
Venus sedang duduk di hadapan Reino, sedari tadi gadis cantik itu terus merengek memohon kepada suaminya agar mengizinkan Alvin kembali bekerja di Grafika Grup.
"Ayolah, Sayang ... Alvin tidak bersalah, dia sudah banyak menolongku. Ini sangat tidak adil untuknya, karena aku dia sampai kehilangan pekerjaan." Rengek Venus. Sepertinya dia belum tahu jika Vino sudah menawarkan pekerjaan kepada Alvin.
"Tidak ...! Nanti dia pasti akan mendekatimu lagi, aku tidak tahan melihatnya." Reino bersikeras menolak permintaan Venus.
"Jangan berlebihan, Reino!!! Dia nggak mungkin berani mengganggu istri bosnya sendiri." Venus berbicara dengan wajah yang kesal.
"Siapa tahu dia berani! Lagipula aku sudah meminta Dira untuk mencari penggantinya."
"Kau sungguh menyebalkan! Pokoknya mulai malam ini sampai sebulan ke depan, aku mau tidur di rumah Kakak saja! Dan kau jangan ikut!" Venus beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Reino.
"Yaaa ... kenapa begitu? Terus aku tidur sama siapa?" Reino mendadak resah karena mendengar kata-kata Venus yang terdengar seperti ancaman. Pria tampan itu segera mengejar langkah istrinya.
"Baiklah ... baiklah ... nanti aku akan menghubungi Alvin." Reino akhirnya mengalah.
"Nah ... kalau dari tadi begini kan enak, aku jadi nggak perlu buang-buang energi untuk memohon kepadamu." Senyuman mengembang dibibir Venus.
Reino hanya menghela nafas kasar, bagaimana dia tidak mengalah jika Venus mengancamnya begitu. Membayangkannya saja Reino sudah takut, apalagi jika benar-benar harus pisah ranjang lagi dengan istrinya itu.
***
Sore ini Vino sudah selesai menjalani terapinya dan Hanna pun sudah pulang ke rumahnya. Kini di hadapan Vino sudah duduk seseorang yang tak asing bagi mereka, yaitu Alvin.
"Maaf, Tuan ... kedatangan saya kesini untuk mengatakan bahwa saya berubah pikiran dan menolak tawaran untuk menjadi sekretaris Tuan." Alvin tertunduk merasa tak enak hati.
"Kenapa begitu? Apa ini ada hubungannya dengan Venus?" Vino kaget dan menjadi bingung dengan keputusan Alvin.
"Tidak, Tuan! Saya hanya ingin mencari pengalaman baru, saya akan ikut orang tua saya ke kota B dan membantu usaha mereka di sana." Alvin mencoba meyakinkan Vino dengan alasan yang menurutnya masuk akal.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu! Mungkin ini yang terbaik untukmu, semoga kau sukses selalu." Vino berbicara dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Tuan! Tuan juga ya, semoga cepat pulih dan bisa berjalan lagi." Ucap Alvin.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah menjaga adikku selama aku koma, terima kasih banyak." Vino mendekati Alvin dan menepuk pelan pundak pria itu.
"Saya senang bisa berada di dekat Venus dan menjaganya, Tuan tak perlu berterima kasih. Baiklah, kalau begitu saya permisi, Tuan." Alvin beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi dari rumah Vino.
Vino hanya mengangguk dan mengulas senyum di bibirnya. Alvin pun melangkah menuju pintu utama, tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Reino dan Venus yang baru saja datang.
"Tuan Muda ... No .... Nona Venus ...!" Alvin berkata dengan pelan dan sedikit canggung saat memanggil Venus dengan embel-embel Nona.
"Hai ... Alvin, kebetulan sekali kau disini. Ada yang mau suamiku katakan." Venus menyenggol lengan Reino yang berdiri di sampingnya, pria tampan itu hanya menghela nafas seolah tahu maksud istrinya.
"Ada apa, Tuan?" Alvin memandang Reino penuh tanya.
"Hmmm ... aku ingin kau kembali bekerja ke perusahaanku lagi!"
Ada jeda sebentar, Alvin terdiam mendengar permintaan Reino. Mendadak hatinya merasa sedih.
"Apa ...? Jadi kau akan pergi?" Tanya Venus dengan wajah yang berubah muram. Bahkan wajah Reino pun ikut menyedih.
Alvin hanya menganggukan kepala tanpa menjawab pertanyaan Venus, matanya hanya memandang lekat wajah cantik itu.
Aku hanya ingin menyelamatkan hatiku agar tidak semakin sakit. Aku pasti sangat merindukanmu ... Venus.
"Baiklah, saya pamit dulu Tuan." Alvin mengulurkan tangannya ke hadapan Reino.
Tanpa diduga, Reino segera memeluk mantan sekretarisnya itu. "Terima kasih banyak untuk semuanya, maaf karena aku telah memukulmu waktu itu."
"Tuan ... tidak apa-apa. Saya mengerti perasaan Tuan waktu itu, seharusnya saya yang berterima kasih karena Tuan sudah percayakan urusan perusahaan kepada saya. Dan maaf jika saya ada salah, Tuan." Alvin membalas pelukan Reino dan menepuk-nepuk pelan pundak mantan bosnya itu.
Kedua pria itu saling melepas pelukannya. Alvin menatap lekat wajah Reino dengan senyum mengembang dibibir. "Semoga Tuan dan Nona Venus bahagia selalu."
__ADS_1
"Jangan memanggilku begitu! Kau tetap temanku apapun statusku. Panggil saja namaku seperti biasanya." Ucap Venus dengan genangan air mata yang membanjiri pelupuk matanya.
"Dan berhenti memanggilku Tuan! Aku bukan bosmu lagi, sekarang kau temanku." Reino menepuk pelan bahu Alvin.
Seketika suasana haru menyelimuti ruangan tempat mereka berada, terasa ada kesedihan saat harus berpisah dari seseorang yang selalu ada di dekat mereka itu.
Setelah berpamitan dengan semua orang, termasuk kepada Erik, akhirnya Alvin pun berlalu pergi meninggalkan kediaman Vino dan meninggalkan semua kenangan serta hatinya bersama orang-orang yang dia sayangi itu. Ada setitik air mata haru yang jatuh dari mata indah Venus, bagaimana pun juga Alvin pernah menjaga dan melindunginya disaat dia berada di titik terendah dalam hidupnya.
***
Reino, Venus dan Erik segera berlari menuju ruang perawatan Erika setelah dua puluh menit yang lalu Daniel menghubungi Erik dan mengatakan bahwa Erika kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan mereka.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Reino bertanya dengan raut wajah kebingungan. Pria tampan itu baru saja tahu tentang kondisi Erika saat diperjalanan menuju rumah sakit tadi, memang selama ini Venus maupun Erik tidak menceritakan apa yang terjadi kepada Erika.
"Tidak tahu, Tuan. Tadi saya sedang di kantor dan istri saya yang menjaganya disini, tapi saat istri saya ke kamar mandi, Erika melarikan diri." Daniel menjelaskan kronologisnya dengan suara yang gemetar. Sementara Eliza hanya tertunduk menangis.
"Apa yang di lakukan pihak rumah sakit sampai tidak mengetahui jika ada pasien yang kabur? Dasar tak berguna!" Reino menggeram. Sementara Erik hanya mengusap wajahnya dan menghela nafas kasar.
"Mereka tidak ada yang melihatnya, karena sepertinya Erika kabur dari jendela itu." Daniel menunjuk jendela di ruang perawatan Erika yang terhubung langsung dengan parkiran. Jika Erika keluar dari sana dan bersembunyi di balik-balik mobil, jelas saja pihak rumah sakit dan sekuriti tidak melihatnya.
"Aku takut Erika kenapa-kenapa! Kondisi mentalnya masih belum baik, dia masih mengalami syok berat." Eliza menangis sesenggukan.
"Tenanglah, Ma! Kita akan cari dia sama-sama." Venus mendekati Eliza dan mengelus pundak wanita paruh baya itu.
"Tolong temukan putriku!" Mata tua Eliza yang basah menatap Venus penuh harap. Venus benar-benar tak sampai hati melihat wajah tua yang sendu itu.
"Aku pasti mencarinya ... Mama."
Lalu tiba-tiba mata Erik tertuju kepada secarik kertas yang terjatuh di bawah ranjang Erika, sepertinya semua orang terlalu panik sampai tak memperhatikan kertas yang terlihat seperti surat itu.
"Ini kertas apa?" Erik memungut kertas itu dengan curiga.
__ADS_1
***