Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 35


__ADS_3

"Hey ... lepaskan mereka!" seseorang yang baru datang berteriak mengalihkan pandangan ke 3 pria sangar itu.


"Vino?" Reino terkejut dengan mata yang membulat sempurna. Begitu juga dengan Venus.


Vino membantu Reino mengahajar pria-pria itu satu per satu, hingga mereka nyaris kalah. Namun tanpa mereka sadari, pria yang diterjang Reino tadi mendekap Venus dan menodongkan pisau di leher gadis itu.


"Tuan ... tolong!" Venus berteriak meminta bantuan.


"Venuuuusss ...!" Reino dan Vino serentak berteriak saat melihat Venus disandera oleh pria jahat itu.


"Menyerah atau ku bunuh di ... aaaaarrrgghh ..." Ancaman pria itu berubah menjadi teriakan kesakitan saat sebuah batu besar menghantam kepalanya dan pria itu melepaskan Venus dan beralih memegangi kepala belakangnya.


Ke 3 pria itu langsung membawa temannya yang terluka itu dan melaju pergi meninggalkan tempat kejadian. Reino dan Vino segera menghampiri Venus dan juga Alvin.


"Kau tidak apa-apa kan?" Alvin memastikan kondisi Venus setelah dia memukul pria itu dari belakang. Wajah Alvin babak belur akibat dihajar pria-pria misterius itu.


"Iya, aku baik-baik saja."


"Syukurlah!" Alvin menghela nafas lega.


"Kau terluka karena aku," Venus memandang Alvin dengan wajah yang penuh kecemasan.


"Tenang saja, aku tidak apa-apa." Alvin memaksakan senyuman di bibirnya yang sedikit robek karena dipukul pria-pria itu.


"Tapi kau tetap harus kerumah sakit!" Venus memaksa Alvin, membuat Reino menggeram melihat perhatian Venus kepada sekretarisnya itu.


"Dia sudah katakan tidak apa-apa, kenapa kau masih mencemaskannya?" Reino berbicara dengan raut wajah datar. Sebenarnya pria itu sengaja menyadarkan Venus bahwa dirinya juga terluka akibat berkelahi dengan pria-pria itu.


Aku juga terluka.


Kenapa kau tidak mencemaskanku?


"Kalian juga baik-baik sajakan?" Kini Venus beralih memandang Reino dan Vino dengan wajah yang masih cemas.


"Seperti yang kau lihat!" Reino menjawab sekenanya. Pria itu mengelus pelan sudut bibitnya yang agak lebam.


Sementara Vino hanya mengangguk lalu tersenyum, menandakan bahwa dia juga baik-baik saja.


Kemudian mereka pergi ke rumah sakit dan meninggalkan mobil Alvin disana, montir pribadi Reino akan segera menjemput mobil itu.


***


Di rumah sakit, Alvin maupun Reino sudah mendapat pengobatan, ada sedikit lebam di dekat mulut dan pipi Reino, wajah tampan itu seakan ternoda dengan warna merah kebiruan. Sementara Alvin terlihat lebih parah, ada beberapa lebam dan luka robek dibibirnya bahkan badan pria itu terasa sakit karena di pukuli.


"Siapa sebenarnya mereka?" Vino bertanya.


"Entahlah, aku pun tidak tahu." Reino menjawab sambil meringis menahan sakit dibibirnya.

__ADS_1


"Apa kau memiliki musuh?" Vino memandang lekat Venus.


"Musuh ...? Sepertinya tidak! Tapi ..." Venus menghentikan ucapannya, saat dirinya menyadari sesuatu. Wajah cantiknya mendadak berubah pias.


"Tapi apa ...?" Tanya Reino dan Vino serentak.


"Apa ini ulah mereka?" Venus berbicara dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh Reino yang duduk disebelahnya.


"Mereka siapa maksudmu?" Reino menautkan kedua alisnya, memandang Venus penuh selidik.


"Hmmm ... tidak, bukan siapa-siapa!" Venus menggeleng-geleng kepalanya.


Aku nggak boleh sembarangan menuduh.


Aku harus cari tahu dulu kebenarannya.


Reino dan Vano memandang dengan tatapan curiga dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Apa ini ulah Mama dan Diana lagi?" Gumam Reino dalam hati.


"Sebenarnya apa yang dia sembunyikan?" Bathin Vino.


Sementara di tempat lain, seorang pria sedang mengeraskan rahangnya menahan geram.


"Dasar tidak berguna! Menangkap seorang wanita saja kalian tidak bisa!" Pria paruh baya dan bertubuh kekar itu membentak orang-orang suruhannya yang gagal menangkap Venus.


"Maaf ...Tuan! Tapi tadi disana ada Tuan Muda Reino dan seorang pria lagi." Salah satu orang suruhannya memberanikan diri menjawab.


"Baik, Tuan!"


"Reino Brahmansa ... kau akan ku habisi setelah aku menyingkirkanmu dari Grafika Grup." Pria misterius itu tersenyum licik.


***


Setelah mengantarkan Alvin pulang, Reino dan Venus kembali ke kantor, bukan untuk kembali bekerja tetapi untuk mengambil barang-barang mereka. Sementara Vino kembali ke kantornya.


"Ambilkan barang-barangku dan Venus, lalu tunggu aku di parkiran." Reino memerintah Erik dari telepon. Saat menyusul Venus tadi, Reino mengemudikan sendiri mobilnya dan meninggalkan Erik di kantor.


"Baik, Tuan Muda!" Erik.


Setelah beberapa menit, mobil Reino tiba di parkiran khusus petinggi di gedung Grafika Grup. Erik sudah menunggu dengan barang-barang yang dipesan Reino tadi.


Reino tidak turun dari mobil, dia hanya menggeser duduknya dari bangku supir ke bangku penumpang, sementara Venus keluar dan pindah ke bangku belakang.


Reino sengaja tidak keluar dari mobil agar para karyawan yang lain tidak melihat wajahnya yang terluka.


Erik yang mengambil alih kemudi terperangah melihat wajah Reino yang dipenuhi lebam.

__ADS_1


"Anda kenapa Tuan?" Erik bertanya dengan wajah penasaran.


"Ada yang menyerang Venus, untung saja aku datang dan menghajar mereka." Reino berbicara dengan bangga.


"Memangnya tadi Non Muda kemana?" Erik mendadak bingung.


"Dia sedang pergi selingkuh dengan Alvin!" Reino menjawab seenaknya, membuat Erik maupun Venus terkejut dengan jawabannya itu.


"Apaaaa ...?" Erik melirik Venus dari balik kaca spion di hadapannya dengan tatapan tak percaya.


"Hey ... berhenti mengatakan omong kosong! Aku tidak selingkuh dengan dia." Venus memprotes tak terima dengan tuduhan suaminya itu.


"Lalu mengapa kau pergi berdua dengannya?" Reino mulai di mode keponya.


"Aku hanya pergi makan siang saja!" Jawaban jujur itu keluar dari bibir ranum Venus.


"Tapi lihat akibatnya, kau hampir celaka! Untung saja aku datang! Pria payah itu tak berguna!" Reino meremehkan Alvin yang tak bisa melindungi Venus.


"Dia sudah habis-habisan di hajar pria-pria itu, dia terluka karena aku." Venus membela Alvin, membuat Reino semakin geram.


"Itu karena dia terlalu lemah, menghadapi tiga orang saja tidak bisa." Reino semakin meremehkan Alvin.


"Lalu kau? Kau juga tidak bisa melawan mereka bertiga! Untung saja Tuan Vino datang! Apa bedanya kau dengan Alvin?" Venus juga ikut-ikutan meremehkan Reino. Dan kali ini sudah bisa ditebak seberapa merahnya wajah Reino menahan malu dan geram sekaligus.


"Beraninya kau meremehkannku ...!!!" Reino berbalik dan menatap tajam istrinya itu.


Chiiiiiiitttt ...!!!


Setelah memastikan jalanan aman, Erik mengerem tiba-tiba, membuat Reino maupun Venus hampir tersungkur ke depan.


"Hey ... bodoh! Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhku?" Tatapan tajam Reino berpaling ke supir tak tahu diri itu.


"Maaf, Tuan ... tadi ada segerombolan bebek sedang menyeberang tiba-tiba." Jawaban nyeleneh membuat Reino bertanya-tanya,


"Bebek ...?" Reino memastikan lagi, pria itu celingak-celinguk melihat keluar mobil, tapi tidak ada bebek sama sekali.


"Iya, apa Tuan dan Nona tidak mendengar suara berisik mereka tadi?" Erik mulai lagi.


Reino dan Venus menyadari bahwa Erik sedang menyindir mereka yang dari tadi berisik karena mendebatkan sesuatu yang tak penting.


"Kau sudah bosan hidup ya?" Reino mengancam Erik karena telah menyindirnya dan mengatainya bebek.


"Maaf, Tuan ... saya hanya bercanda! Habis Tuan dan Nyonya berisik sekali, saya tidak fokus mengemudi." Jawaban logis Erik itu berhasil mempermalukan Reino dan Venus. Kini kedua insan konyol itu mendadak hening cipta. Erik pun kembali melajukan mobilnya.


Erik hanya tersenyum samar, dia tahu majikannya itu tidak mungkin benar-benar marah jika dia sedang bercanda begini.


Bagaimanapun juga, Reino sudah menganggap Erik sebagai temannya.

__ADS_1


"Dasar pasangan aneh!" Gumam Erik dalam hati.


***


__ADS_2