Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 24


__ADS_3

Hari hampir pagi, Liana masih belum sadar dari pingsannya, sepertinya wanita itu benar-benar syok karena ketakutan.


"Jangan ... jangan ganggu aku!!!" Liana berteriak-teriak mengigau.


Diana yang tertidur di samping wanita itu sampai tersentak kaget karena teriakannya.


"Tante .... Tante bangun!" Diana menggoyang-goyangkan tubuh Liana.


"Lepaskan aku!!!" Liana reflek menepis tangan Diana.


"Tante, ini Diana! Tante sadarlah!" Diana tak putus asa, dia terus menggoyang-goyangkan tubuh Liana ,sehingga wanita itu pun akhirnya tersadar.


"Diana .... Tante takut!" Liana langsung menghambur memeluk Diana setelah dia membuka matanya.


"Tante kenapa sih?" Diana penasaran.


"Tante melihat wanita itu." Ucap Liana masih dalam pelukan Diana.


"Wanita mana, Tan?" Diana semakin penasaran.


"Venus .... Tante melihat Venus!"


"Apaaaaa? Tante, wanita itu sudah mati, Tante sendiri yang meyakinkan aku dipemakaman waktu itu." Diana merasa tak percaya, ini sungguh nggak masuk akal.


"Tante nggak bohong, Di. Tante melihatnya keluar dari kamar tadi malam, bahkan dia sempat mengetuk pintu kamar Tante." Liana mulai terisak.


"Jadi maksud Tante, Venus jadi hantu? Dia gentayangan?" Wajah Diana mulai berubah takut.


"Iya, dia ingin balas dendam."


"Apa ...?!" Diana terperangah mendengar kata-kata Liana.


"Tante takut sekali, Di." Liana semakin terisak, tubuhnya bergetar karena menangis.


"Tante, tenanglah!" Diana mengusap pelan punggung Liana.


Ada sedikit rasa takut di hati Diana, tapi dia juga sulit untuk percaya, dizaman seperti ini, apakah hantu itu benar-benar ada?


Tapi lamunannya buyar ketika suara Reino mengagetkannya.


"Mama, kenapa? Apa yang terjadi? Ina mengatakan bahwa Mama pingsan tadi malam." Reino yang baru datang langsung masuk ke kamar Liana tanpa permisi, dia sangat khawatir kepada Mamanya itu.


"Mama takut, Rein."


"Takut apa?" Reino menautkan kedua alisnya.


"Hantu Venus ... wanita itu gentayangan dirumah kita." Liana beralih memeluk putranya itu.


"Itu cuma halusinasi Mama saja, Venus sudah tiada." Reino meyakinkan sambil membalas pelukan Liana, wanita itu pun terlihat lebih tenang didalam pelukan Reino.


"Tapi Mama benar-benar melihatnya dengan mata kepala Mama sendiri."


"Coba nanti aku lihat di CCTV, aku akan memastikan apa yang Mama lihat sebenarnya."


"CCTVnya mati dan semua rekaman di hapus, Boy sudah memeriksanya semalam." Diana berbicara dengan nada datar, sepertinya gadis itu sedikit kesal kepada Reino.

__ADS_1


"Apaaaa ...? Bagaimana mungkin? Apa itu juga termasuk ulah hantu?" Reino menampilkan raut wajah tak percaya.


"Lihatlah, Rein ... hantu itu melakukannya!" Liana semakin merinding takut.


"Ya sudah, Mama banyak istirahat, aku akan memeriksa apa yang terjadi." Reino mengeratkan pelukannya dan mengelus lembut punggung Mamanya. Seketika suasana hening sejenak, sampai suara Diana merubah mood Reino menjadi buruk.


"Kau pergi kemana semalam? Aku bahkan tidak bisa menghubungimu." Diana bertanya dengan tatapan menyelidik.


"Sejak kapan kau harus tahu semua urusanku?" Reino berbicara tanpa memandang Diana, gadis itu hanya tertunduk malu sekaligus geram mendengar jawaban Reino.


"Rein, jangan begitu! Sebentar lagi Diana akan menjadi istrimu, dia berhak tahu semua urusanmu." Liana melepaskan pelukannya dan memandang Reino dengan mata yang basah dan sembab.


Reino hanya terdiam tak berniat untuk menjawab perkataan Mamanya itu, karena menjawab pun hanya sia-sia.


"Permisi, saya membawakan sarapan untuk Nyonya." Ina tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Ya, sudah ... kalau begitu Mama sarapan dulu ya? Aku mau ganti pakaian dan ke kantor." Reino berlalu dari kamar Liana dan tersenyum samar saat melewati Ina.


***


Beberapa saat kemudian, Reino sudah selesai mengganti pakaiannya. Dia meminta semua pengawal dan pelayan berkumpul.


"Sebenarnya apa yang terjadi dirumah ini?" Reino berbicara dengan nada tegas, membuat semua pengawal dan pelayannya tertunduk takut.


"Apa kalian sudah bosan bekerja disini? Kenapa kalian tidak becus menjaga rumah ini dan penghuninya? Katanya Mamaku melihat hantu Venus berkeliaran dirumah ini, kenapa kalian membiarkannya?" Kata-kata tegas Reino itu berhasil membuat semua orang bingung sekaligus merinding.


Erik hanya melirik Tuan Mudanya itu dan menahan tawa dibibirnya.


Apa yang katakan Tuan Muda?


Kalau pun mereka bertemu dengan hantu, kau pikir apa yang akan mereka lakukan selain membiarkannya.


Ada-ada saja!


"Dan aku dengar CCTV mati dan semua rekaman terhapus, bagaimana itu bisa terjadi?


Apa mungkin hantu bisa melakukannya?" Reino kembali membuat semua pengawal dan pelayan bingung dengan apa yang terjadi.


"Tapi Tuan, itu memang benar terjadi, CCTVnya memang mati ketika saya cek semalam." Boy memberanikan diri untuk bicara, dia tahu Reino sedang menyindirnya. Karena semalam dialah yang memeriksa CCTV itu.


"Bagaimana bisa? Kenapa setiap kejadian selalu CCTV dalam keadaan mati? Sebenarnya ada apa ini?" Reino mengerutkan dahinya seolah sedang berpfikir. Lalu matanya menangkap sesuatu ditangan kanan Boy, ada sebuah luka robek yang masih terlihat basah.


"Kenapa dengan tanganmu?"


"Haa ... anu ... ini cuma luka, Tuan." Boy menjadi gugup dan menyembunyikan tangannya yang terluka itu ke belakang badannya.


"Dasar bodoh! Aku juga tahu itu luka, tapi kenapa? Apa bisa luka itu tiba-tiba ada ditanganmu tanpa sebab?" Reino memandang malas Boy.


"Ma ... maaf, Tuan! Tangan saya terluka karena jatuh di kamar mandi." Boy semakin gugup dan tertunduk menyembunyikan wajah takutnya.


"Ada-ada saja kau ini! Nanti aku akan memanggil Kenan untuk mengobati lukamu itu sebelum membusuk dan kau akan kehilangan tanganmu." Reino menatap tajam Boy, membuat pengawalnya itu semakin menciut.


"Tidak ... tidak usah, Tuan! Saya sudah mengobatinya." Boy menolak.


"Sejak kapan kau berani menbantahku?" Reino semakin menajamkan tatapannya, membuat Boy akhirnya pasrah.

__ADS_1


"Maaf, Tuan! Baiklah." Boy mengangguk pelan, walaupun hatinya merasa geram karena sikap sombong Reino itu.


"Kalian bisa kembali bertugas!" Reino membubarkan semua pengawal dan pelayannya.


***


Erik melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pria itu fokus mengemudikan mobilnya membelah jalanan dipagi hari.


"Kau sudah melakukan tugasmu?"


"Sudah, Tuan." Erik menjawab tanpa menoleh Reino dan masih fokus mengemudi.


"Kalau begitu antarkan aku ke rumah Kenan, aku sedang malas bekerja hari ini." Reino menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil lalu menutup matanya.


"Tapi, Tuan ...bukankan Anda baru dari sana semalaman?" Erik melirik Reino dari kaca spion di depannya.


"Apa aku menggajimu untuk protes?"


"Tidak, Tuan! Maaf ...!" Erik kembali fokus mengemudi dan mengehela nafas pelan.


Hey, Tuan Muda berhentilah bertingkah konyol seperti ini.


***


Setibanya dirumah Kenan, Reino langsung masuk kerumah sahabatnya itu tanpa permisi, Kenan yang melihat kedatangan Reino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Wah, sepertinya kau senang sekali berkeliaran di rumahku?" Kenan menyindir Reino yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kerumahku sekarang juga! Aku punya kerjaan untukmu!" Reino memerintah Kenan tanpa memperdulikan sindiran sahabatnya itu.


"Hey, belum cukup kerjaan yang kau berikan padaku ini?" Kenan menggerutu kesal.


"Diam dan lakukan!"


"Apa yang harus hamba lakukan, Tuan Muda yang terhormat?" Kenan yang kesal kembali meledek Reino.


"Obati luka ditangan pengawalku yang bernama Boy, dan kau tau apa tugasmu selanjutnya kan?" Reino menatap lekat netra hitam Kenan, sejenak tatapan mereka terkunci dan saling membagi pikiran.


"Apa aku harus melakukannya? Merepotkan saja!" Kenan mengalihkan pandangannya.


"Pastikan kau mengerjakannya dengan baik atau kukubur kau hidup-hidup. Sudah sana!" Reino mengancam Kenan, membuat Erik memutar bola matanya saat mendengar ulah majikannya itu.


"Iya ... iya ...!!! Selalu saja mengancam!" Kenan berlalu membawa peralatan medisnya dengan wajah yang masam.


"Dan kau, awasi terus gerak gerik mereka!" Reino memerintah Erik.


Sementara dirinya masuk ke salah satu kamar dirumah Kenan dengan senyum yang mengembang.


***


Untuk yang minta visualnya, ni author kasih visualnya Reino dulu...


Kalau votenya banyak, author kasih lagi visualnya Venus.


Jangan lupa like dan votenya ya sayang akuh...

__ADS_1


Reino Brahmansa



__ADS_2