Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 55


__ADS_3

Vino memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman rumah Reino, dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumah yang megah itu, beberapa pengawal menghalangin langkah Vino di depan pintu utama.


"Reino bajing4n ...! Keluar kau ...!!!" Vino berteriak memaki Reino.


"Maaf, Tuan ... bersikaplah yang sopan! Jangan berteriak!" Seorang pengawal menahan pundak Vino.


"Suruh Tuanmu itu keluar! Aku akan membuat perhitungan dengannya!" Vino menatap tajam pengawal itu.


"Ada apa ini, Tuan Vino?" Erik yang baru datang terkejut melihat kehadiran Vino, dia mengisyaratkan agar pengawalnya melepaskan Vino.


"Dimana si Berengsek itu? Suruh dia keluar!" Vino mencengkeram kerah baju Erik dengan penuh Emosi.


"Ada apa kau mencariku?" Belum sempat Erik menjawab, Reino sudah lebih dulu datang menuruni anak tangga.


Melihat orang yang dia cari berada di hadapannya, Vino segera berlari dan menyerang Reino.


Buuugghh ...!


"Dasar bajing4n kau!" Vino melayangkan pukulan dengan kuat kewajah tampan Reino, hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.


Para pengawal Reino yang melihat adegan itu segera bertindak untuk mengamankan Vino, tapi Reino meminta mereka semua mundur dan keluar dari rumah utama dengan isyarat tangannya. Termasuk juga Erik, ragu-ragu pria itu akhirnya melangkah keluar dari rumah.


"Berani sekali kau memukulku?" Reino menggeram sambil meringis menahan sakit diwajahnya bekas pukulan Vino.


"Kau yang berani sekali menjadikannya tumbal di keluargamu, dia putri kesayangan orang tuaku! Tapi apa yang kau dan keluargamu lakukan?" Vino mencengkeram baju Reino dan menatap pria itu dengan penuh kemarahan.


"Lepaskan aku!" Reino menepis kasar tangan Vino yang mencengkeram bajunya.


"Kembalikan adikku!" Vino berteriak dengan penuh emosi.


"Adikmu? Bicara apa kau ini?" Reino masih berusaha untuk menutupi kebohongannya.


"Jangan berpura-pura lagi, bangsa4t! Aku sudah tahu semuanya, Venus itu adalah adikku!" Vino kembali menyerang Reino dengan membabi buta, dia melayangkan lagi pukulannya kewajah Reino hingga sudut bibir pria itu berdarah.


Reino pun tak tinggal diam, dia juga membalas pukulan Vino. Kedua pria tampan itu akhirnya saling pukul satu sama lain.


Mendengar keributan itu, Venus, Liana dan Tomi pun segera keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Ya Tuhan, apa yang kalian lakukan? Berhenti! Erik ... cepat kesini!" Venus berteriak memanggil Erik agar melerai perkelahian kedua orang itu.


"Reino ... cukup!" Liana pun tak kalah histeris.


"Pengawal ...! Kemana sih semua orang?" Tomi berjalan ke pintu utama, tapi Erik sudah lebih dulu datang.

__ADS_1


"Tuan Muda ... Tuan Vino ... berhenti!" Erik berusaha melerai perkelahian itu.


"Cukup ...! Hentikan!!!" Venus berteriak.


Reino dan Vino yang sudah babak belur, segera menghentikan perkelahian sengit mereka.


Melihat Venus yang berdiri di hadapannya, Vino segera berhambur memeluk gadis itu, membuat Venus dan semua orang terkejut dengan aksinya.


Reino ingin menarik Venus, tapi dengan cepat Erik menahannya sambil menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar Reino jangan mengganggu moment itu.


"Venus ... adikku sayang! Aku sangat merindukanmu!" Vino semakin mengeratkan pelukannya, sementara Venus hanya terdiam mencoba mencerna situasi ini.


Liana dan Tomi terkejut bukan main mendengar pengakuan Vino itu, Liana segera mundur dan bersembunyi di balik badan Tomi.


"Lepaskan aku!" Venus mendorong kuat tubuh Vino hingga terlepas dari tubuhnya.


"Kenapa?" Vino memandang lekat wajah Venus.


"Kau yang kenapa Tuan? Tiba-tiba datang dan menghajar suamiku, lalu mengatakan bahwa aku adalah adikmu. Kau sedang mabuk ya?" Venus memandang Vino dengan tatapan penuh kemarahan.


"Kau memang adikku! Adikku yang hilang 21 tahun yang lalu, kau adalah Venus Adyatama."


"Hentikan omong kosong ini, Tuan!" Venus membentak Vino.


"Kumohon pergilah, Tuan! Aku bukan adikmu, kau pasti salah!" Venus memelas.


"Nggak ... aku nggak salah! Kau memang adikku! Kau putri kesayangan keluarga Adyatama, tapi keluarga berengsek ini malah menjadikanmu sebagai tumbal." Air mata Vino mulai jatuh diantara rasa marah dan sedihnya.


"Cukup, Tuan! Aku mohon hentikan semua ini dan pergilah! Aaaahh ..." Venus mendadak pusing dan limbung, tubuhnya lemas dan akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.


"Venus ...!" Reino dan Vino serentak mendekati Venus, Reino mendorong kuat Vino agar menjauh dari Venus dan segera mengangkat tubuh lemah istrinya itu menuju kamarnya.


"Erik, panggil dokter Sandra!" Reino memerintah sambil berjalan menggendong Venus.


"Baik, Tuan!"


Vino memandang kepergian Venus bersama Reino dengan perasaan campur aduk. Marah, geram dan sedih bercampur jadi satu.


"Tuan Vino, sebaiknya Tuan pergi dari sini! Nanti kita akan bicarakan ini lagi." Erik memandang Vino penuh harap, mencoba bernego dengan pria yang sedang kalut itu.


"Dia adikku!" Vino berbicara pelan dengan bibir yang bergetar, air matanya terus turun tanpa bisa berhenti.


"Iya, saya mengerti perasaan, Tuan. Tapi demi kebaikan Nona Venus, sebaiknya Tuan Vino pergi dari sini." Erik memaksakan senyum dibibirnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku titip adikku, tolong jaga dia!" Vino menepuk pundak Erik 2 x dan berlalu meninggalkan kediaman Brahmansa. Erik merasa sedikit bersalah kepada Vino.


Andai Reino tidak keras kepala, mungkin kau bisa berkumpul lagi dengan adikmu. Tapi sayang, cintanya membuat dia menjadi egois.


Liana dan Tomi memandang kepergian Vino dengan berbagai macam tanda tanya dibenak mereka. Pengakuan Vino hari ini sungguh mengekutkan semua orang. Erik hanya memandang sinis kedua orang tua itu.


Sementara itu, Reino segera membaringkan Venus di atas ranjang dan memandang lekat wajah cantik yang tak sadarkan diri itu.


"Maafkan aku! Aku nggak berniat jahat! Aku hanya takut kehilanganmu, aku takut kau pergi dariku kalau kau tahu siapa keluarga kandungmu." Reino berbicara pelan sambil mengelus pucuk kepala Venus.


***


Vino mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, hatinya benar-benar kacau, dia nggak menyangka bahwa Venus akan menolaknya.


"Berengsek kau Reino!" Vino memukul stir mobilnya berkali-kali untuk melampiaskan kemarahannya.


Vino mengambil ponselnya lalu menghubungi Kenan, saat ini teman gilanya itulah yang sangat dia butuhkan.


"Hallo, ada apa kau menelponku?" Kenan


"Dia memang adikku! Venus memang adikku! Tapi dia tidak mau menerimaku!" Vino berbicara sambil sesunggukan, air matanya terus jatuh.


"Apa yang terjadi?" Kenan


"Aku hanya menjemputnya pulang! Tapi dia menolakku!"


"Ya ... ampun! Kenapa kau gegabah sekali? Aku sudah katakan jangan dulu!" Kenan.


"Aku nggak bisa menahannya lagi!"


"Kalau begitu datanglah ke rumahku, kau bisa menceritakan semuanya." Kenan


Vino segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kenan. Pria tampan yang sedang kacau itu menambah kecepatan mobilnya, namun saat di jalanan sunyi, tiba-tiba dari arah berlawanan ada sebuah truk colt diesel melaju dengan kecepatan tinggi masuk ke jalur mobil Vino.


Braaaaakkk ...!


"Aaaarrgghh ..." Vino berteriak saat truk colt diesel itu menabrak mobilnya dengan sangat kuat.


Vino hilang kendali, mobilnya terguling beberapa kali dan berakhir saat menghantam pembatas jalan. Sementara truk colt diesel itu melarikan diri meninggalkan Vino dan mobilnya yang ringsek, darah segar mengalir disekitar mobil itu.


***


Sumpah aku sedikit sedih saat menulis part ini ...😭

__ADS_1


__ADS_2