
Erik mendatangi sebuah rumah besar yang dijaga oleh banyak pengawal, tapi tak seorang pun pengawal berani menghentikan Erik untuk masuk. Pria ini sama sekali tidak pergi ke kantor polisi, dia hanya memberi sedikit keterangan kepada polisi yang datang ke tempat kejadian perkara.
Erik membuka pintu kamar dengan kasar, dan terlihat seorang pria paruh baya sedang berdiri menghadap ke luar jendela kamar.
"Aku tahu kau pasti datang! Bagaimana, kau sudah memutuskan untuk bergabung denganku?" Tanya pria tua itu tanpa menoleh ke arah Erik.
"Jangan bermimpi, sampai kapanpun aku nggak akan bersekongkol denganmu pria iblis!" Erik berucap dengan penuh emosi.
"Semakin hari kau semakin mirip dengan Ibumu yang pembangkang itu!" Pria itu berbalik berjalan mendekati Erik.
"Jangan bawa-bawa Ibuku. Kau sudah cukup menyakitinya, jangan menjelekkannya lagi dengan mulut kotormu itu." Emosi Erik semakin naik saat Ibu yang dia sayangi di sebut-sebut.
Plaaaakk ...
"Dasar anak kurang aja! Dimana sopan santunmu berbicara dengan Ayahmu sendiri?" Pria itu melayangkan tamparan kepipi Erik dengan penuh emosi.
"Ayah ...? Ayahku sudah mati sejak dia mencampakkan aku dan Ibuku karena wanita lain. Dan aku minta berhentilah mengganggu orang-orang yang aku sayangi termasuk Reino dan istrinya. Atau kau akan berurusan denganku!" Erik berbicara dengan nada yang mengancam.
"Hahaha ... kau berani mengancamku anak ingusan? Kalau kau berani merusak rencanaku, aku akan membongkar rahasiamu kepada Tuan Mudamu yang sombong itu!" Pria tua itu tertawa sarkas dan berbalik mengancam Erik.
"Aku bersumpah akan membuat kau menyesali setiap perbuatanmu jika kau berani menyakiti orang-orang yang aku sayangi!" Erik menggeram dan berlalu pergi meninggalkan pria paruh baya itu.
Baru beberapa langkah Erik berjalan, ponselnya berdering nyaring, ada panggilan masuk dari Venus.
"Hallo, Nona Muda! Ada apa?" Tanya Erik bingung, tumben sekali Venus meneleponnya begini.
"Erik, ada yang mengirim pesan kepadaku. Aku diminta untuk datang ke hotel XX kamar Royal Suite, aku sudah coba menghubungi Reino, tapi tidak bisa." Venus menjawab dengan sedikit cemas.
"Apa ...? Hotel XX kamar Royal Suite ...?" Erik tersentak kaget, karena dia tahu dengan pasti itu kamar hotel tempat Reino menginap. Karena itu satu-satunya kamar termahal di hotel milik Reino dan hanya Tuan Mudanya yang boleh memakai kamar itu.
"Iya, aku sedang dalam perjalanan kesana, aku sedikit khawatir dan penasaran." Ucap Venus.
"Haaa ...? Baik, Nona Muda ... saya akan segera kesana dan jangan masuk jika saya belum datang!" Erik menjadi semakin cemas.
Erik memesan taxy online dan kembali ke hotel, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak, takut terjadi sesuatu dengan majikannya itu. Dia tahu, walaupun Reino seorang CEO yang tegas dan pintar dalam berbisnis tapi dia masih terlalu polos dalam menilai gerak-gerik seseorang, maka dari itu, selama ini Erik selalu menjaga dan mengawasinya. Erik seperti mata bathin untuk Reino, pria yang satu ini lebih peka dalam melihat sesuatu yang mengancam dari pada majikannya itu, walaupun dalam berbisnis, Erik jauh di bawah Reino. Begitulah manusia, punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.
***
__ADS_1
Erik tiba lebih dulu di lobi hotel XX, dari kejauhan seorang pria memanggilnya dan berlari dengan tergesa-gesa. Dia adalah pengawal yang menjemput Reino tadi.
"Tuan Erik .... Tuan Erik ... tunggu sebentar!" Pengawal itu semakin mendekati Erik.
"Kau ...? Ada apa kau berlari begitu? Dimana Tuan Muda?" Tanya Erik bingung.
"Tuan Muda sudah masuk ke dalam hotel bersama Nona Diana, dia meminta saya menunggu di parkiran." Jawab pengawal itu dengan nafas yang terengah-engah.
"Apa ...? Bagaimana bisa Nona Diana ada disini?"
Pengawal itu menceritakan apa yang dia lihat tadi, ternyata setelah memarkirkan mobil, pengawal itu kembali ke lobi hotel untuk ke toilet dan tanpa sengaja dia melihat Reino membawa Diana masuk ke dalam hotel.
"Baiklah ...! Kau tetap disini, siapa tahu kau dibutuhkan!" Erik menepuk pundak pengawal itu. Dia semakin yakin pasti ada yang tidak beres.
Beberapa saat kemudian, Venus pun tiba di antar oleh supir pribadi Vino, wajah cantik gadis itu terlihat sangat cemas.
"Erik, sekarang apa yang harus kita lakukan? Dimana Reino?" Tanya Venus.
"Sepertinya Tuan Muda ada di dalam, Nona." Erik menjawab dengan sedikit ragu.
"Kalau begitu, ayo kita masuk!"
"Nona Muda, tunggu sebentar!" Suara Erik menghentikan langkah Venus juga.
"Ada apa ...?" Tanya Venus bingung.
"Apa pun yang nanti Nona lihat dan temukan di dalam sana, saya mohon Nona untuk tetap tenang. Sepertinya kita semua sedang dijebak! Anda mengerti maksud saya kan, Nona?" Ucap Erik.
"Hmm ... Baiklah!" Venus mengangguk patuh.
Erik segera memutar handle pintu kamar Reino, dan benar saja, pintu kamar itu tidak terkunci, Erik semakin yakin ini jebakan.
Pintu kamar itu telah terbuka dengan lebar, mata Venus dan Erik membulat sempurna saat melihat Reino dan Diana sedang tidur seranjang walaupun mereka masih memakai pakaian yang lengkap. Tangan Diana memeluk tubuh Reino.
"Tuan Muda ...?" Erik memekik pelan dengan mulut yang menganga.
"Kau diam disini dan jangan ikut campur!" Ucap Venus kepada Erik, membuat pria itu terpaku di tempatnya dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Reinooooooo ...!!!" Venus berteriak memanggil nama suaminya seraya berjalan mendekati ranjang.
Reino dan Diana tersentak bangun, atau lebih tepatnya pura-pura tersentak dan bangun. Reino segera menyingkirkan tangan Diana yang memeluknya.
"Kau ada disini ...?" Tanya Reino sedikit cemas.
Sementara Diana hanya terdiam dan tersenyum samar.
Habislah kau Reino! Perang dunia akan segera dimulai.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidur disini tapi tidak mengajakku?" Venus berdiri berkancak pinggang di hadapan suaminya itu. Gadis itu berusaha tenang walaupun hatinya sedang panas dan geram.
"Haaa ...?"
Erik, Reino maupun Diana terkejut melihat reaksi Venus yang sungguh tak terduga itu, harusnya kan dia marah bukan malah bercanda begini.
"Hmm ... ma ... maaf, Sayang ... aku mengantuk sekali tadi." Ucap Reino gugup sambil melirik Diana yang masih terbengong melihat reaksi Venus.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu tidur disini!" Venus segera naik ke atas ranjang lalu merebahkan dirinya di antara Reino dan Diana, memaksa Diana untuk menggeser tubuhnya agar memberi ruang untuk Venus. Lagi-lagi semua orang yang berada di kamar itu terkejut melihat reaksi tak terduga Venus., Erik dan Reino sampai bingung harus berbuat apa?
"Kau baik-baik saja kan?" Reino meletakkan punggung tangannya didahi Venus.
"Memangnya aku kenapa? Aku hanya ingin menemanimu tidur disini saja, tadi katanya kau mengantuk. Mari tidur ...!!" Venus memeluk erat tubuh Reino.
"Iya, Sayang." Reino menurut saja dan membalas pelukan istrinya itu, walaupun hatinya masih diselimuti kebingungan.
Venus mendekatkan bibirnya ke telinga Reino, dan berbisik dengan sangat pelan, hingga hanya Reino yang bisa mendengarnya.
"Setelah ini kau harus menjelaskan semuanya kepadaku! Atau kau akan menyesal!" Venus berbisik dengan gigi yang merapat menahan geram.
"Iya, Sayang." Ucap Reino pelan, lalu menghujani banyak kecupan di pucuk kepala Venus. Berharap bisa mendinginkan hati istrinya itu.
Diana yang melihat adegan itu sungguh bingung sekaligus berang, bagaimana mungkin Venus bisa bersikap setenang ini saat melihat suaminya bersama wanita lain di kamar hotel?
Bahkan Diana dianggap seperti tidak ada di dalam kamar itu. Ini sungguh di luar rencananya.
Sementara Erik yang masih mematung tak jauh dari kedua pasutri gila itu hanya tersenyum samar, dia sungguh tak menyangka Nona Mudanya akan bertingkah seperti ini.
__ADS_1
***