Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 65


__ADS_3

Setelah mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, hari ini Vino di pindahkan ke ruangan pemulihan. Keadaannya sudah mulai membaik, walaupun masih lemah.


Luka dikepalanya masih basah, dan dia juga harus menggunakan kursi roda karena kakinya yang patah belum bisa digunakan untuk berdiri apalagi berjalan. Venus selalu setia menemani dan menjaga Kakaknya itu, tak lupa juga Alvin yang selalu ada di dekat Venus, bahkan sekarang Alvin menjadi lebih akrab dengan Vino.


Venus sudah menceritakan semua yang terjadi dan keputusannya untuk berpisah dari Reino, Vino sepertinya menyetujui keputusan Adikknya itu, karena dia sendiripun masih belum bisa memaafkan perbuatan Reino dan keluarganya. Venus juga telah meminta maaf kepada Vino karena dia sudah menolaknya waktu itu.


"Kak, maaf ya karena waktu itu aku menolakmu. Aku sungguh menyesal!" Venus tertunduk penuh sesal.


"Sudahlah, itu sudah berlalu. Yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi, aku berjanji akan menjagamu." Vino mengusap kepala Venus dengan penuh kasih sayang.


Venus mengangkat wajahnya dan memandang Vino. " Nggak sangka ya takdir mempertemukan kita dengan cara seperti ini, Kak?"


"Iya, itulah takdir, kita nggak akan pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita."


"Oh iya, Kak ... sebenarnya siapa sih yang memberikan tes DNA itu ke aku? Aku sepertinya nggak asing dengan orang itu." Venus tiba-tiba teringat kepada seseorang yang dia temui di cafe waktu itu.


"Dia teman baikku!" Jawab Vino singkat.


"Oh, tapi darimana dia mendapatkan hasil tes DNA kita?" Tanya Venus lagi.


"Wah ... ternyata Adikku ini cerewet sekali ya?" Vino mencubit gemas hidung Venus. Sepertinya dia masih enggan memberitahu kepada adiknya itu siapa orang tersebut dan bagaimana hasil DNA itu bisa ada.


"Ih ... sakit, Kak ..." Rengek Venus manja dengan wajah yang cemberut. Walaupun Venus baru mengetahui bahwa Vino adalah Kakaknya, tapi gadis itu sudah bisa bersikap manja kepada Vino.


Tok ... tok ...


"Permisi Tuan, Nona ... diluar ada yang mencari Nona." Pengawal yang berjaga di luar membuka sedikit pintu ruangan Vino.


"Siapa?" Tanya Venus


"Driver Si hijau online, mau mengantarkan makanan, Nona." Jawab Si pengawal.


Venus segera keluar dengan perasaan bingung, bukankah dia tidak memesan apa-apa, tapi mengapa Si hijau online itu mengantarkan makanan untuknya?


Apa mungkin dia salah orang?


Venus telah berdiri di hadapan driver Si hijau onlie yang memakai atribut lengkap dari jaket, masker bahkan helmnya pun masih dia pakai.


"Ada apa ya?" Tanya Venus bingung.


Aneh sekali, bukan kah seharusnya helm itu dia lepas sebelum masuk kesini?


"Saya mengantarkan ini Nona." Driver itu menyodorkan sebungkus makanan. Tapi Venus sedikit geli mendengar suara aneh driver itu, tapi dia nggak berani tertawa, takut menyinggung perasaannya.


"Tapi saya tidak pesan apa-apa!"


"Ini kiriman seseorang, Nona." Driver itu masih menyodorkan bungkusan ditangannya.


"Siapa yang kirim?" Dahi Venus sudah mengerut.


"Nama pengirimnya Kenan. Silahkan, Nona!"

__ADS_1


Venus pun terpaksa mengambil bungkusan itu, walaupun dia masih bingung mengapa Kenan repot-repot mengirimkan makanan untuknya?


"Terima kasih ya." Venus memaksakan sedikit senyum dibibirnya.


"Sama-sama, Nona. Saya permisi!" Driver itu berlalu meninggalkan Venus.


Sementara di tempat lain, Kenan yang sedang berjalan di lorong rumah sakit tiba-tiba bersin.


"Hatchiiiim ... !! Siapa sih yang lagi menceritai aku?" Tanya Kenan dengan polosnya.


***


Keesokan harinya driver Si hijau online itu datang lagi, kali ini dia membawa banyak sekali buah dan makanan.


Venus sudah berdiri di hadapan driver itu sambil tangannya bersidekap di depan dada.


"Saya mengantarkan pesanan ini, Nona." Driver itu meyodorkan bawaanya ke hadapan Venus.


"Bawa pulang saja!" Ucap Venus tegas.


"Tidak bisa Nona! Saya ..." Driver itu tak melanjutkan kata-katanya saat Venus menarik paksa masker yang dia pakai.


"Hentikan sandiwaramu, Reino!! Sekarang pergilah dari sini!" Venus berbicara dengan nada datar tapi penuh penekanan.


Ternyata driver itu adalah Reino yang menyamar agar bisa bertemu dengan Venus.


Flashback on ...


Siang itu Reino mempersilahkan driver Si hijau online itu masuk ke dalam kamar hotelnya, takut-takut driver itu masuk dengan perasaan was-was.


"Rencana apa yang ada diotak bocah tua nakal ini?" Gumam Erik dalam hati.


"Hmmm ... tapi, Tuan ..." Driver itu agak ragu. Untuk apa orang kaya ini mau membeli jaketnya dan helmnya?


"Aku akan membayarnya seharga 1 juta!" Reino merogoh dompetnya dan menarik 10 lembar uang seratusan lalu menyodorkan uang itu ke hadapan Si driver.


Jiwa matre Si Abang driver meronta seketika.


"Boleh, Tuan. Silahkan!!" Driver itu segera membuka jaket yang dia pakai dan memberikannya kepada Reino.


"Helmnya?" Tanya Reino.


"Ada di parkiran hotel, Tuan."


"Ambil!" Reino memerintah.


Driver itu segera berlari ke parkiran untuk mengambil helm.


Beberapa menit kemudian, driver itu datang kembali membawa helmnya. Reino pun segera mencoba jaketnya, dia berpose sambil memeluk helm itu.


__ADS_1


"Bagaimana, apa cocok denganku?"Reino bertanya kepada Erik. Dan pengawal pribadinya itu hanya mengacungkan dua jempol sambil tersenyum.


"Besok aku akan menyamar agar bisa bertemu denganya." Lanjut Reino dengan senyum yang mengembang.


Erik hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol majikannya itu.


Flashback off ...


"Venus jangan begini! Tolong dengarkan dulu penjelasanku!" Reino telah membuka helm yang dia pakai lalu menggenggam tangan Venus, tapi gadis itu menghempaskannya dengan kasar.


"Aku nggak ingin mendengar penjelasan apapun darimu! Aku nggak ingin melihatmu lagi! Pak, suruh dia pergi!" Venus masuk ke dalam ruang pemulihan Vino, dan memerintahkan pengawalnya untuk mengusir Reino.


"Venus .... Venus ...!" Reino berteriak dan hendak masuk ke dalam kamar Vino tapi dengan cepat pengawal itu menahannya.


"Maaf, Tuan ... jangan membuat keributan, silahkan pergi dari sini!"


"Hey ... beraninya kau! Lepaskan aku!" Reino memberontak tapi tenaga pengawal itu lebih kuat.


Erik yang sedari tadi memperhatikan tingkah Reino dari jauh, segera menghampiri majikannya itu.


"Sudah, lepaskan!" Erik memerintahkan pengawal itu untuk melepaskan Reino dan pengawal itu pun menurutinya.


"Berengsek ...!" Reino membanting helm yang dia pegang.


"Ayo Tuan, kita pergi dari sini!" Erik menarik lengan Reino agar pria tampan yang sedang emosi itu mengikutinya lalu memungut helm yang tadi di banting oleh Reino.


Beberapa perawat dan pengunjung rumah sakit pun melihat mereka dengan tatapan heran.


Di dalam mobil, Reino berkali-kali menunjang kursi bagian depan, membuat Erik terkejut dengan ulahnya.


"Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang menyamar?" Tanya Reino sambil memijit kepalanya yang berdenyut.


"Mungkin ada yang melihat Tuan Muda saat di meja resepsionis kemarin lalu menyampaikannya kepada Nona Muda.


"Kurang ajar! Kalau ku tahu siapa orang itu, akan kuremukkan tulang-tulangnya!" Ucap Reino penuh kemarahan.


Erik hanya menghela nafas melihat tingkah laku Tuan Mudanya itu.


Sementara itu di dalam kamar Vino, Venus berusaha menutupi kejadian barusan dari Kakaknya itu, dia nggak ingin Vino khawatir.


"Ada apa di luar? Kenapa ada ribut-ribut?" Tanya Vino.


"Tidak ada, hanya ada pasien sakit jiwa yang mengamuk, Kak." Jawab Venus berbohong.


"Aneh sekali, apa pasien sakit jiwa juga di rawat di rumah sakit ini?"


Venus hanya menaikkan kedua bahunya, menandakan dia tidak tahu.


***


Bagaimana kalau kalian naik ojek tapi abang drivernya Si tampan Reino...?

__ADS_1


Kalau aku auto minta keliling kota....😂😂


Jangan lupa like nya ya sayang akuh...


__ADS_2