Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 30


__ADS_3

Reino, Venus dan Erika sedang duduk menunggu kedatangan Si Pemilik rumah.


Yup ... siapa lagi kalau bukan Kenan, dokter muda yang humoris itu berjanji akan segera pulang, tapi sudah satu jam batang hidungnya tidak kelihatan.


Terdengar suara deruman mobil, akhirnya siluman laba-laba yang menjengkelkan itu pulang juga bersamaan dengan kedatangan Erik.


"Kau datang darimana? Luar angkasa? Lama sekali!" Reino segera berdiri dan berkancak pinggang menyambut sahabat ajaibnya itu.


"Hey ... Tuan Muda, kau fikir aku terbang? Jalanan macet!" Kenan mendengus kesal dan membanting tubuhnya ke sofa.


Ponsel Kenan berdering nyaring, dia buru-buru merogoh ponselnya dan menjawab panggilan masuk. Pria itu melangkah sedikit menjauh dari keempat makhluk yang sedang memandangnya.


"Bagaimana, kau sudah mengurusnya?" Reino beralih memandang Erik yang berdiri di hadapannya.


"Sudah, Tuan! Tapi dia tetap menutup rapat mulutnya saat polisi bertanya apa motivnya melakukan semua ini." Erik menjelaskan.


"Dia benar-benar keras kepala!"


"Sudahlah, yang terpenting bajing4an itu sudah ditahan. Biar polisi yang menanganinya." Venus menimpali pembicaraan Reino dan Erik.


"Iya, kau benar! Kalau begitu mari kita pulang!" Reino hendak melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti saat dia menyadari bahwa Venus masih duduk dengan manis.


"Kenapa kau masih disana? Apa kau tidak ingin pulang bersamaku?" Reino berbalik dan mengernyitkan dahinya memandang Venus.


"Hmmm ... bisakah aku tinggal disini saja? Aku lebih nyaman disini dari pada dirumahmu." Kata-kata petaka itu keluar begitu saja dari mulut Venus.


"Bisa!" Jawan Reino santai. Erik dan Erika menjadi heran dengan jawaban Reino.


"Benarkah?" Venus memasang wajah ceria dengan senyum yang mengembang.


"Iya, bisa ku patahkan kakimu, lalu aku bakar rumah ini!" Kali ini jawaban Reino membuat semua orang bergidik ngeri, terutama Kenan yang telah selesai menerima telepon dan berjalan mendekati Reino.


"Hey ... berani sekali kau mau membakar rumahku! Kalau dia lebih memilih tinggal di rumahku, kau tidak boleh marah!" Kenan menjawab seenaknya.


"Diamlah kau! Atau ..." Reino tak sempat melanjutkan ucapannya saat suara Kenan kembali bergema.


"Atau apa? Kau selalu saja mengancam! Bukannya berterima kasih, aku sudah menolong kalian!" Kenan mencibir dengan wajah kesalnya.


"Kalau begitu aku akan membalas jasamu!"


"Begitu dong!" Kenan tertawa senang.


"Erik!" Reino memanggil supirnya itu.


"Ya .... Tuan!"

__ADS_1


"Suruh pihak rumah sakit untuk mengirim siluman laba-laba ini ke Gaza untuk menjadi dokter disana." Reino memerintah dengan nada yang datar, lalu melanjutkan langkahnya keluar. Wajah Kenan mendadak cemas, tawa senangnya hilang entah kemana.


"Baik, Tuan!" Erik mengangguk setuju.


"Hey ... bodoh! Kenapa kau mengiyakan? Kau fikir aku mau kesana?" Kenan memprotes kepada Erik. Supir itu hanya menaikkan kedua bahunya dengan senyuman licik, lalu melangkah menyusul majikannya.


"Hey ... sebaiknya kalian pergi dari sini. jangan merepotkanku lagi!" Kenan mengusir Venus dan Erika dengan suara yang kuat agar Reino mendengarnya.


"Nggak usah kau usir, aku juga nggak mau berlama-lama disini!" Erika berbicara dengan ketus sambil berjalan dengan gaya angkuhnya.


"Terima kasih ya untuk semuanya." Venus berbicara dengan pelan seraya tersenyum kepada Kenan, membuat pria itu terpesona.


"Iya, sama-sama cantik. Sering-sering main kesini, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu." Kenan cengengesan dan berbicara dengan nada lembut.


Tiba-tiba ponsel Kenan berdering, ada panggilan masuk dari Reino. Kenan sedikit bingung, mau apa si gila itu menelponnya, sementara dia masih berada di depan rumah Kenan. Venus yang masih berdiri di hadapan Kenan memandang bingung reaksi pria itu yang mendadak berubah.


"Ada apa lagi?" Kenan memjawab panggilan dari Reino dengan malas.


"Jangan menggombalinya atau aku akan secepatnya mengirimmu ke Gaza!" Reino.


"Aku sudah mengusirnya! Dasar gila!" Kenan membentak Reino, lalu memutus panggilan masuk dar Reino.


"Sepupu gilamu itu menyebalkan sekali!" Kenan memasang wajah masam.


"Ya sudah, aku pamit ya." Venus terkekeh dan melangkah meninggalkan kediaman Kenan.


"Mentang-mentang aku bekerja di rumah sakit milik keluarganya, seenaknya saja dia mengancamku!" Kenan menggerutu sendiri.


***


Mobil yang membawa Venus dan Reino telah tiba di depan kediaman Brahmansa, Erik buru-buru turun dan membukakan pintu untuk majikannya.


Ragu-ragu Venus turun dari mobil, rasanya dia sungguh berat kembali lagi kerumah ini. Sementara Erika sudah diantar pulang ke kediaman Winata, sepertinya sudah cukup gadis itu terlibat dalam drama ini.


Venus melangkah bersama Reino memasuki pintu utama, beberapa pengawal dan pelayan yang melihat Venus terkejut dan merasa takut, yang mereka tahu, Nona Mudanya itu telah tiada, jadi apa yang mereka lihat ini? Hantukah?


Berbagai pemikiran menari-nari diotak mereka.


Di dalam rumah, Ina sudah menanti majikannya itu dengan senyuman mengembang.


"Selamat siang, Tuan. Selamat datang kembali Nona Muda." Ina menundukkan kepala memberi hormat. Venus hanya membalasnya dengan senyuman.


"Mama dimana?" Reino bertanya.


"Di kamarnya, Tuan." Jawab Ina.

__ADS_1


"Ayo!" Reino menarik lengan Venus dan mengajak gadis itu menemui Liana.


***


Tok ... tok ... tok ...


Liana terperanjat mendengar ketukan dipintu itu, tapi dia menepis rasa takutnya dan berusaha tenang.


"Ma ... ini aku." Reino berteriak dari luar kamar Liana.


"Iya, Sayang ... masuk saja!" Liana mempersilahkan putranya itu masuk.


Reino membuka pintu kamar Liana dan perlahan melangkah masuk, Liana tersenyum melihat wajah tampan yang berseri-seri itu. Tapi senyuman di bibir wanita itu mendadak hilang berganti raut wajah ketakutan saat melihat Venus yang mengikuti Reino dari belakang.


"Hantuuuuu ...!!!" Liana berteriak lalu menuntup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Ma, tenang lah! Mama kenapa?" Reino berpura-pura tidak tahu.


"Rein, ada hantu Venus di belakangmu!" Liana berteriak masih dengan menutup wajahnya.


"Mana ada hantu, Ma!"


"Ada, Rein. Mama takut!" Tubuh Liana bergetar hebat, dia sangat ketakutan.


"Kenapa Mama setakut ini?" Reino bertanya dengan menyelidik.


"Karena Mama sudah ..." Ucapan Liana henti saat tiba-tiba teriakan Diana mengagetkannya bahkan Reino dan Venus.


"Tante ...! Dia bukan hantu! Dia masih hidup!" Diana berteriak sambil berlari ke arah Liana.


"Apa ...?" Liana tersentak kaget dan menyingkirkan telapak tangannya dari wajah.


Reino dan Venus hanya diam terpaku memandang ke dua wanita itu, dalam hati sepasang suami istri itu ada sedikit pertanyaan, mengapa Diana sudah tahu?


"Dia masih hidup? Kau membohongi Mama selama ini?" Liana manatap tajam putranya tapi jari telunjuknya mengarah ke Venus.


"Ma ... aku akan jelaskan semuanya."


"Iya, kau memang harus menjelaskannya!" Liana berbicara dengan penuh emosi. Terlebih saat netra hitamnya tertuju kepada Venus, tersirat kebencian yang begitu dalam kepada gadis itu.


***


Seperti janji author, ni author kasih visualnya Venus ...


Jangan lupa like, rate 5 dan votenya banyak-banyakya guys.

__ADS_1


Venus Winata



__ADS_2