketahui kebenarannya. Belum lagi dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya seorang pembunuh yang kejam. Air mata Erik menetes bagai hujan, membasah wajahnya yang sendu.
Reino memeluk tubuh Diana yang sudah tak bernyawa, pria itu menangis sesenggukan. Merasa bersalah atas kepergian Diana.
***
Semua orang sedang berdiri di samping makam Diana, terlihat Erik dan Hellen yang masih bersimpuh disisi nisan bertuliskan nama Diana itu.
Jenazah Diana dimakamkan hari itu juga di pemakaman keluarga Brahmansa, isak tangis haru mengiringi kepergian gadis itu. Semua terasa sangat cepat, bahkan tak satupun dari mereka menyangka semua ini akan terjadi.
Setibanya di kediaman Brahmansa, suasana duka masih menyelimuti mereka. Reino dan Erik yang penasaran dengan kejadian di gudang tadi segera mengintrogasi Venus.
"Bagaimana kalian bisa datang ke gudang itu? Kalian tahu dari mana?" Reino bertanya kepada Venus.
Dan Venus pun menceritakan semuanya dari awal sehingga dia, Vino dan Diana bisa sampai ke gudang itu bersama polisi.
Flashback on ...
Diana tiba di kediaman Brahmansa, dia segera masuk dan mencari keberadaan Venus. Kebetulan Venus sedang duduk di ruang keluarga.
"Diana ...? Mau apa kau datang kesini?" Venus bertanya dengan tatapan tidak suka.
"Ikut aku!!!" Diana segera menarik lengan Venus dan menyeretnya ke luar.
"Kau mau membawaku kemana? Jangan macam-macam, Diana!" Venus berusaha memberontak, tapi Diana tak menghiraukanya.
"Kalau kau masih ingin melihat Reino, maka diam dan ikut denganku!"
__ADS_1
Para pengawal yang melihat Diana menarik lengan Venus berusaha menghadang mereka, tapi Venus memberi isyarat agar pengawal-pengawal itu membiarkan mereka pergi. Akhirnya para pengawal mengalah dan membiarkan Diana membawa Venus pergi dengan mobilnya dengan perasaan cemas.
Diana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu arah.
Di dalam mobil, Venus terus bertanya kemana Diana akan membawanya.
"Kau akan membawaku kemana?" Tanya Venus penasaran.
"Kita akan menyelamatkan Reino dan kakakku. Mereka disekap di gudang X dan akan dibunuh, kita harus segera kesana!" Jawab Diana masih fokus mengemudi.
"Apa maksudmu? Siapa kakakmu dan siapa yang mau membunuh mereka? Kau jangan mengada-ngada!" Venus mendadak bingung dengan kata-kata Diana.
"Ceritanya panjang, yang jelas aku dan Hendrik adalah saudara kandung, aku putri Tomi dan Liana. Tomi ingin membunuh Reino agar bisa merebut hartanya." Ucap Diana.
"Apaaaa ...? Bagaimana mungkin Tomi sekejam itu, dia kan Omnya Reino? Lalu mengapa dia mau membunuh putranya juga?" Venus semakin bingung.
"Entahlah, aku juga baru mengetahui semuanya tadi, aku tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Yang pasti Tomi itu jahat! Dan dia ingin membunuh Hendrik, karena selama ini Hendrik yang membantu melindungi Reino. Hendrik itu adalah Erik, dan aku juga baru tahu kalau kami saudara." Diana melanjutkan lagi penjelasannya.
"Ini gila ...!" Venus semakin terkejut bukan main. " Lalu mengapa kau melakukan ini? Kenapa kau mau menyelamatkan Reino?" Venus memandang curiga kepada Diana.
"Karena aku tak ingin mereka sampai terluka! Aku sudah berusaha menghubungi Reino tapi tidak bisa, pasti mereka sedang di dalam bahaya."
Venus terdiam mendengar ucapan Diana. Alasan Diana masuk akal, tapi mereka nggak mungkin kesana tanpa bantuan orang lain.
"Sebaiknya kita ke rumah kak Vino dulu untuk meminta pertolongan, kita nggak mungkin bisa melawan Om Tomi." Venus memberi saran.
"Iya, kau benar juga! Disana pasti banyak pengawal dan mereka juga ingin mencelakaimu. Baiklah, kita butuh bantuan orang lain. Dimana alamat kak Vino itu?" Diana bertanya.
"Jalan XXZ, nomor 10."
Diana segera melajukan mobilnya menuju rumah Vino dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah Vino, mereka segera menceritakan apa yang terjadi.
"Ya, Tuhan ... baiklah, aku akan segera kesana! Kalian cepat lapor polisi! Datanglah kesana bersama polisi dan berhati-hatilah. Kita nggak punya banyak waktu, aku akan mencoba mengulur waktu mereka sampai polisi datang." Ucap Vino lalu secepatnya bergerak dan meminta anak buahnya untuk ikut bersamanya.
Beberapa saat kemudian, Venus dan Diana tiba di gudang itu bertepatan dengan Tomi yang akan menembak Reino. Melihat Reino terancam, Diana segera berlari dan memeluk Reino hingga akhirnya peluru yang ditembakkan Tomi mengenainya.
Flashback off ...
***
__ADS_1