
Benar apa yang di katakan Venus, sejak kejadian di lapangan itu, Vie tak lagi berani mengusili Andra. Gadis nakal itu bahkan hanya tertunduk malu jika bertemu dengan supir sekaligus pengawalnya itu, bahkan sudah beberapa hari ini dia tak lagi datang ke lapangan, sepertinya dia masih malu karena teman-temannya meledek gadis itu mencium Andra.
Melihat sikap Vie itu, Andra malah merasa tak enak hati. Entah mengapa sepertinya dia mulai terbiasa dengan tingkah konyol dan tawa riang gadis somplak itu yang sudah beberapa hari ini hilang entah kemana. Andra merasa bersalah karena membuat Vie malu waktu itu.
Hari ini sepulang sekolah, Andra tak langsung membawa Vie pulang ke rumah. Dia menghentikan mobil yang dikemudinya di sebuah taman yang terdapat danau buatan di pinggiran kota.
"Kenapa kesini? Harusnya kan kita pulang ke rumah?" Vie merasa bingung dan sedikit cemas.
Andra tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Vie, dia segera turun lalu kemudian membukakan pintu di sebelah tempat duduk Vie.
"Yuk ...!" Andra mengajak Vie keluar.
"Kemana?" Tanya Vie.
"Kesana." Andra menunjuk sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang di tepi danau.
"Mau apa kesana? Aku tidak mau!" Vie yang bingung berusaha menolak.
"Ya, sudah kalau tidak mau." Andra melengos lalu berlalu meninggalkan Vie begitu saja. Lelaki tampan itu berjalan menuju bangku yang dia tunjuk tadi dan duduk disana.
Vie yang semakin bingung melihat tingkah tak biasa Andra akhirnya mengalah dan mengikuti langkahnya.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" Tanya Vie sembari mendudukkan tubuhnya di samping Andra yang memandang lurus ke danau di hadapannya.
"Aku hanya ingin menceritakan sesuatu kepadamu." Jawab Andra tanpa menoleh ke arah Vie. Tatapannya masih menjurus ke depan dan dia bicara tanpa embel-embel nona.
"Apa ...?"
"Suatu ketika, seorang kakek bijaksana mendatangi cucunya yang belakangan ini selalu tampak murung." Andra mulai bercerita seperti seorang ibu yang sedang mendongengi anaknya dan Vie menyimaknya dengan seksama.
__ADS_1
“Si kakek bertanya, kenapa cucunya murung? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah ceria cucunya itu?" Lanjut Andra.
"Cucunya bilang apa?" Tanya Vie penasaran.
"Dan cucunya menjawab, belakangan ini ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sehingga membuat dia sulit untuk tersenyum seperti biasanya."
"Si kakek tersenyum. Dia meminta cucunya mengambil segelas air dan dua genggam garam. Si cucu pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan kakeknya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta." Lanjut Andra lagi dan Vie masih menyimaknya dengan seksama.
"Terus buat apa garam dan airnya? Buat kumur-kumur ya?" Tanya Vie lagi sambil berkelakar.
Andra hanya melirik Vie dan melanjutkan ceritanya kembali, “Si kakek meminta si cucu untuk memasukkan segenggam garam ke dalam gelas berisi air itu lalu menyuruhnya minum. Cucunya itupun menurut dan meminumnya, mendadak wajahnya meringis karena keasinan. Si kakek tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah cucunya yang lucu."
"Kakeknya usil banget sih? Lagipula cucunya juga bodoh, sudah tahu air garam asin, masih saja mau di suruh minum." Vie berkomentar. Andra hanya tersenyum mendengar ocehan gadis itu.
"Kemudian sang kakek membawa cucunya ke danau, dia meminta si cucu menabur segenggam garam lagi di air danau, lalu meminta cucunya itu untuk meminum airnya. Si cucu pun menurut lalu menangkup air danau dengan tangannya dan meminumnya. Wajah sang cucu berubah senang, dia bahkan meminum air danau itu untuk kedua kalinya agar rasa asin dimulutnya benar-benar hilang. Dan si kakek pun tersenyum."
"Jadi kau tahu makna dari cerita ini?" Tanya Andra.
"Kenapa masih bertanya sih? Sudah jelas kalau segenggam garam di campur air segelas pasti asin dan jika di campur di air danau tidak terasa asin. Gitu saja tidak tahu!" Vie menjawab seenaknya. Dan Andra hanya menepuk dahinya sambil menghela nafas.
"Dia lugu atau terlalu bodoh sih?" Gumam Andra dalam hati.
"Makna dari cerita ini adalah, segenggam garam ibarat masalah, tidak kurang dan tidak lebih, begitulah hidup. Dan jadikan hatimu seluas danau, agar masalah tidak bisa mempengengaruhimu. Kau masih muda dan jangan biarkan keceriaan serta tawamu hilang hanya karena satu kesalahan yang membuatmu malu. Semua orang pasti pernah berada di posisimu saat ini, yang membedakannya adalah seberapa besar hatimu untuk berlapang dada. Jadi berhentilah menjadi gelas dan belajar menjadi seperti danau." Andra menjelaskan makna cerita yang dia sampaikan tadi sambil menasehati Vie.
"Kalau bicara saja memang gampang! Kau tidak tahu kan, betapa malunya aku saat kejadian di lapangan itu? Mereka masih meledekku menciummu, padahalkan aku tidak sengaja." Vie mengomel dengan wajah yang memerah menahan malu.
"Hey ... kau lupa ya? Aku bahkan pernah merasakan hal yang lebih memalukan dari itu saat ada seorang gadis menarik celanaku hingga melorot." Andra berbicara sambil melirik ke arah Vie.
"Aku kan sudah minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Apa kau masih marah dan membenciku?" Vie tertunduk semakin malu sekaligus tak enak hati mengingat kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Saat itu aku malu. Aku marah dan bahkan sangat membencimu. Tapi setelah aku mendengar cerita ini dari ibuku, aku sadar bahwa telah salah dalam bersikap dan aku memutuskan berhenti jadi air di dalam gelas. Apalagi setelah melihat perbuatan baik keluargamu, aku merasa egois jika tetap membencimu." Ucap Andra sambil mengingat saat ibunya menceritakan kisah yang sama sebelum dia datang ke kediaman Brahmansa untuk mengucapkan terima kasih kepada Venus dan Reino waktu itu.
"Jadi kau tidak membenciku lagi?" Vie sontak memandang Andra dan bertanya untuk memastikan.
"Hemmm ..." Andra hanya berdehem.
"Tapi kenapa sikapmu dingin kepadaku, seolah-olah kau masih membenciku?" Vie protes.
"Aku hanya bersikap sewajarnya supir dengan majikan saja. Lagipula bukankah kau yang selalu ketus dan kasar kepadaku? Dan itu sangat menyebalkan!"
"Itu karena aku kesal dengan sikapmu di rumah sakit waktu itu dan aku juga berfikir kau membenciku." Vie cemberut.
"Aku minta maaf ya karena bersikap kasar kepadamu waktu itu." Andra berbicara dengan nada memohon.
"Iya, aku juga minta maaf karena selalu bersikap buruk kepadamu dan pernah mempermalukanmu sampai kau berhenti dari sekolah." Vie kembali tertunduk sambil meremas jemarinya.
"Semua sudah berlalu, lupakan saja. Lagipula sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji tiga kali lipat lebih besar dari menjadi seorang guru BP." Andra tersenyum bangga.
"Waow ... orang tuaku memberi gaji yang besar ya untukmu?" Ledek Vie.
"Iya, karena aku punya tanggung jawab yang besar juga, yaitu menjaga putri kesayangan mereka." Ucap Andra dan Vie hanya tersipu malu.
"Jadi sekarang kita berteman?" Vie menaikkan jari kelingkingnya.
"Baiklah, sekarang kita teman. Jadi berhenti mengusili dan menyusahkanku lagi!" Andra mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Vie sambil meledek gadis itu.
Keduanya pun tertawa bersama.
***
__ADS_1