Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 92


__ADS_3

Reino berjalan memasuki rumah sakit dengan tergesa-gesa, wajah tampannya terlihat sangat panik. Sesaat sebelumnya Erik sudah menghubunginya dan mengutus supir untuk menjemput majikannya itu.


"Dimana dia? Apa yang sebenarnya terjadi?" Reino bertanya dengan tidak sabar.


"Nona masih di dalam, Tuan. Tadi saat hendak beranjak dari taman, Nona tiba-tiba pingsan." Jawab Erik sambil tertunduk merasa bersalah karena gagal menjaga istri majikannya itu dengan baik.


"Taman ...? Sedang apa kalian di taman?" Reino bingung. Mendadak hatinya panas mendengar Venus dan Erik berada di taman.


"Nona mengajak saya kesana untuk mengobrol." Ucap Erik jujur.


"Memangnya mau apa lagi, Reino? Kenapa reaksimu begitu?" Gumam Erik dalam hati.


"Apa-apaan kalian berduaan mengobrol di taman? Kalian selingkuh dibelakangku ya?" Reino menatap tajam ka arah Erik dan semakin meninggikan suaranya.


Erik hanya menghela nafas melihat tingkah menyebalkan majikannya itu. Bisa-bisanya dia berfikiran buruk begitu disaat seperti ini.


"Kau yang apa-apaan, bocah nakal! Enak saja kau menuduhku sembarangan." Bathin Erik.


"Hey ... kenapa kau berisik sekali? Ini rumah sakit, kau bisa mengganggu pasien lain! Suaramu sampai terdengar ke dalam." Kenan baru saja ke luar dari ruang UGD dengan wajah kesalnya bersama seorang dokter wanita.


"Bagaimana kondisi istriku? Dia sakit apa?"


"Dia tidak sakit, dia hanya ..." Kata-kata Kenan menggantung karena Reino sudah berlalu masuk ke dalam ruang UGD tanpa menunggu Kenan selesai bicara. Reino benar-benar khawatir dengan kondisi Venus.


"Cckk ... apa dia tidak bisa menungguku selesai bicara?" Ucap Kenan kesal.


Erik hanya tersenyum samar melihat wajah kesal Kenan, dokter yang satu ini memang selalu tak punya harga diri jika berhadapan dengan Reino.


Reino sudah berada di dalam ruang UGD, dia segera duduk di samping Venus, wajah pria itu masih terlihat cemas.


"Kau sakit apa? Kenapa bisa seperti ini?"


"Tidak, aku tidak sakit kok. Aku cuma ..." Venus tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Reino sudah mencak-mencak duluan.


"Bagaimana mungkin kau tidak sakit? Kau pingsan tadi! Memangnya ada orang yang sehat jatuh pingsan? Kau jangan membodohiku!" Reino berbicara dengan nada yang tinggi.


"Ssssttt ... dengarkan aku bicara dulu!" Ucap Venus ketus.


"Iya, baiklah! Katakan kau sakit apa?" Reino melembutkan suaranya.


"Sudah ku katakan, aku tidak sakit!"


"Kalau begitu kau kenapa?" Reino semakin penasaran.


"Dia hamil, usia kandungannya sudah lima minggu!" Suara Kenan mengagetkan Reino. Pria jenaka itu sudah berdiri di belakang Reino sambil tangannya bersidekap di depan dada.


"Apa ...?" Reino ternganga, memandang Kenan dan Venus bergantian.


"Iya, aku hamil. Disini ada anak kita." Ucap Venus sambil mengelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Berarti sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah?" Reino bertanya dengan wajah tak percaya.


Venus hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.


"Kenapa kau tidak katakan dari tadi? Aku hampir saja mati cemas!" Tanpa diduga, Reino berbalik mendekati Kenan dan mencengkeram kerah kemeja pria humoris itu.


"Hey ... hey ... bukankah tadi aku sudah katakan bahwa my preety tidak sakit, tapi belum sempat aku selesai bicara, kau sudah pergi begitu saja. Kenapa sekarang kau menyalahkanku?" Kenan menepis tangan Reino dengan kesal.


"Jangan memanggil istriku dengan sebutan menjijikkan itu!" Reino mencebik kesal.


"Sayang ... sudah dong, jangan marah-marah terus! Memangnya kamu tak mau menyapa anak kita?" Venus berbicara dengan manja, Reino segera beralih mendekati istrinya itu.


"Hai ... anak papa! Jangan nakal ya di dalam sana! Kalau kamu nakal dan menyusahkan mamamu, papa akan menghukummu!" Reino berbicara sendiri sambil mengelus-elus perut rata Venus, membuat istrinya itu geli melihat tingkahnya.


"Dasar gila! Anak masih di dalam kandungan sudah diancam! Ayah macam apa kau ini?" Kenan melengos pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang diselimuti kebahagiaan itu.


Setidaknya kabar kehamilan Venus ini bisa sedikit menghibur mereka yang masih berduka pasca meninggalnya Erika.


***


Venus sudah berada di rumah, karena kondisinya sudah membaik, dia diizinkan pulang.


Venus duduk di atas ranjang sambil bersandar, dia sedang berbicara dengan Vino melalui panggilan video.


"Jadi sebentar lagi aku mempunyai keponakan?" Tanya Vino masih tak percaya.


"Iya kak." Jawab Venus.


"Kakak ...!"


" Iya ... maaf ... maaf. Semoga saja kelak anakmu tidak mirip seperti ayahnya yang menyebalkan itu." Ucap Vino dengan nada ketus.


Reino yang mendengar ucapan Vino pun tak mau kalah, dia merebut ponsel Venus dan mengarahkan layar benda pipih itu ke wajahnya.


"Berisik banget ni kakak ipar! Dasar RAJOBA ...!" Reino berbicara pelan tapi dengan nada mengejek.


"Kurang ajar! Apa itu RAJOBA ...?" Vino bertanya dengan wajah kesal bercampur penasaran.


"Raja Jomblo Bangkotan!!! Ahahaha ... Makanya nikah, biar nggak sirik sama adik ipar sendiri!" Reino tertawa puas sekali karena berhasil mengejek kakak ipar itu.


"Dasar adik ipar kurang ajar! Nggak ada akhlaknya! Awas kau ya!" Terdengar umpatan dan makian dari seberang sana, tapi Reino tak memperdulikannya. Dia masih setia tertawa.


Venus buru-buru merampas ponselnya dari Reino, tapi panggilan videonya sudah diputus oleh Vino.


"Yaaa ... sudah terputus, Kakak pasti marah! Kau sih mengejeknya seperti itu!" Venus mencubit paha Reino dengan kuat.


"Aaaww ... sakit tahu! Biarkan saja! Dia takkan bisa marah kepada adik iparnya yang tampan ini." Ucap Reino dengan pede.


"Ciiih ... kau terlalu percaya diri!"

__ADS_1


"Biarin!" Reino segera menarik Venus ke dalam pelukannya dan menghujani pucuk kepala istrinya itu dengan kecupan penuh cinta.


"Suamiku sayang ...!"


"Hemmm ..."


"Aku ingin makan ayam goreng. Tapi bagian paha ya! Aku nggak suka bagian yang lain." Venus merengek. Sepertinya dia mulai ngidam.


"Ya sudah, akan kusuruh koki membuatkannya untukmu!" Reino berbicara dengan posisi masih memeluk istrinya itu.


"Tidak mau koki yang buat! Aku mau kau yang membuatkannya." Venus merengek manja.


"Apaaa? Kau sudah gila ya? Aku tak bisa memasak!" Reino melepaskan pelukannya dan menatap tajam wajah Venus.


"Kan koki bisa mengajarimu. Ayolah sayang ... aku sedang ngidam ini, kau mau anakmu mengences kalau ngidam mamanya tak dituruti?" Venus sedikit mengancam dengan alasan ngidam.


"Haaa ... teori macam apa itu? Memang apa hubungannya ngidam dengan ngences? Ada-ada saja!"


"Kalau kau tidak mau membuatkannya untukku, aku merajuk ni! Aku mau mogok makan seminggu!" Venus memalingkan wajahnya dengan bibir yang mengkerucut.


"Ok ... ok ... akan kubuatkan! Tunggu disini!" Reino akhirnya mengalah daripada istri tercintanya itu merajuk dan mogok makan, bisa repotkan?


Reino turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar, namun suara Venus menghentikan langkahnya.


"Sayang ...!"


"Hemmm ..." Reino berbalik menghadap Venus.


"Aku mau paha ayamnya yang sebelah kanan ya, aku nggak mau yang sebelah kiri!" Venus memberi pesan yang membuat Reino bingung setengah mati.


"Memang ada bedanya?"


"Sudah ... jangan banyak tanya!" Nada bicara Venus mendadak ketus.


Reino hanya menghela nafas pasrah dan melanjutkan langkahnya, tapi lagi-lagi suara Venus membuat dia berhenti.


"Sayang!!!"


"Apa lagi?" Reino berbalik dan memandang malas istrinya itu.


"Pastikan ayamnya masih perawan ya!" Sekali lagi pesan Venus membuat Reino hampir gila.


"Iya!!! Nanti aku cari ayamnya sekalian yang cantik, sexy dan bahenol. Puas ....?" Reino berlalu dengan wajah yang merah menahan kesal karena permintaan aneh istrinya itu.


Venus hanya terkekeh melihat reaksi lucu suaminya, entah mengapa Venus merasa puas sekali bisa menjahili Reino.


***


Likenya dong sayang akuh ...💜

__ADS_1


Sekarang author tak tentu upnya, kalau sempat author up lebih dari satu episode tapi kalau tak sempat cuma up 1 aja, atau malah tak up.


Mohon pengertiannya ya...😊💜


__ADS_2