
Akhirnya Vino, Venus dan Alvin tiba di rumah keluarga Adyatama, Robby menyambut mereka dengan hangat. Ini pertama kalinya Venus kembali lagi ke rumah orang tuanya setelah 21 tahun lalu dia di culik dan akhirnya di adopsi oleh keluarga Daniel Winata.
Venus memasuki rumah yang tak kalah megahnya dengan rumah Reino itu dengan perasaan haru, dia memandangi figura-figura foto di terpajang di dinding. Untuk pertama kalinya Venus melihat wajah Ayah dan Ibunya, dan memang benar yang dikatakan Robby, wajah Venus mirip seperti Ibunya.
Venus melangkah mendekati figura foto itu dan mengusap pelan wajah Ayah dan Ibunya, air matanya pun jatuh tanpa permisi.
"Ayah ... Ibu ... aku pulang!" Badan Venus bergetar bersamaan dengan isak tangisnya.
Vino yang melihat Venus menangis, segera mendekati adiknya itu. Robby pun ikut mengelus pundak Venus untuk menenangkannya.
"Kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau bahagia karena bisa kembali ke rumah ini lagi?" Vino menggenggam tangan Venus dan memandang lekat wajahnya yang basah.
"Aku cuma sedih saja, Kak ... aku kembali ke rumah ini disaat mereka sudah tiada, bahkan aku belum puas merasakan kasih sayang mereka." Venus semakin terisak.
"Ada aku disini! Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu, kau jangan bersedih lagi."
"Kakak, aku sangat menyayangimu." Venus berlutut agar sejajar dengan Vino yang duduk di kursi roda lalu memeluk erat Kakaknya itu.
"Aku juga sangat menyayangimu." Vino pun membalas pelukan Venus dan mengelus rambut panjang gadis itu.
Alvin yang melihat kedua Kakak beradik itu pun ikut terharu seolah dia bisa merasakan kesedihan Venus.
"Ya sudah, aku mau pergi belanja dulu bersama Alvin. Kakak sama Om Robby dulu ya?" Venus menghapus air matanya dan memamerkan senyum ajaibnya. Baru beberapa detik yang lalu dia bersedih, kini dia sudah bisa tersenyum dengan mempesona begitu.
"Tapi kau baru saja tiba, kenapa harus pergi lagi?" Vino terlihat keberatan.
"Tidak apa-apa kak."
"Kenapa Om meminta Venus untuk memasak? Kita sudah ada koki dan pelayan?" Tanya Vino.
"Om hanya ingin mencoba masakan Adikmu saja, siapa tahu masakannya seenak masakan Ibumu. Dan nanti malam kita akan makan malam bersama." Robby menjawabnya sambil tersenyum.
"Ya sudahlah, tapi kalian hati-hatinya! Alvin, aku titip Adikku, jaga dia baik-baik! Jangan sampai lecet sedikit pun!" Tergambar jelas raut kecemasan diwajah tampan Vino.
"Baiklah!" Alvin mengangguk.
"Sudahlah, Kak! Jangan terlalu cemas! Aku pergi dulu." Venus segera menarik Alvin sebelum Vino mengeluarkan kata-kata dramatisnya lagi.
Alvin segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah Vino menuju supermarket, tapi di perjalanan, Venus meminta Alvin berbelok.
"Vin, bisakah kita ke rumah sakit sebentar?" Tanya Venus.
__ADS_1
"Mau apa kembali kesana? Ada yang tertinggal?" Alvin menjawab pertanyaan Venus dengan pertanyaan juga.
"Tidak ada yang tertinggal, aku hanya mau memastikan kondisi Erika saja." Jawab Venus.
"Erika ...? Erika adikmu itu? Memangnya dia kenapa?" Alvin berbicara tanpa menoleh ke arah Venus, dia tetap fokus mengemudi.
"Tadi Erik menemukan Erika pingsan di jalan, lalu membawanya ke rumah sakit. Erika mengalami pendarahan dan dia keguguran. Aku tidak bisa menghubungi Ayah dan Mamanya." Venus tertunduk sedih.
"Ya, ampun ... kasihan sekali dia." Ucap Alvin prihatin. Hati pria itu mendadak terpukau dengan kebaikan Venus, baru saja wanita sombong itu memperlakukannya dengan buruk, tapi sekarang Venus malah mengkhawatirkannya.
Kau memang wanita berhati malaikat. Kau benar-benar baik.
Alvin pun melesatkan mobilnya menuju rumah sakit.
***
Venus buru-buru masuk ke ruang perawatan Erika, dia sengaja tidak memberitahukan keadaan Erika kepada Vino, karena Venus tahu Vino pasti tidak mengizinkannya untuk mengurus Erika.
Erika masih terbaring lemah, dia baru saja sadar saat Venus masuk, dan dia juga masih belum mengetahui jika bayinya telah tiada.
"Kau sudah sadar? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Venus mendekati Erika, memandang adik tirinya itu dengan wajah cemas.
"Sedang apa kau disini? Aku tidak butuh belas kasihanmu! Kau pasti hanya ingin menertawakanku, iya kan?" Erika berbicara dengan pelan tapi dari sorot matanya, dia sangat membenci Venus.
"Tidak ... aku tidak ingat!"
"Kenapa kau tidak membawa ponselmu? Kalau begini kan jadi sulit menghubungi mereka. Ya sudahlah, aku akan kerumahmu saja!" Venus hendak melangkah keluar.
"Jangan ...! Jangan beritahu mereka, aku nggak ingin mereka khawatir!" Erika melarang Venus dan menghentikan langkah gadis itu.
"Tapi mereka harus tahu kondisimu."
"Aku mohon jangan! Setelah ini aku akan pulang, mereka nggak perlu tahu tentang semua ini." Erika berusaha bangun dari tidurnya, Venus segera membantu adik tirinya itu.
"Tapi bagaimana dengan kehamilanmu? Mereka harus tahu yang sebenarnya."
"Memangnya apa yang terjadi dengan kehamilanku?" Wajah Erika mulai cemas.
"Kau ... kau keguguran! Bayimu sudah tiada." Takut-takut Venus mengatakan kabar duka ini kepada Erika.
"Apaaaa ...? Bayiku ...! Ini nggak mungkin ...!!!" Erika berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Alvin yang menunggu di luar ruangan Erika pun segera masuk saat mendengar terikan wanita angkuh itu.
__ADS_1
"Tenanglah Erika!" Venus mendekap Erika. Tapi wanita itu malah mendorong tubuh Venus agar menjauh darinya. Alvin segera menghampiri Venus untuk melindungi gadis itu kalau-kalau Erika berbuat kasar.
"Jangan pura-pura perduli kepadaku! Kau pasti senangkan melihatku seperti ini?" Erika semakin menjadi-jadi, dia menangis sesunggukan.
"Erika ... aku tidak seperti itu! Bagaimana pun juga, aku tetap menyayangimu walaupun kita bukan saudara kandung." Venus mencoba menenangkan Erika.
"Bohong!!! Pergi kau dari sini!" Erika yang syok pun mengusir Venus dan melemparnya dengan bantal.
Alvin menarik Venus agar segera keluar dari ruangan itu. Seorang perawat datang setelah mendengar teriakan Erika.
"Apa yang terjadi?" Perawat bertanya dengan khawatir.
"Pasien mengamuk saat tahu dia keguguran." Jawab Venus.
"Tunggu sebentar! Saya akan panggilkan dokter!" Perawat itu berlari.
Setelah dokter datang, akhirnya Venus dan Alvin pun keluar dari ruangan itu. Venus sungguh penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Erika?
"Maaf, Nona ... dimana suami pasien? Bukankah tadi ada disini? Sepertinya pasien syok dan butuh seseorang yang bisa mendampinginya saat ini." dokter wanita itu menghampiri Venus yang sedang duduk di ruang tungggu.
"Hmm ... suaminya? Apa tadi suaminya datang kesini?" Tanya Venus bingung. Apa mungkin Shane sudah tahu tentang kondisi Erika lalu datang kesini?
"Iya, bukankah yang membawa pasien kesini adalah suaminya sendiri tadi?" Ucap dokter wanita itu.
"Apa ...?"
"Oh ... iya, dok! Suaminya sedang ada urusan, nanti dia kesini kok." Alvin yang sudah mengerti dengan situasi ini langsung menyela cepat. Venus yang terkejut mendengar ucapan Alvin hanya memandangi pria itu dengan kebingungan.
"Oh ... begitu! Kalau bisa suruh suaminya segera datang, pasien butuh orang-orang terdekatnya. Ya sudah, saya permisi dulu." dokter itu berlalu meninggalkan Venus dan Alvin.
"Kenapa kau berbicara begitu?"
"Jadi aku harus bilang apa lagi? Apa kau mau dokter tadi terus bertanya tentang suami adikmu itu? Sudahlah, sementara ini biarkan mereka menganggap Erik sebagai suaminya." Alvin mengulum senyum.
"Kau ini ...! Ya sudah, mari berbelanja! Nanti aku akan suruh Erik datang menjenguknya." Venus pun tertawa geli saat membayangkan Erik menyamar sebagai suami Erika.
Sementara itu di ruang perawatanya, Erika yang mulai hilang kesadaran karena pengaruh obat penenang terus-terusan mengigau.
"Kau ... pembunuh ...! Kau pembunuh ..."
***
__ADS_1
Jangan lupa like ya... yang belum kasih bintang, jangan lupa bintang 5 nya...
Berhubung besok Minggu, jadi author libur ya... Insha Allah lanjut up lagi hari Senin.