
Reino berjalan lemah memasuki pintu utama rumahnya, setelah kejadian di rumah sakit tadi, Reino sudah tak bersemangat untuk kembali ke kantor, dia memutuskan untuk pulang dan menenangkan diri. Namun sepertinya keputusan Reino untuk pulang salah karena Diana ternyata ada di rumahnya itu.
"Kau sudah pulang, Rein? Kenapa cepat sekali?" Liana bingung melihat putranya itu sudah pulang sebelum jam kantor berakhir.
"Aku sedang tidak enak badan, Ma." Reino berbicara dengan malas, sambil melirik Diana yang duduk di samping Diana.
Mau apa lagi dia?
"Lalu kenapa kau pulang sendiri? Kemana istrimu?" Tomi bertanya.
Reino terdiam sejenak, dan akhirnya memilih jawaban yang paling logis ini. "Di rumah orang tuanya!"
"Kalau begitu tepat sekali, biarkan selamanya dia berada disana." Liana tersenyum senang sambil memeluk Diana.
"Apa maksud Mama?"
"Begini, Rein ... Mama dan orang tuanya Diana sudah sepakat untuk tetap melanjutkan perjodohan kalian berdua." Kata-kata Liana ini menyulut kembali emosi Reino.
"Ma, cukup!!! Kenapa Mama belum menyerah juga? Aku nggak bisa menikahi Diana!" Reino meninggikan suaranya dan menatap tajam ke arah dua wanita yang nggak tau diri itu.
Wajah Diana mendadak berubah sedih mendengar penolakan Reino untuk yang kesekian kalinya.
"Rein, jangan seperti itu! Kau nggak bisa seenaknya membatalkan perjodohan kalian! Orang-orang di luar sana sudah tahu kau akan menikah dengan Diana. Jangan merusak nama baik keluarga kita dan keluarga Diana." Liana sedikit memaksa. Diana hanya terrunduk pura-pura sedih.
"Tapi aku sudah menikah, Ma!"
"Kau lupa? Dia cuma tumbal, Rein! Kalau dia tidak mati, ya sudah ceraikan saja! Untuk apa terus menampungnya?" Liana berusaha bernego dengan putranya itu.
"Aku nggak bisa berpisah darinya, Ma. Aku sudah berjanji akan menjaganya!" Reino sudah mulai muak berdebat dengan Liana.
"Kalau begitu, jadikan Diana istri kedua yang sah! Dan istri pertamamu itu tetap pada posisinya." Lanjut Liana lagi.
"Cukup, Ma!!! Jangan mengatur hidupku lagi! Selama ini aku sudah menuruti kemauan Mama dan sekarang berhenti mencampuri urusanku!" Reino membentak Liana dengan penuh kemarahan, lalu beranjak pergi meninggalkan semua orang dengan perasaan geram.
"Dasar anak nggak tahu diri! Berani sekali dia membentakku. Dia akan menyesal telah melakukan ini!" Liana menggenggam kuat tangannya.
"Sudahlah ... jangan terlalu memaksanya! Pelan-pelan saja." Tomi memberi nasihati kepada wanita paruh baya yang terlihat sangat kesal itu.
"Iya, Tante! Om Tomi benar, aku akan membuat Reino segera meninggalkan wanita sialan itu dan menikahi aku." Diana menyunggingkan bibirnya, menampilkan senyum yang sinis.
***
__ADS_1
Reino masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal, belum lagi emosinya mereda karena kejadian di rumah sakit tadi, sekarang Mamanya itu memancing kembali amarahnya. Reino berdiri di depan meja hias, dia memandang bayangan dirinya dari pantulan cermin.
"Aaaaaaaarrrrggghhh ...!"
Prrraaaaaang ...!
Reino meninju cermin yang memantulkan bayangan dirinya itu dengan sangat kuat sehingga pecahan kacanya berserak kemana-mana dan membuat tangan Reino terluka.
"Bodoh ... aku sangat bodoh ...!" Reino berteriak mengutuki dirinya sendiri.
"Aku menutupi semua ini karena takut kehilanganmu! Tapi sekarang kau malah meninggalkanku!" Reino terduduk di tepi ranjang dan meluapkan semua penyesalannya pada keheningan.
Reino benar-benar menyesali semua keegoisannya yang dia anggap satu kebodohan terbesarnya itu, ingin rasanya dia bersujud dikaki Venus untuk memohon maaf.
"Nggak bisa ...! Aku nggak bisa membiarkanmu pergi dari hidupku! Aku pasti mati karena merindukanmu." Reino segera beranjak keluar, pergi meninggalkan kamar tidurnya yang berantakan.
Reino berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan melewati Liana, Tomi dan Diana begitu saja.
"Kau mau kemana, Rein?" Tomi bertanya, tapi Reino tak menggubrisnya sama sekali dan berlalu keluar rumah.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." Liana memandang kepergian Reino dengan kecurigaan.
***
Reino berjalan dengan cepat menyusuri rumah sakit menuju ruang ICU tempat Vino dirawat, di ruang tunggu ICU, terlihat Venus sedang tidur di kursi dengan pundak Alvin sebagai penyanggah kepalanya. Sepertinya gadis itu kelelahan dan akhirnya tertidur. Alvin terkejut melihat kehadiran Reino yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tuan Reino?" Alvin memekik pelan namun tak bisa bergerak karena takut Venus terbangun.
Reino hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai isyarat agar Alvin diam dan jangan berisik. Reino berjalan pelan mendekati Venus dan Alvin, kemudian duduk tepat di samping istrinya itu.
Reino menyelipkan rambut yang menutupi wajah Venus ke belakang telinganya lalu memandang lekat wajah cantik Venus yang sedang tertidur lelap.
Setelah puas memandangi wajah istrinya, Reino pun berdiri dan hendak beranjak pergi, tapi sebelum kakinya melangkah semakin jauh, Reino berhenti di hadapan Alvin.
"Aku tahu kau menyukainya, jadi saat ini aku minta tolong jaga istriku dengan baik sampai dia mau memaafkanku." Reino berbicara tanpa menoleh ke arah Alvin, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.
Alvin terdiam, ucapan Reino tadi berhasil membuat jantung dan hatinya seperti terlempar keluar, dia nggak sangka bahwa ternyata Venus dan Reino pasangan suami istri, seketika Alvin merasa seperti peribut bini orang.
***
Venus berjalan memasuki sebuah ruangan kosong bercat putih bersih, disana ada Vino yang sedang duduk melamun sambil menangis dengan memakai baju putih juga.
__ADS_1
Ditangannya pria itu memegang 2 buah gelang perak yang bertuliskan nama mereka, Vino memberikan gelang itu kepada Venus lalu tersenyum, Venus pun segera menghapus air mata Vino. Lalu Vino berdiri dan berjalan menjauhi Venus.
"Kakak mau kemana?" Venus cemas.
"Sudah saatnya aku kembali ke tempat yang seharusnya." Vino semakin menjauh dan akhirnya hilang seperti asap.
"Kakak ...!" Venus berteriak. Membuat Alvin terkejut dan segera membangunkan gadis itu.
"Venus ... bangun!!! Kau bermimpi ya?"
Venus yang telah bangun dari tidurnya, berusaha memfokuskan kesadarannya. Mata indahnya membulat sempurna saat dia teringat sesuatu.
"Kakak ...!!!" Venus segera berlari ke dalam ruang ICU, Alvin pun segera mengikutinya.
Dan yang benar saja, Venus masuk bertepatan dengan Vino yang sedang kejang, nafasnya cepat. Venus histeris melihat kondisis Vino, Alvin buru-buru memanggil dokter.
Tak lama kemudian, dokter dan beberapa orang perawat pun segera datang dan menangani Vino, mereka segera melakukan tindakan yang seharusnya. Sementara Venus dan Alvin hanya berdiri tak jauh dari Vino.
"Pasien kejang, detak jantungnya menurun! Kita bisa kehilangan pasien!" Seru dokter tersebut dengan raut wajah cemas.
Venus yang mendengar ucapan dokter itu semakin panik, dia menangis sejadi-jadinya. Alvin segera menarik Venus ke dalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu.
"Tenanglah, doakan dia agar baik-baik saja!" Alvin semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh Venus pun bergetar karena menangis.
Tiiiiiiiiit ...
Layar monitor alat ventilator yang terhubung ke tubuh Vino pun menunjukkan garis lurus, semua orang semakin panik.
"Kita akan kehilangan dia. Cepat siapkan alat defibrillator!" Dokter itu berteriak memerintah perawatnya.
"Kakak ... jangan tinggalkan aku!" Venus berucap dengan bibir yang gemetar. Rasanya tubuh Venus lemas tak bertulang, kalau saja Alvin tak memeluk erat tubuhnya, mungkin saat ini dirinya sudah merosot ke lantai.
***
Karena author lagi nggak bisa tidur, jadi author up sekarang ajalah...
Maaf ... kalau ceritanya sedikit mengecewakan...😢
Jangan lupa dukungannya ya sayang akuh ...
__ADS_1