Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 37


__ADS_3

Masih di ruangan kerja Reino, Venus masih membolak-balik album di pangkuannya sambil sesekali tersenyum kala melihat foto-foto Reino kecil, sementara Reino hanya memperhatikan tingkah gadis itu.


"Sepertinya kau terhibur sekali dengan foto-foto itu?" Reino berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Venus.


"Habis saat kecil kamu sangat lucu dan menggemaskan, pasti kau sangat di sayangi oleh orang tuamu?" Venus masih senyum-senyum sendiri.


"Tentu saja setiap orang tua pasti menyayangi anaknya." Reino menjawab dengan nada datar.


"Sepertinya tidak semua orang tua begitu." Mendadak Venus menjadi sedih.


Orang tuaku tidak menyayangiku.


Buktinya mereka memperlakukannu dengan buruk dan parahnya lagi mereka tega mencampakkanku.


"Memangnya ada orang tua yang nggak menyayangi anaknya? Orang tua seperti apa itu?" Reino sengaja memancing Venus.


"Ada" Venus menjawab singkat.


Orang tuaku dan seluruh keluargaku nggak menyayangi aku, bahkan mereka menginginkan kematianku.


Aku sangat menyayangi mereka tapi sekaligus membenci mereka.


"Hey ... kenapa kau jadi sedih begitu? Apa orang tuamu memperlakukanmu dengan buruk?" Reino semakin memancing Venus agar mau cerita, sejujurnya Reino sudah tau semua perlakuan buruk keluarga Winata kepada Venus tapi dia ingin mendengar sendiri dari mulut gadis itu.


Venus terdiam dan berusaha memahami situasi ini, dia tersadar dengan ucapan Reino tadi bahwa tidak sulit mencari tahu tentang dirinya, berarti mungkin saja Reino juga sudah tahu semuanya tapi pria itu hanya memancing dirinya untuk bicara.


"Kau sudah tahu semuanya kan? Kenapa masih bertanya lagi?" Venus menatap tajam wajah tampan Reino.


"Tahu apa?" Jawab Reino pura-pura bodoh.


"Jangan pura-pura lagi deh! Kau pasti sudah tahu kalau keluargaku memperlakukan aku dengan buruk! Kau kan sudah kepoin hidup aku!" Venus meninggikan suaranya, ucapannya sukses membuat Reino kesal karena dituduh kepo. Tapi benar apa yang dikatakan Venus, Reino memang sudah mencari tahu tentang hidupnya alias kepo.


"Berani sekali kau meninggikan suaramu dan mengatakan aku kepo? Aku memang sudah tahu, tapi aku hanya ingin mendengarkannya langsung dari mulutmu yang cerewet itu." Reino memasang wajah tidak senang.


"Iya, mereka memang memperlakukan aku bukan selayaknya anak tapi seperti pembantu, mereka hanya memberiku makan dan menyekolahkan aku, selebihnya mereka nggak mau tahu, bahkan pakaianku saja sisa-sisa pakaian Erika yang sudah tidak dia pakai. Mereka juga sering memukulku karena kesalahan kecil yang tidak kusengaja, mereka juga membiarkan aku dipenjara dan yang terakhir mereka menjadikan aku tumbal keluargamu. Mereka memperlakukan aku sangat berbeda dengan Erika, dia begitu manja dan disayang, sementara aku ...?" Venus tak melanjutkan ceritanya, wanita itu tertunduk sedih dengan air mata yang meluncur turun tanpa aba-aba.


"Itu karena kau bukan putri kandung mereka, jadi mereka memperlakukanmu berbeda dari adikmu itu." Gumam Reino dalam hati.


Reino yang mendengar cerita Venus merasa sangat simpati sekaligus geram, rasa kasihannya kepada gadis itu semakin besar dan tekadnya untuk melindungi Venus pun semakin kuat.

__ADS_1


Mengapa mendengarkan kisah hidupnya, membuat hatiku sakit begini?


Aku bersumpah akan selalu menjagamu.


"Hey ... jangan menangis! Aku nggak suka melihat kau bersedih seperti ini, wajahmu menjadi jelek!" Reino mengusap air mata Venus dengan ibu jarinya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Venus membenamkan wajahnya didada bidang Reino, terdengar jelas detak jatung pria itu ditelinganya.


Rasanya begitu nyaman saat berada dipelukan suami sendiri, begitu juga dengan Reino, seperti ada sesuatu yang membuat hatinya tenang saat memeluk istrinya itu.


Cukup lama mereka berpelukan, sampai tiba-tiba Erik datang mengagetkan sepasang suami istri yang belum seutuhnya jadi suami istri itu.


"Permisi, Tuan! Maaf mengganggu!" Erik nyelonong masuk karena pintu ruang kerja Reino nggak tertutup rapat. Venus yang terkejut segera mendorong tubuh Reino agar menjauh darinya.


"Ck ... kau ini! Ada apa?" Reino berdecak kesal dan memandang sebal supir sekaligus pengawal pribadinya itu.


"Di ruang keluarga ada Nyonya Helen dan Nona Diana, mereka ingin bertemu dengan Tuan." Erik menundukkan kepala merasa tidak enak.


"Mau apa lagi mereka? Ya sudah, aku akan kesana."


"Aku ikut!" Venus memandang Reino penuh harap.


"Kau disini saja! Aku nggak mau mereka berkata kasar kepadamu." Reino menolak permintaan Venus.


"Jangan membantah! Tetap disini!" Titah Reino membungkam mulut Venus, gadis itu tak bersuara lagi dan memasang wajah cemberut.


Reino dan Erik meninggalkan Venus di ruang kerjanya, dia segera melangkah menuju ruang keluarga untuk menemui Helen dan Diana. Tapi tanpa Reino dan Erik sadari, Venus mengendap-endap mengikuti mereka dari belakang, gadis itu bersembunyi di balik tembok dan menguping pembicaraan mereka.


"Ada perlu apa kalian kemari?" Reino bertanya tanpa basa basi dengan raut wajah tidak suka.


"Tante mau membicarakan tentang perjodohan kamu dan Diana," Jawab Helen to the point.


"Apa anak Tante ini belum mengatakan kepada Tante bahwa perjodohan kami sudah batal?" Reino menaikkan satu alisnya, memandang Helen dan Diana bergantian.


"Kau tidak bisa seenaknya saja membatalkan perjodohan ini!" Diana berkata dengan penuh keyakinan.


"Kenapa tidak?"


"Karena kalian sudah ditakdirkan untuk berjodoh, ini sudah kesepakatan keluarga. Kau nggak bisa menolak!" Helen tersenyum licik.


"Takdir itu rahasia Tuhan! Bukan kesepakatan keluarga. Lagipula aku sudah menikah, aku sudah memiliki istri." Reino masih berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


"Hahaha ... istri sialanmu itu? Dia cuma tumbal dan kau hanya terpaksa menikahinya." Diana tertawa mengejek, membuat emosi Reino naik ke level 5.


"Jaga ucapanmu! Jangan menghina istriku!" Reino membentak Diana dengan tatapan membunuhnya.


"Jangan membentak putriku! Kenapa, kau tak terima wanita murahan itu dihina? Dia memang pantas mendapatkannya!" Helen membalas bentakan Reino dengan amarah yang meledak meletup.


"Sebaiknya jaga ucapan kalian, jangan membuat kesabaranku habis! Aku sudah berbaik hati membebaskan putrimu dari perbuatannya kejinya, jadi jangan membuatku berubah pikiran! Sebaiknya kalian pergi!" Reino menatap tajam Helen dan Diana.


Membuat Diana tertunduk takut, wanita itu meremas jari-jarinya.


Namun tiba-tiba Venus datang dari balik tembok dan langsung bergelayut manja dilengan Reino, membuat semua orang yang melihat aksinya terkejut terutama Reino.


"Kau lama sekali? Aku sudah jenuh menunggumu di kamar." Venus berbicara dengan sangat genit sambil mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode kepada Reino, pria tampan itu pun mengerti maksud Venus dan mulai ikut berakting.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar ya?" Reino mencubit pelan hidung Venus dan memeluk mesra pinggang gadis itu.


"Iya dong, yang tadi nanggung!" Venus menggigit bibir bawahnya dengan genit sambil memainkan jarinya didada bidang Reino. Dan aksinya kali ini membuat Reino benar-benar gemas, hasratnya mulai terpancing.


Reino semakin mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan ditelinga Venus. "Kau jangan keterlaluan, aku akan benar-benar melahapmu nanti."


Venus bergidik ngeri sambil menelan salivanya mendengar ucapan frontal Reino itu.


Helen dan Diana memandang jijik kedua pasutri yang nggak tahu diri itu, sementara Erik hanya memalingkan wajahnya menahan tawa melihat tingkah konyol kedua majikannya.


"Kalian menjijikkan!" Diana memaki kedua insan itu penuh emosi, lalu melangkah pergi meninggalkan kediaman Brahmansa.


"Ciih ... dasar tak tahu malu!" Helen pun menyusul putrinya.


Setelah kedua ibu dan anak itu berlalu, Venus segera melepaskan pelukan Reino dengan kasar.


"Hey ... sudah cukup! Jangan ambil kesempatan! Aku sudah membantumu mengusir dua rubah itu, jadi jaga sikapmu!" Venus memelototkan matanya.


"Kau yang memulainya, kenapa kau marah? Apa aku memintamu untuk membantuku?" Reino memandang sebal Venus.


"Dasar tak tahu terima kasih!" Venus berlalu pergi meninggalkan Reino.


"Awas kau ya!" Reino menyusul langkah istrinya.


Erik hanya menghela nafas dan memutar bola matanya melihat tingkah pasutri aneh itu.

__ADS_1


***


__ADS_2