Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 38


__ADS_3

Pagi ini Venus sedang duduk melamun di ruang kerjanya, setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Venus berhasil meluluhkan hati Reino untuk mengizinkannya bekerja lagi tapi tentunya dengan sebuah syarat, yaitu Venus nggak boleh keluar kantor tanpa Reino ataupun pengawal. Sebenarnya jauh dihati kecil Venus, dia sangat menolak syarat yang melenyapkan kebebasannya itu, tapi nggak ada pilihan lain, yang terpenting dia masih bisa ke kantor dan tidak mati jenuh di rumah.


"Selamat pagi, Venus." Alvin yang baru datang, berdiri di samping meja kerja Venus.


"Pagi Alvin. Kau sudah kembali bekerja? Kau sudah baikkan?" Venus memandang Alvin dengan raut wajah cemas.


Setelah kejadian kemarin, baru hari ini Alvin masuk kerja lagi.


"Aku sudah baikkan kok!" Alvin tersenyum untuk meyakinkan Venus bahwa dirinya baik-baik saja.


"Syukurlah, aku sangat mencemaskanmu," Venus menghela nafas pelan.


"Terima kasih sudah mencemaskanku." Alvin memandang lekat wajah cantik Venus, dia merasa seperti ada yang menyentuh relung hatinya.


Apa dia benar-benar mencemaskanku?


Baru kali ini ada orang yang perduli padaku.


"Hey ... kau sedang melamuni apa?" Venus melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alvin hingga membuat pria itu tersentak dari lamunannya.


"Ah ... hmm ... bukan apa-apa kok." Alvin kembali tersenyum kikuk.


"Oh iya, by the way ... terima kasih ya karena kamu sudah menolongku waktu itu, kamu sampai terluka gara-gara aku." Venus merasa tak enak hati. Selepas dari rumah sakit kemaren, dia tak sempat berterima kasih kepada Alvin karena Reino selalu di dekatnya.


"Nggak apa-apa. Memang sudah seharusnya aku menolongmu, karena kau pergi bersamaku, jadi kau tanggung jawabku." Alvin semakin melebarkan senyumannya.


Venus hanya membalas ucapan Alvin dengan senyuman ajaibnya yang mampu meluluhkan siapa saja yang melihatnya.


Namun tanpa mereka sadari, Reino sedari tadi berdiri di depan ruangan Venus. Pria itu mendengarkan obrolan mereka dengan perasaan geram, dia mengeraskan rahangnya menahan emosi yang menjalar keotaknya. Reino benar-benar nggak suka melihat Alvin dekat dengan istrinya.


"Apa aku menggaji kalian untuk mengobrol?" Suara dingin khas Reino berhasil mengagetkan Venus dan Alvin.


Alvin segera berbalik dan menundukkan kepalanya memberi hormat. "Maafkan saya, Tuan."


"Kembali ke ruanganmu!" Reino memerintah Alvin dengan raut wajah tidak suka.


"Baik, Tuan ... saya permisi." Alvin berlalu dari ruangan Venus, setelah sempat melirik sedikit gadis itu.


Setelah Alvin berlalu pergi, Reino mendekati Venus dan menatap tajam gadis itu.


"Kau tertangkap basah sedang selingkuh dengan kekasihmu itu." Reino berbicara dengan nada pelan tapi penuh penekanan.


"Jangan sembarangan bicara! Siapa yang selingkuh?" Venus tak terima, apa-apaan suaminya itu, seenaknya saja menuduh yang bukan-bukan.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan kau? Kau harus mendapat hukuman karena telah berani selingkuh!"


"Enak saja main hukum-hukum! Sudah kubilang aku nggak selingkuh! Aku nggak mau dihukum!" Venus melengos kesal.


"Kalau begitu, kau kupecat! Mulai besok jangan bekerja lagi dan diam dirumah!" Ancaman Reino membuat Venus terpaksa pasrah, dasar Tuan Muda nggak ada akhlak, sudah sesuka hatinya menuduh yang bukan-bukan, sekarang malah menghukum orang seenak jidatnya.


"Kau ini, selalu saja mengancam! Katakan apa hukumanku?" Venus geram tapi pasrah.


Reino semakin mendekati Venus dan meraih pinggang ramping gadis itu hingga badan mereka saling menempel, jarak wajah mereka hanya sejengkal, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.


"Ka ... kau mau apa?" Venus menjadi gugup sekaligus takut dengan aksi Reino ini.


"Aku akan memberi hukuman untukmu!" Reino berbicara dengan sangat pelan, matanya memandang bibir r4num Venus dengan penuh hasr4t. Bibir yang selama ini selalu menggodanya.


Reino semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Venus, lalu men4utkan bibir mereka. Reino melum4t dan mengec4p bibir merah itu dengan penuh hasr4t. Venus ingin menolak perlakuan Reino itu tapi entah mengapa tubuhnya bertindak sebaliknya.


Venus menutup matanya, menikmati sentuhan hangat dari bibir suaminya.


Reino melepaskan tautan bibir mereka dan mengelap bibir Venus yang basah.


Ini pertama kalinya bagi mereka berciuman, maklum saja jika masih amatiran.


"Jangan coba-coba selingkuh lagi! Atau aku akan menghukummu lebih dari ini." Reino kembali mengancam tapi dengan nada yang lembut, kemudian berlalu pergi meninggalkan Venus dengan wajah yang merah bak kepiting rebus.


Dia baru saja mencuri ciuman pertamaku.


Seketika Venus lemas tak bertulang, dia terduduk di kursi meja kerjanya mencoba menata hatinya yang masih bergemuruh hebat.


Sementara di ruangannya, Reino sedang senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras, dia masih nggak percaya bahwa dirinya sudah berani mencium istrinya itu dan ini juga pertama kalinya dia berciuman. Karena memang dari dulu Reino nggak pernah dekat dengan wanita manapun, sekalinya dijodohkan, dengan Diana, wanita yang tidak dia cintai sama sekali.


"Begini rasanya berciuman itu? Bibirnya manis dan hangat." Reino tanpa sadar meraba bibirnya sendiri, masih terasa sentuhan lembut bibir Venus. Mendadak ada yang bergejolak didiri Reino.


Tok ... tok ... tok ...


Reino tersentak kaget mendengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar, lamunannya tentang Venus buyar begitu saja.


"Shiiit ...! Masuk!!!" Reino mendadak kesal.


"Permisi, Tuan." Alvin muncul dari balik pintu yang dia buka dan menunduk memberi hormat.


"Ada apa?" Kekesalan Reino bertambah setelah mengetahui yang mengetuk pintu adalah Alvin.


"Tuan Vino Adyatama ingin bertemu, beliau sedang menunggu di luar, Tuan..."

__ADS_1


"Suruh dia masuk!"


"Baik, Tuan!" Alvin segera berlalu dan menutup kembali pintu ruangan Reino.


"Mau apa dia kemari?" Reino bergumam.


Setelah beberapa saat, Vino masuk dengan senyum manisnya, pria itu mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan Reino, apalagi kalau bukan mencari sosok Venus.


"Silahkan duduk! Ada kepentingan apa sampai kau mendadak datang tanpa membuat janji sebelumnya?" Reino bertanya dengan nada dan raut wajah datar.


"Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat dan singgah sebentar." Vino menjawab dengan santai tanpa rasa berdosa.


Reino menaikkan sebelah alisnya, memandang Vino dengan tatapan ambigu. Dia merasa ada yang aneh dengan rekan bisnisnya yang satu ini, baru dia orang yang berani menemui Reino di kantor tanpa kepentingan.


Sudah jelas tujuan Vino datang untuk menemui Venus bukan Reino, tapi mana mungkin dia nekad berbicara jujur.


"Apa aku mengganggumu?" Vino memastikan kehadirannya tidak mengganggu waktu CEO muda yang super sibuk itu.


"Tidak!" Bibir Reino menjawab dengan singkat. Namun hatinya berkata lain dan terus mengumpat kedatangan Vino.


Tentus saja kau mengganggu bodoh!


Kau pikir aku pengangguran yang tak punya kerjaan?


"Dimana asistenmu itu?" Vino memberanikan diri untuk bertanya, karena hatinya sudah sangat penasaran.


Ok fix, sampai disini Reino mengerti maksud dari kedatangan Vino, ternyata pria ini ingin bertemu istrinya. Kenapa banyak sekali pria yang tertarik kepada Venus?


Apa gadis itu terlalu mempesona?


Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak memenuhi ruang dikepala Reino, membaur bersama emosi dan rasa cemburunya.


***


Kali ini author kasih visualnya Alvin ya ...


Jangan lupa dukung terus karya author ya...


Biar makin semangat up nya...


Alvin


__ADS_1


__ADS_2