
Reino dan Venus masih duduk bergeming, suasana terasa sedikit canggung. Begitu pula dengan Alvin yang duduk tak jauh dari mereka, pria itu merasa risih sendiri karena menjadi orang ketiga di ruangan itu.
"Hmm ... kau apa kabar?" Reino basa-basi untuk memecah keheningan.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" Jawab Venus sedikit ketus sambil tetunduk memainkan jari-jarinya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Kau tidak bertanya bagaimana kabarku?"
"Kau sudah ada disini dan kau terlihat baik-baik saja." Ucap Venus masih tanpa menoleh Reino.
"Siapa bilang aku baik-baik saja? Aku hampir mati tau"
"Apa ...? Memang apa yang terjadi kepadamu? Kau sakit? Atau apa?" Mendadak Venus cemas mendengar kata-kata terkahir Reino. Kini pandangan beralih menatap suaminya itu.
"Aku hampir mati karena sangat merindukanmu. Bahkan bukan cuma aku, Reino junior juga merindukanmu." Ucap Reino tak tahu malu dengan wajah memelas sambil melirik Alvin.
"Kau ini ...! Ku fikir apa! Buat aku khawatir saja!" Venus memukul pelan pundak Reino, dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
Sementara Alvin semakin canggung, dia tahu bahwa dirinya hanya menjadi nyamuk pengganggu. Alvin sadar, dengan menjauh dari kedua pasangan suami istri ini adalah cara terbaik untuk menyelamatkan hatinya.
"Maaf, saya permisi dulu." Alvin beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Reino dan Venus.
"Mau kemana, Vin?" Venus bertanya dengan sedikit cemas. Dia tahu Alvin pasti nggak nyaman karena ulah Reino.
"Keluar sebentar, cari udara segar!" Alvin hanya berbalik sebentar untuk menjawab Venus, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Ini semua karena kau! Dia pasti malu mendengar kata-katamu itu." Venus menyalahkan Reino atas kepergian Alvin.
"Kata-kataku yang mana?" Reino pura-pura tak tahu untuk menggoda istrinya.
"Yang tadi itu ...!" Ucap Venus.
"Yang mana?"
"Ya sudah lupakan! Kau ini menyebalkan sekali?" Venus mencebik kesal dan memalingkan wajahnya dari Reino sambil bibirnya manyun-manyun sendiri.
"Hey ... jangan merajuk begitu! Iya, aku minta maaf, aku sengaja membuatnya meninggalkan kita berdua, karena aku ingin berbicara serius denganmu." Reino berbicara dengan serius sambil menggenggam tangan Venus, membuat Venus memalingkan kembali wajahnya menatap lekat Reino.
__ADS_1
"Kau mau bicara apa?"
"Aku minta maaf ... maaf untuk semua yang sudah terjadi selama ini. Maaf karena telah menyembunyikan hal yang seharusnya aku ceritakan kepadamu dari awal, tapi aku benar-benar nggak tahu dengan pasti jika kalian saudara kandung. Aku juga masih mencaritahu kebenarannya." Reino berbicara dengan raut wajah serius, Venus hanya diam mendengarkannya.
"Dan aku juga minta maaf atas perlakuan Mamaku kepadamu. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu dari apapun dan siapapun yang akan menyakitimu, aku akan buat kau jadi wanita paling bahagia di dunia ini." Ucap Reino lagi dan kali ini membuat Venus benar-benar tersentuh hatinya.
"Kau berjanji?" Tanya Venus dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, aku berjanji! Aku berjanji atas nama Mendiang Papa dan Mamaku!" Reino semakin mengeratkan genggaman tangannya ditangan Venus.
"Maafkan aku juga ya ...? Maaf karena aku sudah mengecewakanmu dan bersikap seperti anak kecil. Aku hanya menuruti egoku saja tanpa mau mendengarkan penjelasanmu." Venus berbicara dengan suara bergetar, air mata sudah jatuh menetes membasahi pipi mulusnya.
"Jangan menangis! Hati aku sakit sekali jika melihat mata indahmu ini basah." Reino melepas genggaman tangannya dan menarik Venus ke dalam pelukannya.
Venus membalas pelukan Reino dan membenamkan wajahnya didada bidang suaminya itu, sejenak mereka saling melepas rindu yang sudah tertahan sejak lama.
"Aku mencintaimu." Venus semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga, aku sangat takut kehilanganmu. Percayalah kepadaku, jangan pernah menyerah untuk mencintaiku. Aku berjanji akan merubah semuanya menjadi lebih baik." Ucap Reino.
"Tapi bagaimana dengan Kakak? Dia pasti masih sangat marah kepadamu." Venus melepaskan pelukannya dan menatap Reino penuh kecemasan.
"Kakak ...? Benar Kakak sudah memaafkan suamiku?" Venus masih tak percaya.
"Iya, tapi kalau sekali lagi dia berulah apalagi sampai menyakitimu. Aku akan membawamu pergi jauh darinya!" Vino berbicara dengan wajah yang masih kesal.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakan Venus dan nggak akan pernah menyakitinya. Aku berjanji, Kakak!" Reino mengucapkan janjinya dengan yakin sembari tersenyum manis.
"Ciihh ... jangan memanggilku Kakak! Aku bukan Kakakmu! Lagi pula kita seumuran, aku jadi merasa tua." Vino memprotes panggilan Reino kepadanya.
"Bukankah kau memang Kakak Iparku? Apa aku salah memanggilmu begitu?" Ucap Reino dengan wajah dibuat sepolos mungkin.
"Memang tidak salah! Aku hanya geli mendengarnya!" Lanjut Vino tak mau kalah.
"Sudah ... sudah ... kalian ini, baru saja berbaikan, sekarang sudah bertengkar lagi." Robby menyela dua orang pria dewasa yang kekanak-kanakan itu.
Reino dan Vino terdiam mendengar kata-kata Robby, sedangkan Venus dan Johan hanya tersenyum melihat tingkah konyol kedua pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Kak." Venus berjalan mendekati Vino lalu bersimpu di hadapan kakaknya itu. Air mata harunya kembali menetes.
"Terima kasih untuk apa?" Vino mengusap jejak air mata dipipi adiknya itu.
"Karena Kakak sudah mau memaafkan suamiku." Ujar Venus.
"Kakak cuma ingin melihatmu bahagia."
Venus segera berhambur memeluk Vino dan semakin terisak di dalam pelukan Sang Kakak, Vino juga membalas pelukan Venus dan mengusap rambut panjang adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Reino hanya diam memandangi kedua kakak beradik itu dengan tatapan tidak suka, sepertinya rasa cemburunya dengan Vino belum hilang walaupun sudah tahu mereka saudara kandung.
Untung saja kau Kakak Iparku, kalau tidak sudah ku hajar kau karena berani memeluk Istriku.
Sementara Alvin hanya memandangai adegan demi adegan haru itu dengan senyum yang mengembang. Ada perasaan lega walaupun rasa perih menyerang hatinya, tapi dia cukup tahu diri dengan posisinya dan status Venus.
"Hey .... Anak Nakal!! Apa kau tidak ingin memperkenalkan Pamanmu ini kepada Istrimu?" Johan melangkah mendekati Reino dan menjewer telinga pria tampan itu.
"Aaaww ... aduh sakit, Paman! Iya ... iya, aku kenalin!" Reino memekik kesakitan sambil memegangai telinganya.
Venus segera melepas pelukannya dari Vino, dan beralih menatap Johan dan Reino, Robby hanya terkekeh melihat tingkah temannya itu memperlakukan anak kliennya.
"Sayang, kenalin ini Paman Gober ... eh ... maksudku Om Johan. Dia pengacara keluargaku yang sudah aku anggap seperti orang tua sendiri, walaupun menyebalkan." Reino memperkenalkan Johan kepada Venus. Dia melirik Johan dengan wajah sebal.
"Kau ini ...!" Johan melotot kepada Reino, membuat Tuan Muda tampan itu bergeser menjauh darinya. "Hai ... Nona Muda yang malang karena menikah dengan bocah nakal ini!" Johan menyapa Venus dengan senyuman yang ramah.
"Hai ... Om Johan, senang berkenalan denganmu!" Venus membalas sapaan Johan. "Tapi kenapa dia memanggilmu Paman Gober?" Tanya Venus bingung.
"Karena dia cerewet dan sangat pelit, mirip sekali dengan karakter kartun Paman Gober. Tapi yang ini lebih menyebalkan!" Reino menyela cepat, sebelum Johan sempat menjawab.
"Mulutmu itu! Dasar nakal ...!!! Awas kau ya ...!!" Johan berjalan cepat mendekati Reino dan hendak menjewer telinga pria tampan itu, tapi Reino segera berlari menghindarinya. Dan terjadilah kejar-kejaran ala Paman Gober dan Donald Bebek.
Venus dan Robby terkekeh melihat tingkah konyol kedua orang itu, bahkan Vino yang masih kesal pun tak bisa menahan tawanya.
***
Maaf ya sayang akuh, beberapa hari ini author cuma sempat up 1 episode saja, karena author lagi sibuk banget.
__ADS_1
Belum lagi author harus up novel lain juga di aplikasi sebelah, jadi nggak terkejar.
Selamat membaca ...💜