Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 11 (S2)


__ADS_3

Hari ini Vie dan kedua sahabat gesreknya itu sedang duduk santai di tepi lapangan sambil menonton pertandingan sepak bola, mereka tidak ikut bermain dikarenakan kaki Vie yang baru sembuh, jadi mereka bertiga sepakat hanya menonton saja.


"Aku haus, guys. Aku beli minum dulu." Vie beranjak dan berjalan ke arah kios bu Mirna.


"Belikan untuk kami juga ya!" Teriak Raja dan Dino serentak tapi Vie tak menghiraukankannya.


Vie sudah tiba di depan kios Mirna, tapi wanita paruh baya itu terlihat sedang melamun dengan tatapan kosong.


"Bu ... bu Mirna ...!" Vie memanggil. Tapi karena sedang melamun, Mirna tak mendengarnya.


Akhirnya Vie dan berteriak memanggil Mirna, "Bu ... Mirnaaaaa ...!"


"Eh ... copot! kaget aku!" Mirna tersentak kaget. "Nona cantik kenapa teriak-teriak sih?" Tanya Mirna bingung.


"Lah ... habis dari tadi aku panggil, bu Mirna tidak menyahut. Jadi aku teriak saja!" Jawab Vie apa adanya.


"Apa iya ya? Ibu kok tidak dengar ya?" Mirna kebingungan.


"Bagaimana mau dengar, kalau ibu melamun. Memangnya melamuni apa sih bu?" Vie kepo.


"Ibu cuma sedang memikirkan anak ibu, sudah sebulan ini dia belum mendapatkan pekerjaan tetap, padahal dia lulusan S1. Tapi susah sekali mendapat pekerjaan." Mirna mencurahkan isi hatinya.


"Oh ... sebelumnya anak ibu itu pernah bekerja?" Vie yang kepo menjadi semakin penasaran.


"Dia sempat menjadi guru, dan saat itu ibu senang sekali. Tapi sayangnya hanya sebentar saja, karena sedikit masalah dengan siswanya, anak ibupun akhirnya mengundurkan diri." Mirna kembali meluapkan kisah yang membuat hatinya gundah.


"Memangnya ada masalah apa, bu?" Tanya Vie.


"Anak ibu sih tidak menceritakannya dengan jelas, dia cuma bilang ada seorang siswi yang membuat masalah dengannya dan bahkan mempermalukannya. Jadi dengan sangat terpaksa dia mengundurkan diri. Rasanya kalau saat ini ibu bertemu itu bocah, ibu akan memarahinya." Mirna melanjutkan lagi ceritanya dan kali ini terlihat sedikit emosi.


Seketika Vie merasa familiar dengan cerita bu Mirna, seperti ada yang mengganjal dihatinya.


Kenapa mirip cerita aku dan pak Andra ya?


"Hmmm ... kalau boleh tahu nama anak ibu siapa ya?" Rasa penasaran Vie sudah level dewa.


"Namanya Andrawan, dia biasa dipanggil Andra." Jawab Mirna.


"Apaaaa ...?" Vie seperti disambar petir saat mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh Mirna, bahkan mulutnya sampai menganga karena kaget.


"Ada apa, nona cantik? Apa kau mengenal putraku?" Mirna heran.

__ADS_1


Vie mendadak gugup, dia teringat ucapan Mirna yang akan memarahinya. Bukan ... bukan itu permasalahan utamanya, yang lebih membuat Vie tak enak hati karena dia sudah membuat seorang ibu bersedih dan kehilangan harapan saat anaknya berhenti bekerja karena ulahnya. Dan Vie semakin merasa bersalah.


"Kau kenapa melamun?" Mirna membuyarkan lamunan Vie.


"Ah ... hmmm ... anu ... itu ..." Vie semakin gugup.


"Ibu." Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Vie dari belakang. Dia merasa tak asing dengan suara ini.


"Eh ... ini dia orangnya datang! Baru saja diceritai!" Mirna tersenyum senang.


Sontak Vie membalik tubuhnya menghadap si empunya suara, seketika tubuh Vie gemetaran saat menyadari orang yang datang itu adalah Andra, mantan guru BPnya yang tak lain adalah anak Mirna.


"Kau ...?" Ucap Vie dan Andra serentak dengan mata yang melotot karena terkejut.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Mirna.


"Iya, bahkan aku sangat mengenalnya, bu!" Jawab Andra dengan tatap tajam ke arah Vie.


Sementara Vie hanya terdiam sambil menelan salivanya.


"Sedang apa kau disini?" Andra memandang sinis ke arah Vie.


"Sekarang juga pergi!" Andra mengusir Vie.


"Kita kan sudah berdamai waktu itu, kenapa marah lagi?" Vie bertanya dengan polos.


"Berdamai ...? Kapan aku berdamai denganmu? Bahkan aku tidak pernah merasa berperang, bagaimana bisa berdamai?" Andra menaikkan sebelah alisnya.


"Tapi waktu itu kau sudah menolongku, aku fikir kita telah berdamai." Ujar Vie yakin.


"Ciihh ... aku hanya bertindak semestinya saat melihat orang lain dalam masalah. Kalaupun saat itu bukan kau orangnya, aku tetap akan menolong. Jadi jangan terlalu percaya diri." Andra membalas ucapan Vie dengan sinis. Sementara Mirna hanya memandang bingung kedua orang di hadapannya itu.


"Aku kan sudah meminta maaf."


"Apa kau fikir maafmu itu bisa mengembalikan semuanya, harga diriku, rasa maluku dan pekerjaanku. Haaa ...?" Andra membentak Vie. Sehingga membuat beberapa orang memandang ke arahnya, termasuk Raja dan Dino yang segera berlari menghampiri sahabat mereka itu.


"Ada apa, Vie?" Tanya Raja.


"Pak Andra?" Dino dan Raja terperangah melihat mantan gurunya itu. Tapi tak ada satupun yang menjawab mereka.


"Nak, kenapa membentaknya?" Mirna semakin bingung dengan sikap putrannya.

__ADS_1


"Ibu tahu? Dia bocah yang sudah membohongi dan mempermalukan aku waktu itu."


"Apaaa ...? Jadi kau? Ibu tak menyangka, gadis yang terlihat baik sepertimu ternyata memiliki kelakuan seperti itu." Mirna memandang kecewa kepada Vie.


"Maaf ... tapi waktu itu aku tidak sengaja." Vie membela diri.


"Sudahlah! Sebaiknya kau pergi dari sini!" Andra masih kesal dengan Vie.


Vie sangat kesal dan emosi, ingin sekali dia membalas ucapan Andra, tapi dia mengingat kata-kata sahabatnya waktu itu, Vie berusaha sabar dan tak membalas mantan gurunya itu. Dia sadar ini memang salahnya, tapi dia juga merasa Andra berlebihan bersikap seperti ini.


Akhirnya dengan perasaan geram, Vie pun pergi dari kios bu Mirna, disusul juga oleh Raja dan Dino. Vie bahkan belum sempat memesan minuman dan sekarang rasa hausnya pun hilang entah kemana.


Andra hanya menghela nafas sambil memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh.


"Ibu masih tak menyangka dia bocah nakal itu. Selama ini ibu menilainya sebagai gadis yang baik, dia dan teman-temannya bahkan pernah menolong ibu saat kios ini diganggu preman, mereka beramai-ramai memukili preman itu." Ucap Mirna yang juga memandangi kepergian Vie.


"Apa? Benar begitu, bu?" Andra memastikan lagi.


"Iya, sebenarnya ibu berhutang budi kepada mereka."


Andra terkejut mendengar pengakuan Mirna, dia teringat kejadian yang menimpa Vie beberapa hari lalu.


"Apa ini penyebab preman-preman waktu itu menyerangnya? Dia bahkan sampai terluka." Gumam Andra di dalam hati.


Andra terdiam, seketika dia merasa tak enak hati karena sudah bersikap kasar kepada Vie tadi. Tapi dia sendiri pun bingung, kenapa susah sekali memaafkan gadis itu meskipun Vie mengatakan tidak sengaja dan sudah meminta maaf.


Sementara itu di tempat lain, Vie sedang menggerutu kesal, dia mengumpat Andra dan melontarkan sumpah serapah untuk lelaki itu.


"Rasanya tadi aku ingin sekali membalas ucapannya. Untung aku masih mengingat pesan kalian, jadi aku cuma diam saja." Ucap Vie kesal.


"Tapi kalau difikir-fikir aneh juga. Kok bisa kebetulan sekali ya? Seolah-olah pak Andra dan Vie memang ditakdirkan untuk selalu bertemu." Raja mencoba berfikir.


"Harusnya pak Andra katakan, aku ramal nanti kita bertemu lagi di pelaminan. Hahaha ..." Dino mengejek Vie dan tertawa riang.


"Iya, dipelaminan bareng salah satu dari kalian!" Vie melengos.


"Yeee ... masa jeruk minum jeruk?" Celetuk Raja.


"Itu sih iklan, kepinding!" Dino menepuk pundak sahabatnya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2