
Ina yang baru saja keluar dari toilet umum, dikagetkan dengan kedatangan dua orang pria, yang satu berperawakan tinggi besar dengan wajah kebule-bulean dan yang satunya lagi berpostur kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata). Kedua pria itu menghadang langkah Ina.
"Hai ... cantik, sendiri saja?" Si bule bongsor mencolek dagu Ina dengan tidak sopan.
"Apaan sih? Jangan macam-macam ya!" Ina spontan menepis tangan si bule itu.
"Galak amat! Mending senang-senang bareng kita yuk?" Kini si kutilang darat yang bertingkah kurang ajar dengan merangkul pundak Ina.
"Lepaskan aku ...!" Ina memberontak agar terlepas dari rangkulan si kutilang darat.
"Ayolah, cantik! Jangan sombong begitu." Si bule tak tahu diri itu pun ikut-ikutan menarik lengan Ina.
"Lepaskan ...! Tolong ...!" Ina berteriak ketakutan.
"Hey ... brengsek! Lepaskan dia!" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka, terutama Ina.
"Tuan Erik." Ucap Ina pelan saat melihat seseorang yang datang itu tak lain adalah Erik.
"Siapa kau? Sok mau jadi pahlawan, haa ...?" Si bule bongsor itu melangkah mendekati Erik.
"Jangan banyak bacot! Rasakan ini!"
Buuugghh ...
Dengan cepat Erik menerjang kantong menyan si bule sehingga membuatnya terduduk di tanah sambil meringis keakitan.
Melihat temannya keok dengan sekali tendang, si kutilang darat pun ketakutan, dia mendorong kuat tubuh Ina hingga menabrak Erik, dengan cepat Erik menangkap Ina dan memeluknya, lalu si kutilang darat pun lari tunggang langgang meninggalkan temannya yang masih menikmati ngilu pada kantong menyannya.
"Awas kalau kau berani mengganggu dia lagi! Kuratakan kau dengan tanah!" Erik mengancam si bule naas itu.
"Iya ... bang, ampun ...!" Si bule memelas memohon ampun.
"Bang ... bang ... kapan aku jadi abang kau? Sana pergi!" Erik menatap tajam si bule itu dan masih memeluk Ina.
Dan si bule pun berjalan dengan terseok-seok sambil memegangi anunya yang berdenyut.
Ina yang risih segera melepaskan dirinya dari pelukan Erik, membuat Erik tersadar bahwa dia belum melepas pelukannya.
"Terima kasih ya, Tuan." Ucap Ina sungkan sambil menunduk di hadapan Erik.
"Kenapa kau memanggilku begitu?" Tanya Erik.
"Bukankah anda juga majikan saya, berarti saya harus memanggil anda Tuan kan?" Ina masih menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Ina ... aku tidak suka kau bersikap seperti ini!" Ucap Erik.
"Lalu saya harus bersikap seperti apa, Tuan?" Kali ini Ina mengangkat kepalanya dan memandang wajah Erik.
"Ina, cukup ...! Sejak kau tahu siapa aku, kau selalu menjaga jarak denganku. Mana Ina yang dulu? Ina yang selalu hangat dan ramah kepadaku, Ina yang selalu bertingkah konyol di hadapanku. Aku rindu Ina yang itu!" Erik berbicara dengan nada yang tinggi, pria itu meluapkan kegundahan hatinya melihat sikap Ina yang berubah.
__ADS_1
"Maaf ... Tuan, saya cukup tahu diri! Saya berusaha profesional dalam bekerja! Saya hanya bersikap sewajarnya pelayan dengan majikannya." Ina berbicara dengan santai, namun menekankan nada bicaranya pada kata pelayan dengan majikan.
Erik benar-benar kehabisan sabar menghadapai Ina. Gadis yang berdiri di hadapannya ini sungguh telah membuat hatinya porak-poranda. Bahkan perasaannya sekarang jauh lebih kacau dari perasaannya kehilangan Erika dulu.
"Oh ... jadi karena status kita itu, kau bersikap seperti ini kepadaku? Baiklah, sekarang aku ingin tagih tawaranmu waktu itu!" Erik menatap tajam wajah Ina, membuat gadis itu sedikit takut dan risih.
"Ta ... tawaran yang mana?"
"Kau bilang jika aku tidak memiliki kekasih, kau mau menjadi kekasihku. Dan sekarang aku tagih itu!" Ucap Erik dengan yakin.
"Ma ... maksudnya?"
"Aku ingin kau menjadi kekasihku!"
Ina terkejut setengah mati mendengar kata-kata Erik, gadis itu sampai menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan.
"Sudah cukup bercandanya! Ini tidak lucu!" Ina berusaha menghindari situasi menegangkan ini, dia menganggap Erik hanya bercanda. Ina pun hendak berlalu dari hadapan Erik, namun langkahnya terhenti saat Erik menahan lengannya dan segera melum4t bibir Ina tanpa permisi.
Ina yang terkejut mendapat serangan tak terduga dari Erik, berusaha mendorong dada bidang pria itu. Tapi Erik malah memeluk pinggang serta tengkuk Ina dan semakin meluma4t habis bibir pelayan cantik itu. Akhirnya Ina pun pasrah dan menikmati ciuman mendadak itu dengan perasaan hati yang bergemuruh hebat, mengabaikan beberapa pasang mata yang memandang iri kepada mereka.
Dunia serasa milik berdua, yang lain pada nyewa.
Setelah melepas tautan bibirnya dengan Ina, kini Erik menatap dalam manik hitan gadis itu, membuat Ina semakin gugup dan gemetaran.
"Mulai sekarang kau kekasihku! Itu artinya kau adalah milikku! Jadi berhenti menjaga jarak denganku apalagi memanggilku dengan sebutan Tuan. Aku akan sangat marah jika kau melakukannya lagi!" Ucap Erik sembari mengusap bibir Ina yang basah dengan ibu jarinya.
Ina yang masih syok atas perlakuan Erik hanya mengangguk patuh, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu. Dia merasakan semuanya seperti mimpi.
***
Hanna masih terkekeh karena mendengar rayuan konyol Vino tadi, bahkan gadis cantik itu sampai sakit perut karena tak berhenti tertawa.
"Sudahlah, jangan tertawa terus! Apa segitu lucunya rayuanku?" Vino memandang malas Hanna, sebenarnya pria itu sangat malu tapi dia berusaha bersikap biasa saja.
"Apa? Yang itu sih bukan rayuan, tapi lawakan, Vino! Hahaha ... aduh perutku sakit sekali!" Hanna mengejek Vino. Gadis itu kembali tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa keram.
"Itukan, berhentilah tertawa!"
"Aaahh ... sudah deh, aku ingin ke toilet dulu, kebelet pipis!" Hanna segera beranjak meninggalkan Vino.
"Mau aku temani tidak?" Tanya Vino.
"Tidak ....!!!" Teriak Hanna yang sudah semakin menjauh.
Selang beberapa saat, Erik dan Ina datang mengbampiri Vino. Kedua orang itu berusaha bersikap biasa saja, walaupun wajah Ina masih merona merah dan tertunduk malu.
"Bagaimana, kau sudah berhasil merayunya?" Tanya Erik penasaran.
"Sudah!" Jawab Vino ketus.
__ADS_1
"Cepat sekali? Kau belajar darimana?" Erik semakin penasaran.
Vino merogoh ponselnya dan menunjukkan aplikasi Yousube yang dia tonton tadi, disana jelas terputar rayuan ala Denny Cagur.
"Jadi kau menggunakan rayuan ini?"
Vino hanya mengangguk dengan wajah melas.
"Hahahaha ...." Sontak tawa Erik pecah. Sedangkan Ina hanya tersenyum menahan tawanya.
"Jangan tertawa! Ini semua idemu kan?" Vino menatap tajam Erik dan menyalahkannya.
"Aku hanya menyuruhmu melihat rayuan ala selebriti , kenapa kau malah melihat lawakan? Pantas saja Hanna senyum-senyum sendiri tadi." Erik berbicara sambil menahan tawa.
"Mana ku tahu, lagi pula aku belum sempat melihat yang lain, dia sudah keburu datang." Vino menggerutu sendiri.
"Hey ... kalian sedang apa? Dari tadi aku perhatiin riang sekali, tadi Hanna yang tertawa, sekarang Erik. Memangnya ada apa sih?" Venus menghampiri mereka dengan rasa penasaran.
"Ada yang lagi belajar melawak. Lucu!" Erik meledek Vino.
"Siapa?" Tanya Reino memandangi Erik dan Vino secara bergantian.
"Kakak iparmu. Hahaha ...." Erik terbahak-bahak.
"Diamlah kau!" Vino menerkam tubuh Erik hingga pria itu tertidur dipasir, lalu menyiksanya.
Reino dan Venus yang masih bingung hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kocak dua lelaki itu. Sementara Ina hanya menutup wajahnya, menyembunyikan tawa.
***
Erik : Makasih ya Thor udah buat adegan romantis, aku jadi nggak jomblo lagi. Hehehe ...😁
Author : Makasih aja?
Erik : Iya deh, aku doakan semoga makin banyak yang ngelike cerita kamu ya Author cantik.
Author : Aamiin. Kalau sudah gini aja, baru deh aku dipuji.
Vino : Lah ... akunya kapan jadian dengan Hanna, Thor?
Author : Tunggu Upin Ipin tamat SMA.
Vino : TK aja nggak kelar-kelar, kapan tamat SMAnya? Tega lu, Thor ...😭😭😭
Ini Author kasih bonus visual.
Jangan lupa like ya ...
KARINA (INA)
__ADS_1