
Venus sedang sibuk memasak bersama koki dan pelayan di dapur, sementara Vino, Alvin dan Robby hanya memperhatikannya dari kejauhan sambil mengobrol.
"Jadi sekarang kau tidak bekerja lagi di perusahaan Reino?" Pandangan Vino tertuju kepada Alvin.
"Tidak! Aku pengangguran sekarang." Alvin tersenyum getir.
"Kalau begitu, bergabunglah di perusahaanku. Kau bisa menjadi asisten pribadiku." Ucap Vino.
"Benarkah? Aku mau!" Alvin girang bukan main mendengar tawaran Vino.
Robby dan Vino hanya tersenyum melihat Alvin.
"Vin ... apa kau menyukai Adikku?" Vino bertanya dengan wajah yang serius. Mendadak tawa riang Alvin memudar berganti dengan raut ketegangan.
"Hmm ... ke ... kenapa anda bertanya seperti itu?" Alvin menjadi gugup.
"Kau selalu menemani Venus selama aku di rumah sakit, kau menjaganya. Dan kau rela mengorbankan pekerjaanmu demi Adikku. Aku tahu kau melakukan semua itu bukan tanpa alasan." Vino memandang dengan tatapan menyelidik.
"Hmmm ... sejujurnya, iya aku menyukainya. Tapi aku cukup tahu diri kok, aku nggak akan berharap lebih, bisa berada di dekatnya saja aku sudah senang." Alvin tertunduk malu.
"Dekatilah Adikku jika kau menyukainya."
"Apa ...? Tapi dia sudah bersuami. Aku nggak ingin di anggap pebinor!" Wajah Alvin mendadak cemas.
"Apa itu pebinor?" Vino merasa asing dengan kata itu.
"Perebut bini orang."
"Bahasa apa itu? Aku baru mendengarnya!" Vino nengerutkan dahinya, merasa bingung sendiri.
"Itu bahasa anak sekarang." Ucap Alvin diselingi senyum samar.
Ya, ampun ... ternyata kau kurang pergaulan, itu saja nggak tahu.
"Oh ...! Siapa bilang kau akan menjadi perebut istri orang? Venus akan segera berpisah dari Si Berengsek itu, lagi pula suami macam apa yang menyembunyikan istrinya dari keluarga kandungnya, bahkan dia menikahi adikku karena ingin menjadikannya tumbal bukan karena mencintainya." Vino merasa geram kembali mengingat perlakuan Reino.
"Apa Venus akan berpisah darinya? Saya rasa Venus mencintai Tuan Reino." Alvin merasa ragu dengan kata-kata Vino.
"Cinta ...? Kalaupun Adikku tidak ingin berpisah darinya, aku akan tetap memisahkan mereka! Aku nggak bisa terima perlakuan mereka kepada adikku!" Vino semakin emosi.
"Vino, kau tidak boleh egois! Kau belum mendengar penjelasan darinya, dia pasti punya alasan melakukan semua itu. Lagi pula, jika benar Venus mencintai suaminya, apa kau tega membuat Adikmu bersedih jika harus berpisah darinya? Cobalah mengalah demi kebahagiaan Adikmu, Vin." Robby yang sedari tadi hanya mendengarkan saja, kini ikut bersuara.
__ADS_1
"Tapi mereka hanya akan menyakiti Adikku, Om! Aku nggak rela, aku harus menjauhkan Adikku dari orang-orang jahat itu!" Vino yang tak bisa mengontrol emosinya, segera menjalankan kursi rodanya menuju kamar. Dia merasa lebih baik menghindari perdebatan ini, dari pada emosinya semakin memuncak.
"Dari kecil dia sangat tegas dan keras kepala jika sudah memutuskan sesuatu, dia nggak akan menarik ucapannya lagi. Itulah yang membuatnya bertahan dan berhasil menjalankan perusahaan ini." Robby menatap nanar kepergian keponakannya itu.
"Dia nggak salah, Tuan. Itu naluri seorang Kakak yang ingin melindungi adiknya, dia begitu karena sangat menyayangi Venus." Alvin menghela nafas pelan, dia sungguh memahami apa yang Vino rasakan.
***
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 20.00 malam, itu pertanda sudah waktunya makan malam. Meja makan sudah penuh dengan aneka macam makanan yang di masak oleh Venus, aromanya sungguh menggugah selera.
Robby, Venus dan Alvin sudah duduk di kursi meja makan, tapi Vino sepertinya masih merajuk karena perdebatan tadi, dia masih enggan keluar dari kamar.
"Ya, ampun ... aku lupa!" Venus menepuk dahinya saat dia teringat sesuatu.
"Ada apa?" Robby dan Alvin serentak bertanya.
"Aku lupa menyiapkan makanan penutupnya." Venus segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
"Sudah tidak apa-apa! Suruh koki saja yang membuatnya!" Robby berusaha mencegah gadis itu, tapi setali tiga uang dengan Vino, Kakak beradik ini sama-sama keras kepala.
"Tidak apa, Om! Aku akan membuatnya sebentar."
Robby hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keponakan cantiknya itu.
"Maaf, Tuan ... tamu anda sudah datang!" Ucap seorang pengawal yang datang dari luar rumah.
"Ya sudah, aku akan menyambutnya." Robby bangun dari kursinya dan melangkah menuju pintu utama.
Seorang pria paruh baya dan seorang pria muda masuk ke dalam rumah Vino, Robby menyambut keduanya dengan senyuman ramah.
"Selamat datang Johan! Dan selamat datang Reino Brahmansa!" Robby mengulurkan tangannya ke hadapan Reino dan Johan.
Mata Reino membulat sempurna saat melihat Robby, dia ingat betul siapa Robby yang pernah dia temui di rumah sakit itu.
"Jadi kalian berteman? Kenapa Paman mengajakku kesini?" Reino mendadak curiga.
"Kenapa kau panik begitu? Dia teman sekolahku, sudah lama kami tidak bertemu. Aku hanya ingin kau berkenalan dengannya saja." Johan merangkul pundak Robby.
"Tidak ... aku tidak panik! Aku hanya terkejut saja." Reino menjadi gugup. Sejenak dia terdiam mencoba mencerna semua ini.
Dia Omnya Vino, itu berarti dia juga Omnya Venus. Dan informasi yang kudapat, Vino tinggal bersama Omnya. Atau jangan-jangan ini rumah Vino? Apa Venus juga ada disini? Kenapa kebetulan sekali?
__ADS_1
"Hey ... kenapa kau melamun begitu?" Robby menepuk pundak Reino, sehingga membuat pria tampan itu tersentak kaget.
"Hmm ... tidak apa-apa!"
"Kalau begitu mari silahkan masuk, kita langsung ke meja makan, aku sudah sangat lapar." Johan menggiring Johan dan Reino menuju ruang makan.
Venus masih sibuk menyiapkan makanan penutupnya dengan di bantu Alvin, mereka berdua memakai celemek dan terlihat sedang serius menyiapkan makanan sehingga tidak menyadari kedatangan Johan dan Reino.
Dari meja makan bisa terlihat jelas ke arah dapur, hati Reino seperti mencelos keluar saat melihat Venus bediri dengan begitu dekat dengan Alvin. Mendadak hatinya menjadi panas, rasa cemburunya mulai naik sampai ke ubun-ubun. Dari tatapannya sungguh jelas terlihat bahwa dia sangat tidak menyukai kedekatan mereka.
"Mari silahkan! Semua ini keponakanku yang memasaknya." Robby memepersilahkan Johan dan Reino untuk menyantap makanan yang terhidang di atas meja makan. Johan segera menyendokkan makanan ke dalam piringnya.
Sementara Reino hanya diam menatap tajam ke arah Venus dan Alvin dengan rahang yang mengeras. Ingin sekali dia menarik istrinya itu agar menjauh dari mantan sekretarisnya.
"Aaaww ...!" Venus memekik kesakitan saat tanpa sengaja jarinya teriris pisau.
"Kau terluka!" Alvin segera meraih jari Venus yang terluka dan berdarah.
Reino yang melihat semua itu segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan cepat menghampiri gadis itu, Johan dan Robby sampai terkejut melihat aksi Reino.
"Menjauhlah kau dari istriku!" Reino mendorong kuat tubuh Alvin hingga membentur tembok. Johan terperangah melihat Reino menyebut Venus adalah istrinya.
Alvin dan Venus terkejut bukan main melihat sosok Reino yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Kau ...? Kenapa kau bisa ada disini?" Venus kebingungan melihat suaminya yang sedang cemburu tingkat tinggi. Dia memandang Johan dan Robby bergantian.
"Tolong ambilkan kotak P3K!" Reino memerintah pelayan yang ada disitu, lalu segera menarik Venus dari dapur, tanpa memperdulikan pertanyaan gadis itu.
"Hey, lepaskan dia!"
Sontak semua orang melihat ke arah seseorang yang membentak Reino itu.
***
Yang tadi gambarnya gak bisa dibuka, ni author kirim ulang, kadang-kadang NT suka gitu lah ...😂
Silahkan lihat lagi...
__ADS_1