Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 23 (S2)


__ADS_3

Reino dan Venus sangat senang mengetahui jika putri semata wayang mereka lulus, apa yang dilakukan Venus pun tidak sia-sia, karena dia tahu Vie tak pernah serius belajar, makanya dia sengaja meminta Andra untuk menjadi guru les privat Vie.


"Selamat ya sayang. Untuk merayakan kelulusanmu, kita akan liburan ke pantai." Reino memeluk erat tubuh Vie.


"Yeeee ... akhirnya bisa liburan juga! Sudah lama sekali aku tidak pikinik ke pantai." Vie bersorak gembira.


"Ajak juga teman-temanmu itu, biar seru." Pinta Reino.


"Malas ah ... aku lagi sebel dengan mereka!" Vie menolak dengan wajah yang cemberut.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Venus.


"Mereka menyebalkan, ma! Mereka selalu meledekku." Vie mengadu.


"Bukankah dari dulu kalian sudah sering ledek-ledekan? Kenapa baru sekarang kau ngambeknya?" Tanya Reino bingung.


"Ngeledeknya beda, pa."


"Hmm ... beda?" Reino menautkan kedua alisnya.


"Ah ... sudahlah, tak usah dibahas, pa." Vie merajuk.


"Ya sudahlah, terserah kau saja." Reino melengos. "Oh iya, besok Ayumi datang. Dia akan liburan disini. Besok sore papa dan mama akan menjemputnya di bandara, kau ingin ikut?" Reino berbicara dengan senyum yang mengembang.


"Tidak! Apa om Erik dan Tante Ina juga ikut?" Tanya Vie basa-basi.


"Tidak, mereka masih ada pekerjaan, jadi hanya Ayumi sendiri yang datang." Jawab Venus.


"Oh ..." Vie hanya menjawab seadanya. Sejujurnya gadis ini tidak begitu menyukai Ayumi karena terlalu banyak perbedaan diantara mereka dan menurut Vie, sepupunya itu selalu merebut perhatian semua orang termasuk mama dan papanya.


"Dan kau, jika kami liburan nanti, kau boleh cuti sampai kami pulang." Reino mengalihkan pandangannya ke Andra yang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan mereka.


"Loh, memangnya Andra tidak ikut liburan dengan kita?" Protes Venus.


"Untuk apa dia ikut? Disini tugas dia menjaga putri kita karena kita tak bisa bersamanya dua puluh empat jam, tapi nanti disanakan ada aku dan juga kau, kita bisa menjaga Vie bersama. Apa kita masih butuh dia?" Reino berbicara sambil melirik Andra.


"Setidaknya tunjukkan rasa terimakasihmu, tuan besar. Berkat dia putrimu bisa lulus. Kalau Andra tidak mengajarnya dengan baik, mungkin sekarang kau sudah malu karena putri kebanggaanmu ini tidak lulus." Venus berbicara dengan raut wajah yang kesal.


"Ma, pa ... sudah dong!" Vie berusaha mengingatkan papa dan mamanya, tapi tak digubris.


"Cckk ... kau selalu saja membela dia. Aku jadi curiga." Reino pun ikutan kesal dan memandang Venus dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Hey ... jangan berfikiran yang macam-macam! Aku hanya mengingatkanmu untuk berterimakasih." Venus berkancak pinggang.


Mendadak suasana bahagia tadi berubah mencekam, Vie hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Sementara Andra merasa tak enak hati, karena dirinya pasutri aneh itu jadi berdebat.


"Maaf, saya tidak bisa ..." Andra berusaha membuka suara agar kedua majikannya itu berhenti, tapi belum lagi dia selesai bicara, Venus sudah menyelanya.


"Pokoknya kau harus ikut! Atau tidak ada liburan!" Venus memerintah Andra tapi tatapan matanya tajam kearah Reino, membuat suami posesifnya itu merinding ngeri.


"Kenapa kau jadi menyeramkan begini sih sekarang? Sepertinya aku benar-benar harus membuat pengumuman di depan rumah!" Reino meledek Venus dan segera berlalu dari hadapan istrinya itu.


"Reino ...! Jangan coba-coba kabur! Aku belum selesai bicara!" Venus pun mengejar suaminya yang sudah semakin menjauh, meninggalkan Andra dan Vie yang memandang mereka dengan tatapan bingung.


"Kau ikutkan nanti?" Vie tiba-tiba bertanya, mengagetkan Andra yang masih memandangi pasutri aneh itu.


"Hmm ... belum tahu!" Jawab Andra ragu.


"Pokoknya kau harus ikut! Kalau tidak, aku juga tidak ikut!" Vie memaksa dan mengancam Andra, lalu dia meninggalkan lelaki itu begitu saja.


"Kenapa sih semua orang di rumah ini aneh sekali? Selalu saja memaksa dan bertingkah sesuka hati mereka." Andra jadi bingung sendiri.


***


Reino dan Venus sudah menunggu di bandara. Tak lama kemudian, sesosok gadis remaja cantik berkulit putih dengan rambut hitam lurus sepinggang dan dress motif bunga-bunga melambaikan tangan kearah mereka. Dialah Ayumi, putri semata wayang Erik dan Ina yang baru datang dari Jepang.


"Hai, Yumi." Balas kedua orang itu serentak.


Ayumi pun berhambur memeluk Venus dan Reino.


"Kau apa kabar, sayang?" Tanya Venus.


"Baik, tante."


"Sudah-sudah, nanti lagi tanya-tanyanya dan lepas kangennya. Sekarang kita pulang dulu, hari sudah mulai gelap ini." Pinta Reino sambil meraih koper yang dibawa oleh keponakannya itu.


Mereka bertigapun segera berjalan menuju mobil. Di perjalanan, kedua wanita ini saling mengobrol dan bertukar cerita, sesekali mereka tertawa riang, mengabaikan Reino yang duduk di bangku depan. Lelaki itu tidak ambil pusing, karena dia juga tak terlalu mengerti apa yang sedang dibahas kedua wanita cantik itu.


Satu jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman kediaman Brahmansa, kedatangan mereka disambut hangat oleh pengawal yang membukakan pintu dan mempersilahkan mereka turun. Dan Andra? Lelaki itu tentu saja sudah pulang, karena jam kerjanya sudah selesai.


Vie yang duduk di ruang tengah hanya memandang kedatangan sepupunya itu dengan wajah datar, tak ada sambutan atau sekedar lambaian tangan.


"Sayang, Ayumi datang kok kau tidak menyambutnya?" Tanya Reino.

__ADS_1


"Hai .... Ayumi, selamat datang di kediaman Brahmansa, semoga betah ya tinggal disini." Vie berbicara dengan nada mengejek dan wajah yang malas.


"Terima kasih Vie sayang." Ayumi menjawab dengan lembut dan tersenyum manis, membuat Vie mual melihatnya.


"Sayang, mulai malam ini, Ayumi akan tidur di kamarmu." Ucap Reino.


"Pa, kamarku bukan hotel! Jadi tidak bisa seenaknya dihinggapi makhluk lain." Vie menjawab dengan ketus.


"Apa salahnya berbagi, sayang?" Ucap Reino.


"Tidak apa-apa, om. Aku bisa tidur dimana saja kok."


"Tapi kan lebih baik kalau kalian sekamar, bukankah para gadis biasanya senang jika ada teman tidur yang seumuran?" Ujar Reino.


"Ya sudah, kalau dia tidur di kamarku, aku pindah ke kamar mama dan papa saja." Jawaban Vie membuat Reino bergidik ngeri. Dia bisa bayangkan jika selama Vie tidur di kamarnya, bisa-bisa jatah 'bobo malamnya' berkurang.


"Kenapa harus ke kamar mama dan papa sih?" Protes Reino.


"Apa salahnya berbagi sih, papa sayang?" Vie mengulang ucapan Reino tadi.


"Kau ini ...? Ada saja jawabannya!" Reino menata tajam ke arah Vie.


"Siapa dulu papanya? " Venus meledek Reino. Sadar akan sikap sang putri yang mirip dirinya, lelaki tampan itu hanya terdiam.


"Ya sudah, Ayumi tidur di kamar tamu saja." Reino memberi keputusan. "Bi, tolong antarkan Ayumi ke kamar tamu!" Reino memerintah salah seorang pembantunya.


"Ayumi ke kamar dulu ya om ... tante." Ayumi mengikuti langkah pembantu itu. Reino dan Venus hanya mengangguk.


"Aku juga mau ke kamar." Vie pun beranjak pergi.


Reino dan Venus hanya memandangi kepergian sang putri yang sepertinya sedang tidak enak hati.


"Kau kan tahu Vie tidak akur dengan Ayumi, kanapa kau berniat menyatukan mereka dalam satu kamar?" Tanya Venus.


"Justru itu aku ingin mereka bisa akur jika selalu bersama." Jawab Reino.


"Itu pasti sangat sulit. Kau tahu kan watak putrimu itu seperti apa?" Venus coba mengingatkan.


"Iya, aku tahu."


"Tentu saja kau tahu, itukan cerminan dirimu sendiri." Venus melangkah meninggalkan Reino begitu saja.

__ADS_1


"Kau ini." Reino pun menyusul istrinya itu.


***


__ADS_2