
Erik tak henti-hentinya memukul stir mobil untuk melampiaskan kekesalan hatinya, dia benar-benar merasa bodoh karena percaya bergitu saja dengan ancaman si penelpon itu. Saking paniknya dia, sampai otaknya nggak bisa berfikir dengan baik.
"Berengsek ...!!!" Erik berteriak untuk meluapkan rasa geram dihatinya.
"Apalagi yang kau rencanakan? Belum cukup kau menghancurkan hidupku dan orang-orang yang ku sayangi? Kenapa harus ada manusia kejam sepertimu di dunia ini?" Erik berbicara sendiri dengan emosi yang menggebu-gebu.
Bahkan saking emosinya, Erik tak menyadari Diana sedang mengikutinya dari belakang.
Mobil yang di kendarai Erik tiba-tiba menepi mendadak saat melihat seorang wanita sedang terbungkuk dan meringis di tepi jalan, sepertinya wanita itu sedang kesakitan. Terlihat banyak darah yang mengalir di kedua kakinya.
Taxy online yang dikendarai Diana pun ikut berhenti di belakang mobil Erik dengan jarak yang aman.
"Apa yang supir sialan itu lakukan?" Diana memandang heran saat Erik buru-buru keluar dan menghampiri wanita yang berada di tepi jalan itu.
"Kau kenapa Nona? Ada yang bisa aku bantu?" Erik menghampiri wanita itu dan menawarkan bantuan.
"Tolong aku, perutku sakit sekali." Wanita itu meringis kesakitan masih dalam keadaan membungkuk, sehingga rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" Erik mencoba memapah wanita itu.
"Ah ... sakit sekali, aku tidak tahan!" Wanita itu pun akhirnya pingsan dan jatuh ke dalam pelukan Erik.
"Nona ...!" Erik mengangkat tubuh lemah itu, rambut yang menutupi wajahnya pun tergerai. Alangkah kagetnya Erik saat melihat wajah wanita itu.
"Erika ...! Ya, Tuhan ...!" Erik memasukkan Erika ke dalam mobiknya, lalu malajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit.
Taxy online yang ditumpangi Diana pun melaju mengikuti mobil Erik.
***
Erik segera mengangkat tubuh Erika dan membawanya ke ruang UGD, pria itu sangat panik. Dokter pun segera memeriksa kondisi Erika yang pucat dan tak sadarkan diri.
"Apa Anda suaminya?" dokter wanita itu itu bertanya kepada Erik.
"Hmm ... i ... iya, saya suaminya. Bagaimana kondisinya, dok?" Erik terpaksa berbohong agar semua dipercepat.
"Maaf, Tuan ... istri Anda keguguran. Anda dan istri Anda kehilangan bayi kalian." dokter itu berbicara dengan raut wajah sendu, seolah dia pun ikut merasa kesedihan.
"Apa ...? Lalu bagaimana kondisi ibunya?" Tanya Erik cemas.
"Kondisinya tidak baik, dia kehabisan banyak darah akibat pendarahan. Dan kami akan segera melakukan kuret untuk mengeluarkan janin yang sudah mati." dokter itu menjelaskan.
__ADS_1
"Haa ...? Kalau begitu lakukan saja yang terbaik, dok!"
"Baiklah, kalau begitu mari silahkan tanda tangan surat persetujuan untuk tindakan kuretnya." dokter itu mengajak Erik ke ruangannya.
Diana yang mengikuti Erik dan bersembunyi di balik pintu ruang UGD pun masuk mendekati Erika dan memakai masker untuk menutupi separuh wajahnya. Dia sengaja meminta supir taxy online tadi untuk menunggunya di parkiran.
"Ternyata gadis licik ini yang keguguran? Kenapa nggak mati saja sekalian?" Diana berbicara pelan dengan wajah sinis, ingin sekali dia mencekik Erika kalau tidak ada orang di ruangan itu.
"Sebaiknya aku bersembunyi, sebelum supir sialan itu datang." Diana pun kembali ke tempat persbunyiannya tadi.
Berselang beberapa menit, Erik kembali lagi ke ruang UGD, dan Erika pun dibawa ke ruang persalinan. Erik buru-buru merogoh ponselnya dan menghubungi Venus, kebetulan Erika masih satu rumah sakit dengan Vino.
Diana pun berjalan dengan mengendap-endap, mengikuti Erik yang sedang sibuk menelepon.
Betapa terkejutnya Diana saat melihat Venus datang dari lift dan menghampiri Erik dengan wajah cemas.
"Wah ... ternyata Si tumbal itu disini? Hari ini adalah hari keberuntunganku rupanya." Diana bergumam sambil tersenyum sinis.
"Apa yang terjadi kepadanya?" Venus bertanya. Gadis itu sangat cemas.
"Entahlah, Nona! Saya menemukannya sedang kesakitan di tepi jalan lalu dia pingsan dan saya membawanya kesini." Erik menjelaskan dengan wajah yang tak kalah khawatir.
"Ya, Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi?" Venus mengusap wajahnya.
"Tapi aku tidak memiliki nomor mereka. Coba lihat di ponsel Erika, pasti ada."
"Sepertinya Nona Erika tidak membawa ponselnya, Nona." Ucap Erik.
"Bagaimana mungkin dia meninggalkan ponselnya saat keluar dari rumah?" Venus semakin bingung dengan situasi ini.
Tiba-tiba ponsel Erik berdering, dia buru-buru mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Reino itu.
"Hallo, Tuan."
"Kau kemana saja? Kenapa pergi lama sekali?" Reino.
"Maaf, Tuan ... saya ada sedikit urusan. Saya akan segera pulang." Erik merasa tak enak hati karena meninggalkan Reino.
"Cepatlah! Aku ingin pergi kesuatu tempat untuk menemui seseorang." Reino
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Reino telah memutus panggilan teleponnya, Venus memandang bingung Erik.
"Ada apa?" Tanya Venus
"Tuan Muda meminta saya pulang, Nona."
"Erik, dia baik-baik sajakan? Kenapa dia tidak berusaha menemuiku lagi? Apa dia marah kepadaku?" Tanya Venus lagi.
Walau bagiamana pun, dia masih berharap Reino mau menemuinya. Karena tak bisa dipungkiri, Venus sangat merindukan suaminya itu, tapi rasa egois mengalahkan rasa rindu itu sendiri.
"Tidak Nona, Tuan Muda tidak marah kepada Nona. Tuan hanya malu karena sudah bertingkah konyol kemaren." Jawaban Erik mengingatkan Venus dengan adegan penyamaran Reino kemarin.
Dari tempat persembunyianya, Diana mendadak penasaran setelah mendengar kata-kata Erik.
Kenapa dia berkata begitu? Apa mereka sedang bertengkar? Lalu tingkah konyol apa yang dilakukan Reino? Aku jadi penasaran.
"Baiklah, saya permisi dulu, Nona. Kalau ada apa-apa, kabari saya secepatnya!" Erik berpamitan walau pun hatinya masih cemas dengan kondisi Erika.
"Iya, setelah Erika sadar, aku akan menemui Ayah dan Mamanya." Ucap Venus.
Erik pun berlalu pergi, sementara Diana melanjutkan kembali aksinya mengikuti Erik sampai bertemu dengan Reino. Karena itu tujuan utamanya, walaupun dia banyak mendapatkan kejutan-kejutan yang membuatnya penasaran.
***
Erik telah memarkirkan mobil yang dikendarainya di parkiran hotel, pria itu buru-buru berjalan memasuki hotel. Diana pun dengan susah payah mengikuti langkah Erik yang cepat, gadis itu masih memakai masker untuk menutupi wajahnya agar tak ada yang mengenalinya.
Erik masuk ke dalam kamar hotel, lalu menutup pintunya, Diana pun terus mengintip dari balik tembok. Selang 5 menit kemudian pintu itu terbuka lagi, Reino dan Erik keluar dari kamar lalu pergi tergesa-gesa meninggalkan hotel. Sementara Diana berpura-pura sedang memutar handle pintu salah satu kamar yang tak jauh dari kamar Reino, seolah-olah dia pengunjung hotel yang ingin masuk ke kamarnya saat Reino dan Erik melewatinya. Dan benar saja mereka tidak menyadari kehadiran Diana.
Setelah Reino dan Erik menjauh, Diana buru-buru berlari mengejar mereka, tapi kedua pria itu sudah menghilang entah kemana.
"Baiklah, cukup sampai disini. Besok kita mulai semuanya." Gumam Diana dengan seringai liciknya.
***
Berdasarkan pertimbangan, visual Diana aku ganti ya guys ....
Kayaknya nggak enak aja kalau pakai visual orang yang sudah tiada.
Jadi visual yang ada di bab sebelumnya, aku hapus dan ini visual Diana yang baru...
Diana
__ADS_1